Televisi dan Pendidikan

Beberapa hari ini kita banyak disuguhkan oleh tayangan-tayangan televisi yang dalam konteks tertetu tidak memberikan pencerahan dan pencerdasan kepada masyarakat, khususnya bagi saya sebagai penonton. Mungkin tidak hanya saya saja yang haus tayangan yang sedianya menghibur dan mendidik, tapi seluruh masyarakat Indonesia sangat membutuhkan hal tersebut. Media televisi utamanya, dengan jangkauan yang luas dan ditonton seluruh lapisan masyarakat idealnya menjadi garda utama dalam proses pencerdasan bangsa. Tidak semua masyarakat dapat mengakses internet, membeli buku terbaru atau menikmati bacaan Koran setiap pagi. Akan tetapi hampir seluruh rumah memiliki akses untuk menonton televisi. Dapat dibayangkan apa yang terjadi pada ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan sehari-hari di rumah saja. Sehari-hari mereka disuguhkan tontonan yang hanya merepresentasikan bagaimana dunia selebritis disajikan sebagai sesuatu yang dianggap dekat dengan mereka, sinetron yang jauh dari pijakan nilai-nilai yang membumi, berita elit politik berebut kue kekuasaan bahkan berita kriminal yang sadis dan menyeramkan. Bayangkan saja, ibu-ibu rumah tangga yang idealnya adalah sekolah pertama bagi para anak-anaknya, lebih banyak mendapatkan informasi dari televisi yang mungkin saja apa yang mereka tonton itu jauh dari kehidupan sehari-hari. Pendidikan pola apa yang kemudian akan diberikan kepada anak-anak mereka jika misalnya ibu-ibu tersebut lebih sibuk menonton.

Melalui tayangan televisi beragam tayangan disuguhkan, konten yang ditampilkan beragam dan semua sisi ditampilkan. Dalam konteks tertentu misalnya tayangan infotaiment dianggap sebagai sesuatu yang menghibur, ketika masyarakat menginginkan suguhan mengenai artis idola mereka, bagaimana artis pujaan hati mereka ditayangkan. Mereka merasa dekat dengan artis idaman mereka. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri, ada bagian-bagia tertentu dari kehidupan artis idola mereka hanya menampilkan sisi-sisi yang tentu saja bukan kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan artis dibuat sedemikian rupa menjadi kehidupan yang dianggap sangat ideal, banyak yang mengidamkan untuk menjadi idola mereka, disorot publik setiap saat. Juga sisi selebritis yang tidak seharusnya diekspos dan menjadi konsumsi publik, tetapi dijadikan tontonan dan dengan renyah dibicarakan. Misalnya saja aib-aib para selebritas menjadi pembicaraan yang lazim di tempat umum, di saat ibu-ibu tersebut menunggu anak-anaknya yang sedang belajar di sekolah misalnya. Tentu saja bukan hanya ibu-ibu rumah tangga yang menikmati tayangan televisi tersebut. Misal ketika anda tidak bekerja dan tidak melakukan aktivitas lain di luar rumah, anda seharian diam di rumah dan menonton televisi. Tayangan yang menyuguhkan berita para selebritis bahkan dari pagi sudah ada. Pagi-pagi kita sudah disuguhi berita-berita yang sebenarnya bukan konsumsi publik, Kemudian disusul acara musik dengan ragam dan variannya (acara musik tersebut di satu sisi memberikan banyak kesempatan kepada para musisi untuk menampilkan kreativitasnya, tetapi yang miris adalah bagaimana anak-anak seusia sekolah banyak menjadi penonton, saya sering bertanya-tanya apakah mereka bolos sekolah?), acara sinetron yang sering kali tidak sesuai dengan kehidupan yang kita hadapi sehari-hari, belum lagi kebosanan kita melihat para politisi yang ternyata lebih jago berakting dibanding para aktor dan aktris di televisi.

Jika merujuk pada beberapa fakta tersebut konsep hegemoni yang dimunculkan oleh Antonio Gramsci dapat digunakan sebagai alat analisa fakta yang terdapat di masyarakat. Bagaimana televisi dapat digunakan untuk menunjukan kekuasaan dari suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya, bukan hanya pada masalah ekonomi dan politik saja, akan tetapi menunjukan kemampuan suatu kelas sosial yang dominan untuk memproyeksikan dan mempertunjukan bagaimana mereka memandang dunia, cara pandang mereka terhadap sesuatu. Sehingga pada akhirnya kelas yang terhegemoni akan mengikuti cara pandang yang dilakukan oleh kelas yang berkuasa sebagai sesuatu yang biasa. Kekhawatiran bersama adalah apabila terdapat masyarakat yang tidak secara bijak menyaring informasi yang mereka terima dari televisi. Tentu dapat saaja dapat dianggap sangat naif apabila saya memiliki pemikiran seperti itu di tengah semakin cerdasnya masyarakat dalam menyaring informasi yang mereka dapat, tetapi saya tetap merasakan kekhawatiran tersebut.

TVRI misalnya kalah pamor dengan televisi lainnya yang menampilkan pilihan tayangan yang lebih banyak. Padahal kalau dilihat tayangan di TVRI banyak menampilkan aspek-aspek yang mendidik. Walaupun pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, TVRI dianggap sebagai bagian dari media propaganda pemerintah. Tetapi, jika dilihat saat ini TVRI bisa saja menjadi media alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan suguhan tayangan televisi yang berbeda. Baru kemarin saja misalnya TVRI “dilirik” lebih banyak oleh masyarakat karena menyuguhkan tayangan Sea Games tanpa jeda Iklan. Akan tetapi setelah kegiatan akbar di tingkat Asia Tenggara tersebut selesai, kemudian TVRI kembali ditinggalkan. Atau misalnya alternatif lain dapat dirasakan dengan kehadiran Kompas TV. Kompas TV diharapkan menjadi media televisi inspiratif selalu memberikan pendidikan dan pencerahan bagi masyarakat.

Tentu saja tugas memberikan suguhan yang mendidik dan menghibur bukan hanya tugas televisi saja, tetapi juga tugas media lainnya. Mengapa televisi menjadi sorotan utama dalam tulisan saya semata-mata karena jangkauannya yang lebih luas pada beragam kalangan masyarakat. Menjadi harapan bersama agar media televisi semakin progresive dan mencerahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s