Belajar Politik, Untuk Apa?

Generasi masa kini adalah generasi yang mendapat akses yang sangat luas dari dunia informasi. Banjir informasi terjadi setiap saat. Beragam isu menjadi hal yang tidak pernah habis dikupas dan dibahas. Idealnya dengan beragamnya informasi tersebut dapat menjadi asupan yang kaya bagi proses pembelajaran di sekolah. Dahulu, jika hendak mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan tugas sekolah, anak-anak pasti harus ke perpustakaan ataupun ke toko buku untuk mencari referensi yang dibutuhkan untuk melengkapi tugas tersebut.

Saat ini pun disamping mendapatkan informasi dari kegiatan tersebut anak-anak mendapat kemudahan melalui akses internet yang hadir setiap saat, bahkan ada di dalam saku dan genggaman mereka. Mereka dapat mengakses informasi melalui laptop, Tab, Ipad, Iphone, Blackberry dan perangkat lainnya. Tinggal klik “mang google”, beragam informasi minimal yang dibutuhkan sudah dapat mereka dapatkan. Sangat mudah dan cepat.

Lalu apakah dengan akses informasi tersebut pengetahuan minimal anak mengenai informasi aktual yang ada sudah memadai? Tentu saja tidak dapat dijawab dengan gamblang karena tiap anak memiliki kegemaran dan isu yang dianggap menarik oleh mereka. Bisa jadi ada anak yang menggemari isu sosial politik, olah raga, agama, teknologi informatika, ekonomi, hukum atau isu-isu lainnya sehingga kegemarannya adalah mengakses situs-situs yang menyajikan informasi-informasi tersebut. Selama hal positif yang mereka akses dari internet, hal tersebut akan memiliki kontribusi positif bagi pengembangan diri mereka.

Sayangnya anak-anak sekarang juga dibebani dengan tugas yang berat. Sekolah dimulai dari pagi (waktunya variatif) sampai sore hari. Pulang sekolah mereka harus mengikuti kursus, les, ekstrakurikuler, bimbingan belajar, ataupun kegiatan lainnya. Malamnya mereka harus mengerjakan tugas sekolah ataupun pekerjaan lainnya yang harus dipenuhi. Dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) misalnya.

Dengan beban materi yang cukup banyak dan waktu yang terbatas (2 jam perminggu) mereka harus merekam banyak informasi, memahami dan mempraktekkan pengetahuan yang mereka dapat. Contoh dalam materi Budaya Politik di kelas XI, materi budaya politik ini ingin menjabarkan bagaimana sebetulnya budaya politik yang ada di Indonesia, muaranya adalah bagaimana menciptakan budaya politik yang partisipatif. Untuk menciptakan masyarakat yang demokratis salah satu indikator pentingnya adalah melalui partisipasi yang aktif dari beragam kalangan, bukan hanya dari kalangan elit-elit politik yang duduk di partai politik ataupun jabatan politik tertentu.

Tentu saja anak-anak selain harus mampu memahami bagaimana budaya politik yang partisipatif ini, harus diawali dengan kemampuan mereka secara kognitif dahulu. Ada beberapa kesan yang saya mengajarkan materi ini. Misalnya, ketika ditanyakan apakah mereka menyukai kegiatan politik secara umum? Jawaban serentak mereka adalah rata-rata mereka tidak menyukai kegiatan yang “berbau politik”.

Mereka menyatakan bahwa kegiatan politik negeri ini sudah tidak memberikan contoh yang baik. Ketika saya menanyakan informasi umum, seperti struktur kenegaraan mereka masih mampu menjabarkannya dengan baik, tetapi ketika saya mulai menanyakan siapakah ketua DPR, DPR, MPR, MK, MA, KY atau Partai manakah yang memenangkan Pemilu Legislatif Tahun 2009 hanya beberapa orang saja yang “ngeh” dan mengetahui jawabannya. Yang lebih sedihnya lagi adalah ketika saya bertanya siapa yang tahu M. Natsir, Syahrir, Tan Malaka, Wahid Hasyim, dan tokoh lainnya? kebanyakan anak-anak hanya menggeleng dan bertanya siap mereka pak, hanya ada beberapa yang menjawab dengan ragu.

Apatisme di kalangan anak-anak remaja usia sekolah bisa saja semakin meningkat. Bagi sebagian anak bahkan merasa pengetahuan mengenai sistem politik, budaya politik, sistem hukum dan tata negara Indonesia bukanlah hal yang penting. Sekolah sebagai wahana sosialisasi politik tidaklah cukup, apalagi Guru PKn dalam hal ini yang memiliki keterbatasan interaksi dengan para peserta didik. Perlu ikhtiar yang kuat dari beragam elemen bangsa untuk dapat mengedepankan politik yang sehat dan figur politik yang mampu menjadi negarawan sekelas Bung Karno, Bung Hatta, M. Natsir, Tan Malaka dan negarawan yang dihasilkan oleh bangsa ini. Semoga saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s