Pemimpin Yang Dicintai

Rabu sore kemarin, 13 Maret 2013, sambil menunggu Istri selesai mengajar, saya iseng (sebenarnya bukan iseng, tapi memang doyan) menikmati Soto Madura atau SoMad di daerah Bukit Duri. Bagi yang tinggal di sekitar Bukit Duri mungkin tidak asing dengan Somad ini. Kalau saya amati, dari pagi sampai sore biasanya SoMad selalu ramai dengan pembeli. Sambil menungu pesanan tiba, ada pembeli lain yang memesan dan kemudian mulai membuka obrolan. Dia bertanya kepada pedagang SoMad tersebut, “sejak kapan jalanan dicor?” Pedagang SoMad kemudian menjawab bahwa jalanan dicor dari minggu lalu. Si pembeli bertanya kembali, “ini proyek pemerintah atau swadaya masyarakat?”, si pedagang lalu menjawab bahwa jalanan tersebut merupakan proyek pemerintah. Entah mengapa tiba-tiba si pembeli mengkaitkan perbaikan jalan tersebut dengan kinerja Jokowi-Ahok. Dari percakapan yang dilakukan oleh pembeli dan pedagang SoMad saya bisa menangkap bahwa ada kekaguman terhadap sosok Jolowi dan Ahok. Bahwa sebagai pemimpin, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI periode 2012-2017 ini begitu dicintai. Mereka sangat menghargai kesungguhan Jokowi-Ahok dalam menata Jakarta yang kompleks dengan permasalahan yang entah dari mana harus diselesaikan.

Tentu argumentasi dari obrolan antara pembeli dan pedang SoMad tersebut didasari oleh kenyataan bahwa mereka mendapatkan banyak hal yang bisa diharapakan dari sosok Jokowi dan Ahok. Sosok yang dengan segala keterbatasannya berusaha membawa angin perubahan bagi Jakarta. Pagi tadi, sebelum berangkat mengajar, saya juga menonton di salah satu stasiun televisi tentang kegembiraan warga Salemba yang beberapa waktu lalu mengalami musibah kebakaran ketika dikunjungi Jokowi. Dengan raut muka yang sedih karena harta bendanya hilang dilalap si jago merah, ada pancaran kebahagiaan ketika mereka didatangi oleh pemimpin yang mereka cintai. Demikian pula ketika beberapa waktu yang lalu terjadi banjir di beberapa wilayah DKI. Kedatangan kedua tokoh ini sedemikian dinanti.

Lalu apa yang membuat sosok Jokowi dan Ahok sebegitu fenomenalnya? Begitu ditunggu kehadirannya oleh masyarakat Jakarta, begitu dicintai oleh media, sehingga hampir setiap hari dari stasiun televisi menampilkan wajah Jokowi yang terlihat lelah tapi sumringah, sosok kerempeng tapi begitu kharismatik? Tentu sudah sangat banyak analisis yang mencoba menjelaskan hal tersebut. Tapi satu hal yang pasti adalah bahwa kedua pemimpin ini membawa harapan, angin perubahan bagi Jakarta yang lebih baik dan lebih manusiawi. Perhatian mereka terhadap kalangan yang secara finansial tertindas dan subordinat juga menjadi nilai khas tersendiri bagi sosok kepemimpinan kedua tokoh ini. Jika melihat gaya kepemimpinan yang ditampilkan bahwa warga Jakarta pada umumnya menyukai tipikal pemimpin yang terbuka, jujur, dan perduli terhadap penderitaan masyarakat. Berlebihankan sikap sebagian warga Jakarta terhadap Jokowi dan Ahok? Tentu ini perlu pemikiran yang lebih panjang untuk menjelaskan. Yang jelas, satu hal yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia secara umum dan Warga Jakarta secara khusus adalah pemimpin yang dapat memberikan harapan-harapan perbaikan ke depan, bukan pemimpin yang menjanjikan harapan palsu.

Dalam sejarah panjang kepemimpinan dunia, tokoh pemimpin yang dikenang dalam artian diapresiasi dengan positif adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, menghargai rakyatnya dan mengayomi sepenuh hati tanpa merasa mereka memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh rakyatnya. Atau bahkan merasa bahwa rakyat adalah bawahan mereka yang perlu menaati dan menjalankan peraturan tanpa ada penjelasan apapun. Siapa yang tak kenal Nabi Muhammad, Sidharta Gautama, Isa Alaihi Salam, Bunda Teresa, Mahatma Gandhi, Umar Bin Khatab, Umar bin Abdul Azis dan tokoh-tokoh inspiratif lainnya. Tokoh yang dikenang karena kesederhanaannya dan kepeduliannya terhadap mustad’afin, mereka yang lemah baik secara ekonomi, dan lemah secara politik. Nama mereka tak pernah habis diceritakan dalam konteks sejarah dan dideskripsikan secara panjang oleh banyak buku sejarah.

Tentu berlebihan jika menyandingkan sosok Jokowi dan Ahok dengan tokoh-tokoh yang saya sampaikan tersebut. Tokoh-tokoh di atas telah melalui serangkaian ujian mahadasyat dan teruji oleh sejarah panjang kehidupan manusia. Jokowi dan Ahok tentu manusia biasa yang levelnya jauh berbeda dengan tokoh-tokoh tersebut. Akan tetapi Jokowi dan Ahok akan selalu terkenang dalam catatan sejarah Jakarta sebagai pemimpin besar jika mereka secara konsisten melaksanakan program yang diniatkan tanpa ada niat hanya untuk pencitraan. Oleh karena itu program-program kerakyatan yang diinisiatori oleh Jokowi dan Ahok harus terus dikawal secara kritis oleh masyarakat. Jangan sampai kita terjebak pada pemujaan tanpa daya kritis. Mereka manusia biasa yang tak jauh dari kesalahan. Sikap kritis masyarakatlah yang memungkinkan peranan para pemimpin negeri ini menjadi lebih maksimal. Sikap kritis yang realistis tanpa rasa nyinyir dan kekhawatiran akan adanya perubahan yang mengganggu kenyamanan. Rakyat tentu saja membutuhkan banyak pembuktian dari Jokowi dan Ahok bahwa memang sesungguhnya mereka berjuang untuk rakyat dan kesejahteraan bersama. Semoga kita tak kehilangan harapan.

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: