Politik Keadilan Sosial

Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely, adagium lama yang disampaikan Lord Acton beberapa abad yang lalu sepertinya masih diamini oleh para politisi di Indonesia. Setidaknya itulah yang kita saksikan beberapa waktu ini. Kekuasaan dapat membutakan siapa saja tak lihat latar belakang apa seseorang tersebut. Politik masih saja menyilaukan, terlepas banyak “wakil rakyat” yang tak kuat menanggung beban “kekuasaan” yang dinisbatkan kepadanya dan melakukan tindakan tidak amanah. Entah mengapa ketertarikan ke rimba politik yang buas masih menjadi magnet yang luar biasa besar yang menarik banyak orang untuk masuk.
Idealnya politik adalah jalan suci untuk perbaikan dan kemaslahatan umat. Sulit tentunya untuk mewujudkan hal tersebut, apalagi di tengah menguatnya pragmatisme yang melanda bangsa ini. Keuntungan jangka pendek yang dicari tanpa cita-cita untuk memakmurkan bangsa dan Negara. Tak jarang kita mendengar kabar bahwa dengan menjadi wakil rakyat maka mereka akan mendapatkan keuntungan yang luar biasa atau untuk mencari keuntungan semata. Padahal sebagai jalan suci politik harus ditempuh dengan pikiran dan tenaga yang bersih dari unsur kepentingan sesaat. Walaupun seperti yang kita ketahui bersama politik adalah bahasa kepentingan, tidak ada teman yang abadi, tidak ada lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan. Kepentingan yang menjadi fokus utama, bukanlah sesuatu yang haram, tetapi sejauh apakah kepentingan yang ‘abadi’ tersebut adalah untuk kemashlatan umat, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Peter Merkl misalnya menyatakan bahwa politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha untuk mencapai tatanan sosial yang baik dan berkeadilan, sedangkan dalam bentuk yang paling buruk adalah perebutan kekuasan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri. Argumen yang dinyatakan oleh Merkl ada benarnya ketika sebagian politisi lebih banyak terlibat pada perebutan kekuasaan, kedudukan dan kekayaan untuk kepentingan diri dan partai. ‘Atas nama rakyat’ adalah istilah yang selalu kita dengan menjelang pemilu, pengucapan tiap kampanye yang tanpa arti. ‘Atas nama rakyat’ hanya mempercantik spanduk, iklan, dan poster di kala kampanye. Setelah disumpah maka rakyat kembali ke posisi awal, tak tersentuh oleh kesejahteraan yang dijanjikan di masa kampanye. Bekerja untuk rakyat istilah yang muncul ketika kampanye dan akhirnya ketika sudah disumpah, maka rakyat yang harus bekerja untuk mereka.
Negeri ini rindu pemimpin cerdas dan bernas layaknya Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Agus Salim, M. Natsir, Soedirman, dan tokoh-tokoh pendobrak lainnya. Mereka yang rela meninggalkan kemapanan yang dapat mereka peroleh jika mereka tidak memperdulikan bangsa ini. Mereka yang rela hidup dalam pengasingan, dibuang, dipenjara, tinggal ditempat tidak layak tetapi tidak mundur selangkahpun membela republik yang mereka cita-citakan. Perdebatan cerdas yang mereka tampilkan pada masanya bahkan sampai saat ini masih terus diperdebatkan. Nilai dan fundamen kuat terus menancap di memori kolektif bangsa ini.
Jika di masa lalu tokoh-tokoh besar republik ini berdebat tentang ideologi negara, di era saat ini, sebagian politisi berdebat tentang proyek apa, di mana, kapan dan siapa yang mendapatkannya. Dagelan politik terus diperagakan setiap saat, topeng yang terbuka dengan jelas. Rakyat tentu tidak bodoh, dan tak bisa terus dibodohi. Aksi tipu-tipu dengan drama yang menjemukan dan kaset kusut yang terus diperdengarkan tidak akan laku lagi di masa depan. Toh dengan atau tanpa pemimpin, kamilah, rakyat yang terus diatas namakan oleh mereka yang duduk di kursi empuknya, tetap tersenyum, bangun setiap pagi dan siap untuk bekerja untuk negeri.

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: