Politik dan Kebangsaan

Menimbang Pemimpin 2014

Kami membutuhkan pemimpin-pemimpin yang terinspirasi dengan idealisme, pemimpin-pemimpin yang dianugerahi visi-visi besar, yang memimpikan hal-hal besar dan berusaha keras mewujudkan impian mereka, yang mampu menerangi rakyat dengan api yang datang dari jiwa mereka yang membara. (Theodore Roosevelt)

Membaca ungkapan Roosevelt beberapa dekade yang lalu membuat saya termenung. Pemimpin yang memiliki idealisme, visi besar, berusaha mewujudkan impian, dan menyejahterakan rakyat pasti dihasilkan dari suatu proses panjang. Ungkapan dari Roosevelt ini saya baca dari buku karangan John A. Barnes yang berjudul Pelajaran dan Warisan Seorang Presiden, John F. Kennedy on Leadership. Buku yang sebenarnya sudah sama saya beli tapi belum pernah saya baca. Tentu banyak yang mengenal sosok John F. Kennedy maupun Roosevelt, dua pemimpin besar yang menginspirasi banyak kalangan. Tentu sebagai pemimpin kedua tokoh ini pun tidak selalu sempurna. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kontribusi yang telah dilakukan oleh kedua tokoh tersebut bagi bangsanya.

Lalu proses panjang seperti apakah yang membuat banyak pemimpin besar mampu menginspirasi dan berbuat banyak untuk rakyatnya? Sebagai seorang guru, saya dapat menjawab dengan lantang bahwa salah satu hal yang memiliki kontribusi besar bagi pembentukan karakter tangguh seorang pemimpin adalah melalui proses pendidika. Lalu proses pendidikan seperti apa yang mampu menghasilkan karakter tangguh calon pemimpin masa depan? Hal inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama. Karakter kepemimpinan tentu tidak hanya dapat muncul di ruang-ruang akademik dan mimbar-mimbar diskusi saja. Tapi dalam sejarah kepemimpinan nasional khususnya pada periode kepemimpinan awal di Indonesia mereka yang menjadi founding father adalah pemimpin yang teruji secara akademik, debat mimbar diskusi dan aksi nyata dalam masyarakat.

Menurut saya pemimpin masa depan yang diharapkan oleh bangsa ini adalah pemimpin yang mampu membawa optimisme dan kembali meyakinkan rakyat bahwa Indonesia akan menjadi negara besar. Indonesia saat ini menurut saya, diibaratkan sebagai raksasa besar yang tertidur dengan pakaian yang kebesaran. Dengan “pakaian” yang dimiliki yaitu Sumber Daya Alam yang melimpah ruah, Sumber Daya Manusia yang canggih, Kapasitas Industri yang luar biasa, letak geografis yang strategis, kekuatan militer yang besar. Akan tetapi itu semua hanya jadi “pakaian” yang ternyata tak pas. Tak pas karena para penjahit dan kreatornya sibuk mengambil masing-masing aspek demi kekuasannya masing-masing. Padahal jika semua dimaksimalkan dengan baik. Indonesia akan jadi raksasa dengan pakain perang terbaik dan tidak akan dilecehkan oleh siapapun.

Kembali pada aspek kepemimpinan, banyak buku yang sudah mengulas seperti apakah pemimpin ideal yang seharusnya. Banyak indikator yang disampaikan, kalau menggunakan indikator yang disampaikan oleh Roosevelt bahwa pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang punya idealisme, visi besar, berusaha mewujudkan impian, dan menyejahterakan rakyat. Setiap pemimpin yang mecalonkan diri, berkampanye tentu akan selalu berteriak bahwa semuanya dilakukan demi rakyat bukan demi kekuasaan. Tetapi ketika sudah masuk dalam lingkaran kekuasaan maka semua argument, jargon kampanye hilang dalam senyap. Kesejahtreraan rakyat menjadi pemanis setiap kampanye tanpa ada realisasi.

Demokrasi di Indonesia memang mahal, sehingga para calon pemimpin yang memiliki kapital ekonomi akan memiliki peluang yang besar karena mahalnya biaya demokrasi yang harus dikeluarkan. Akan tetapi, kemudian tidak jaminan seseorang yang memiliki kapital ekonomi yang memadai bisa memimpin Pemimpin besar bukanlah pemimpin karbitan yang mentang-mentang ia punya salah satu kapital yaitu kapital ekonomi ia bisa berbuat semaunya dan mendapatkan apa yang diinginkan. Walaupun kecenderungan kondisi politik di Indonesia masih cenderung memenangkan calon yang memiliki kapital ekonomi yang besar.

Sesungguhnya masih banyak stok yang memadai untuk memimpin negeri ini. Mulai dari para akademisi, pengusaha, birokrat, aktivis partai dan dari elemen masyarakat lainnya. Walaupun sayangnya figur yang dimunculkan tidak jauh dari muka lama yang masih berkeinginan untuk memimpin di 2014. Kita butuh banyak figur yang dimunculkan agar semakin banyak alternatif. Dalam konteks tersebut media massa memiliki peranan yang signifikan dalam memunculkan figur alternatif. Figur yang muncul tanpa iming-iming pencitraan, tanpa polesan konsultan politik, tanpa sokongan iklan politik yang membosankan dan mahal. Kita butuh figur pemimpin yang dicintai rakyat dan mencintai rakyat dengan sepenuh hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s