Guru Inspiratif

Ada benarnya nasehat orang orang suci

Memberi itu terangkan hati

Seperti matahari

Yang menyinari bumi

 

Kata-kata di atas adalah potongan lirik dari lagu Iwan Fals yang berjudul Seperti Matahari. Seperti yang kita ketahui, lagu-lagu yang diciptakan oleh Iwan Fals selalu menginspirasi siapapun yang mendengarkannya. Jika direnungi lebih dalam, apa yang ditulis oleh bang Iwan dalam lagu tersebut dapat diamini kebenarannya. Lalu memberi seperti apa yang mampu tenangkan hati? Tentu setiap yang mendengarkan akan memiliki tafsir sendiri akan teks lirik tersebut. Bagi saya, yang setiap hari waktu saya dihabiskan di sekolah untuk mengajar, maka memberi yang menenangkan hati adalah memberikan ilmu yang terbaik bagi setiap peserta didik. Berusaha sebaik mungkin untuk terus memberi inspirasi bagi mereka. Berat memang menjadi seorang guru yang memberikan inspirasi. Karena inspirasi bukanlah sesuatu yang dengan mudah diberikan, perlu proses dan tahapan sehingga inspirasi dapat disebarkan oleh seorang guru. Dan saya sendiri merasa belum sampai kepada maqam, guru yang menginspirasi.

 

Ada banyak sosok yang mampu memberikan inspirasi bagi bangsa ini, dan figur tokoh seperti inilah yang dibutuhkan bangsa ini untuk dapat berlari kembali setelah sekian lama terseok-seok. Dari deretan nama-nama dari dunia pendidikan tentu setiap orang mengenal sosok Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau KI Hajar Dewantara, sosok lengkap, figur seorang guru yang juga politisi, penulis, pengkritik, jurnalis dan budayawan yang luar biasa. Sosok yang menginspirasi setiap guru di republik ini. Menanggalkan gelar kebangsawanannya karena ingin dekat dengan rakyat, mendirikan Taman Siswa, peletak dasar-dasar pendidikan nasional, dan kemudian dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ki Hajar tentu tidak pernah menginginkan gelar kehormatan Bapak Pendidikan Nasional, tidak mengharapkan penghormatan-penghormatan. Tetapi, karena jasanya yang tidak ternilai bagi republik ini khususnya di dunia pendidikan, namanya senantiasa harum dan menginspirasi siapapun khususnya yang bergerak di dunia pendidikan.

 

Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan) adalah ajaran Ki Hajar yang mesti ada dalam karakter seorang guru. Guru yang selalu bersiap untuk menghadapi peserta didik dengan keteladanan sifat dan sikap, kreatifitas tanpa batas, dan intelektualitas yang mumpuni. Karakter yang seperti itulah yang perlu dimiliki seorang Guru, bukan guru yang merasa benar sendiri dan sudah merasa besar sehingga tak pernah mau meningkatkan kemampuan dan kompetensinya.

 

Tunjangan lebih baik, mulai dari sertifikasi, perbaikan gaji, ataupun tunjungan khusus yang diberikan oleh Pemerintah bagi guru yang sudah tersertifikasi atau belum bukanlah satu-satunya alasan bagi guru untuk lebih bersikap profesional. Tentu dalam logikaberpikir rasional, peningkatan kesejahteraan akan berdampak positif bagi peningkatan kualitas guru di Indonesia. Guru sebagai garda depan pelaksaan pendidikan di sekolah memang selayaknya mendapatkan apresiasi yang memadai. Bukan saja dari aspek material seperti gaji dan tunjangan-tunjangan lainnya, tetapi juga dari aspek lain seperti kesempatan mengikuti pelatihan, melanjutkan ke jenjang akademik yang lebih tinggi dan aspek penunjang peningkatan prestasi lainnya. Sayangnya di republik yang kita cintai bersama ini, suara guru seperti senyap terdengar. Ketika ada rencana perubahan kurikulum, maka yang lebih dominan ditanyakan adalah para pakar, intelektual dan akademisi, kalauupun ada hanya beberapa guru saja yang dimintai pendapat. Ganti kurikulum dengan beragam beban yang diberikan kepada guru, tetapi guru sendiri tidak mendapatkan upgrade pengetahuan dan nilai-nilai yang memang diinginkan oleh kurikulum baru. Sehingga banyak terjadi, ketidaksiapan, kecanggungan dalam pelaksanaan kurikulum baru. Dan akhirnya yang disalahkan adalah guru, dianggap tidak kompeten dan tidak sesuai.

 

Guru yang mampu seperti matahari, adalah guru yang diharapkan, guru yang tak henti-henti menginspirasi setiap peserta didik untuk melakukan lompatan-lompatan intelektual dan hal-hal positif yang tidak terbayangkan sebelumnya. Semoga para guru di Indonesia dapat menjadi matahari-matahari di tiap-tiap sudut kegelapan bangsa ini.

 

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: