pendidikan

Pendidikan Yang Mencerdaskan

Tidak mudah untuk menentukan akar masalah yang ada di dunia pendidikan Indonesia saat ini. hal ini dikarenakan kompleksnya permasalahan yang ada pada pendidikan di Indonesia.sehingga saya membatasi permasalahan yang ada di dunia pendidikan di Indonesia saat ini. Menurut saya permasalahan tersebut adalah:

1. Sistem kurikulum yang memberatkan siswa dan menitikberatkan pada kemampuan kognitif saja (cognitive oriented).

2. Infrastruktur penunjang proses pendidikan seperti sarana pendidikan (perpustakaan, buku, laboratorium dan aspek penunjang lainnya) serta kualitas dan kompetensi pendidik yang belum baik.

3. Belum tercapainya pemerataan dalam pendidikan, terutama di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

4. Pendidikan yang mahal

Beberapa hal yang diseubtkan di atas adalah beberapa permasalahan pendidikan di Indonesia. Seperti yang diketahui pendidikan adalah mekanisme efektif dalam mensosialisasikan berbagai macam nilai dan melatih beberapa keterampilan kepada para siswa dan mempersiapkan mereka sehingga ketika terjun di masyarakat dapat berkontribusi secara maksimal. Idealnya, pendidikan harus dapat menyentuh semua warga negara yang ada di republik ini, seperti yang telah jelas diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) pasal 31 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Pasal tersebut telah jelas menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Akan tetapi apakah Pasal 31 UUD 1945 telah terimplementasi secara nyata? Menurut Penulis melihat saat ini kita masih terjebak pada pelaksanaan pendidikan secara formal saja dan masih belum menyentuh aspek substansial pendidikan. Kita masih terjebak pada indikator keberhasilan pendidikan berdasarkan nilai dan tidak pada proses pendidikan yang membudayakan siswa sebagai generasi yang dipersiapkan untuk memajukan negara ini ke depan. Sistem pendidikan yang berorientasi pada kognitif saja niscaya tidak akan dapat membuat siswa siap untuk terjun menghadapi permasalahan yang ada di masyarakat. Padahal salah satu fungsi pendidikan adalah mekanisme yang efektif dalam penanaman nilai dan pelatihan kemampuan-kemampuan yang berguna ketika mereka terjun sebagai anggota masyarakat. bagaimana hal ini akan berhasil jika penitikberatannya hanya pada aspek kognitif saja? sehingga masalah pertama pendidikan di Indonesia adalah pada masalah sistem kurikulum yang memberatkan siswa pada kemampuan kognitif saja.

Permasalahan kedua adalah Infrastruktur penunjang proses pendidikan seperti sarana pendidikan (perpustakaan, buku, laboratorium dan aspek penunjang lainnya) serta kualitas dan kompetensi pendidik yang belum baik. Menurut Paulston dan Le Roy krisis pendidikan formal terjadi dalam dua aspek yaitu krisis fungsional dan krisis logistik. Tentu hal tersebut telah menjadi permasalahan klasik dalam dunia pendidikan. Infrastruktur penunjang untuk menciptakan pendidikan berkualitas tentu mutlak diperlukan dalam proses pendidikan. Bagaimana siswa dapat mendapatkan pengetahuan yang baik jika kualitas dan kompetensi pendidik (guru) belum baik. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu: (1) kompetensi pedagogik,  (2) kepribadian, (3) sosial, dan (4) profesional.. Jika kompetensi tersebut ada pada para guru niscaya tujuan pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan tercapai. Selain itu guru tidak hanya dituntut memiliki keempat kompetensi di atas, tetapi guru idealnya adalah mereka yang mampu mencerahkan dan mencerdaskan. Sosok guru seperti apakah itu? Menurut penulis guru yang mencerdaskan dan mencerahkan adalah guru yang mampu memberikan inspirasi yang tak pernah habis kepada para siswa. Guru yang menginspirasi adalah oase di tengah padang pasir. mereka, selain memberikan ilmu pengetahuan sesuai kompetensinya juga tak lupa memberikan semangat kepada siswa agar tidak pernah lelah mengejar mimpi-mimpinya dalam meraih pendidikan yang baik. Guru tidak boleh terjebak pada proses labeling kepada siswa yang pada akhirnya membuat siswa tidak bersemangat dalam belajar.

Permasalahan ketiga adalah belum tercapainya pemerataan dalam pendidikan, terutama di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Indonesia terdiri dari gugusan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tentu bukanlah hal yang mudah bagi pemerintah untuk melakukan pemerataan pendidikan di setiap daerah. Tetapi bukanlah kerja yang sulit jika pemerintah bersungguh-sungguh dalam melakukan terus menerus secara berkesinambungan perbaikan-perbaikan baik dari segi sarana pendidikan maupun segi peningkatan mutu guru. pemerintah jangan terjebak pada peningkatan kuantitas lembaga pendidikan (sekolah) saja tetapi harus tetap melakukan perbaikan baik segi infrastruktur maupun struktur yang menunjang pemerataan pendidikan tersebut.

Permasalahan keempat adalah mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh siswa dan orang tua untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Untuk mereka yang memiliki dana pendidikan yang baik tentu dengan mudah mendapatkan sekolah yang baik pula. Yang jadi permasalahan adalah bagaimana mereka yang kurang beruntung? Pada akhirnya pendidikan hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kapital yang memadai bukan untuk mereka yang memiliki capital yang pas-pasan bahkan tidak memiliki kapital. Akhirnya muncul adagium, selain dilarang sakit, orang miskin dilarang sekolah. Pendidikan gratis yang didengungkan oleh pemerintah nyatanya belum teruji. Sekolah masih mahal dan milik mereka yang memiliki dana yang cukup. Idealnya harus ada sistem subsidi silang sehingga pendidikan yang baik bukan hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki dana tapi juga mereka yang tidak memiliki dana yang cukup. Selain itu diperlukan partisipasi dari lembaga di luar sekolah yang berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan pendidikan. Saat ini sudah banyak lembaga non pemerintahan seperti Bank, Lembaga Swadaya Masyarakat, perusahaan-perusahaan yang aktif dalam proses kegiatan untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Seharusnya pemerintah dapat menjaring lembaga-lembaga tersebut untuk bersinergi demi kemajuan pendidikan di Indonesia (pemberian beasiswa bagi siswa tidak mampu tetapi berprestasi, pembangunan gedung sekolah dan lain-lain).

Atas dasar permasalahan tersebut, maka rekomendasi yang saya ajukan adalah:

1. Perlunya sistem kurikulum yang tidak hanya memberikan penekanan pada kognitif saja. aspek afektif dan psikomotorik perlu diperhatikan. Ujian Nasional dilakukan untuk memetakan kemampuan siswa secara nasional saja, bukan menjadi alat ukur satu-satunya dalam penentuan kelulusan.

2. Peningkatan dan perbaikan infrastruktur pendidikan seperti kelengkapan buku, perpustakaan, komputer dan aspek penunjang lainnya di seluruh wilayah secara berkala dan terus menerus. Selain itu harus ada pelatihan-pelatihan dan pemberikan kesempatan kepada guru untuk terus meningkatkan kemampuannya baik itu berupa kursus-kursus atau kuliah yang dibiayai oleh pemerintah, sehingga guru terus terpacu dalam memberikan ilmu-ilmu yang relevan dan uptodate bagi siswa.

3. Adanya sinergi antara pemerintah dengan lembaga non pemerintah seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), bank, perusahaan-perusahaan untuk memajukan pendidikan. Hal ini dapat dilakukan melalui kerjasama-kerjasama misalnya pembangunan gedung baru, sumbangan alat dari lembaga-lembaga, pemberian kesempatan beasiswa bagi siswa yang kurang mampu. Diharapkan dengan demikian pemerintah dapat “lebih ringan” dalam memajukan pendidikan bangsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s