Dunia Pendidikan, Harus Berubah!

Mengamati beberapa peristiwa yang terjadi beberapa hari ini di Indonesia, banyak hal yang membuat hati ini terasa teriris. Hal yang lebih menyedihkan adalah peristiwa yang terjadi di dunia pendidikan. Permasalahan Ujian Nasional (UN) dari tahun ke tahun ternyata setiap tahun malahan semakin bertambah. Ujian Nasional yang idealnya adalah untuk melakukan pemetaan bagi kualitas tingkat pendidikan nasional, malah menjadi ajang yang memalukan dunia pendidikan. Telatnya pengiriman soal UN ke beberapa provinsi di Indonesia, banyaknya berita kebocoran dan contekan soal UN, dan perilaku kecurangan lain yang terjadi secara sistematis tentu adalah kabar yang sangat buruk dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan, idealnya adalah tempat menempa negarawan-negarawan tangguh di masa datang. Jika melihat konteks sejarah masa lalu bangsa Indonesia, lewat sekolah-sekolah dan universitaslah lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang luar biasa punya semangat untuk memajukan republik ini.

Sebagai seorang guru yang terlibat dalam proses pendidikan secara langsung di sekolah, penulis sadar betul, sekolah sebagai institusi formal memiliki tugas yang maha mulia untuk melakukan pencerdasan dan pencerahan. Peserta didik yang belajar di sekolah adalah generasi yang disiapkan dan ditempa lewat proses akademik yang panjang. Pendidikan yang bermutu dan menginspirasi harus didapat oleh setiap anak bangsa yang bersekolah di republik ini, tanpa meliha siapa dan latar belakangnya. Tetapi kondisi ideal itu masih jauh dari harapan. Sekolah terjatuh pada pola produksi kelas pekerja yang nihil daya kritis. Walaupun sudah banyak ahli yang menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual bukan satu-satunya yang menjamin seseorang menjadi manusia yang berhasil di masa depan, tetap saja indikator penilaian akademik masih menjadi primadona. Penilaian bahwa anak yang berhasil jika memperoleh nilai akademik baik masih jadi pegangan banyak orang tua. Beberapa orang tua bahkan sangat merasa bangga apabila anaknya masuk kelas IPA, tanpa mengetahui bahwa sang anak sesungguhnya sangat tidak ingin masuk IPA. Akhirnya di kelas IPApun sang anak merasa kesulitan untuk mengejar ketertinggalan dari teman-teman lainnya. Di sekolah saya mendengan istilah IPA perjuangan. Guyonan ini muncul karena tidak semua anak yang masuk kelas IPA adalah anak yang memang memiliki keinginan kuat dan kapasitas yang baik dalam penguasaan ilmu eksakta. Kelas IPS menjadi pilihan kedua bagi orang tua. Prioritas pertama tetap Kelas IPA. Padahal kedua bidang keilmuan tersebut memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing dan harus saling melengkapi. Bukan karena tidak diterima di IPA, lalu masuk IPS dan akhirnya di kelas IPS pun sang anak mengalami kesulitan.

Banyak ahli dan tokoh yang menyatakan tentang pentingnya karakter bangsa. Karakter bangsa harus ditanamkan di sekolah. Sekolah menjadi tempat bagi internalisasi nilai-nilai yang membuat peserta didik menjadi memahami keimanan masing-masing, sosok yang mandiri, pribadi yang kreatif, dan memiliki kecerdasan pada masing-masing keilmuan. Ujian Nasional, dengan beragam format yang sudah dicobakan dan diubah polanya setiap tahun dengan harapan peningkatan kualitas pendidikan, menurut saya masih belum membuktikan bahwa standar pendidikan Indonesia meningkat. Tentu jika hanya UN saya tolok ukurnya. Tahun ini misalnya dengan adanya 20 tipe soal yang ada dalam satu ruangan, toh bukan malah mengurangi perilaku curang, tapi malah menghasilkan tindakan-tindakan curang yang lebih canggih lagi. Jika perilaku curang terjadi di dunia pendidikan, tak dapat di bayangkan bagaimana tindakan tidak sportif dan jujur ini terjadi di beberapa tempat lainnya. Lalu di mana lagi ruang bagi kejujuran jika lembaga pendidikan sebagai wahana pembentukan karakter malahan tidak memiliki karakter? Dunia pendidikan harus berbenah dan berubah, jika tidak mau 50 tahun ke depan, nama Indonesia hanya menjadi catatan sejarah saja!

 

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: