Rindu Kalian Para Pejuang Tangguh

Beberapa waktu lalu, saya menemukan buku yang sangat inspiratif, buku karangan Ahmad Suhelmi yang berjudul Polemik Negara Islam, Soekarno vs Natsir. Buku yang sudah sangat lama karena merupakan skripsi dari Ahmad Suhelmi sewaktu menjadi mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia tahun 1988. Buku yang saya baca ini merupakan revisi dari buku yang diterbitkan pada tahun 2002.

Yang menjadi menarik bagi saya adalah bagaimana kegigihan kedua tokoh ini dalam memperjuangkan apa yang menurut mereka benar, dengan argumentasi yang logis dan nalar yang dapat dipertangungjawabkan. Argumentasi kedua tokoh ini dilengkapi oleh kayanya referensi literatur, bukan karena kepentingan politis semata. Bagaimana keduanya memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menguasai bahasa-bahasa asing, karena dengan penguasaan bahasa asing yang baiklah mereka mampu memahami karya-karya ilmuan asing. Penguasaan yang dilakukan karena proses belajar yang otodidak. Keduanya dalam waktu relatif sangat belia sudah sangat terasah kemampuan akademis dan tentu saja jiwa aktivisnya. Polemik mereka mengenai Islam dan Politik kenegaraan bahkan menjadi perdebatan yang sangat luar biasa. Di samping perbedaan-perbedaan pandangan antara kedua tokoh ini, satu kata yang menjadi persamaan adalah keinginan keduannya membebaskan masyarakat dari kolonialisme Belanda. Aturan yang diskriminatif, perlakuan yang sangat tidak manusiawi dari Belanda adalah hal-hal yang sangat mereka benci.

Ketika membaca buku ini, konsentrasi saya bukanlah pada konsep siapakah yang paling benar, tapi yang muncul adalah kerinduan terhadap kegigihan baik Soekarn, Natsir maupun para founding Fathers republik ini. Rata-rata yang berjuang berasal dari kalangan keluarga yang terpelajar, keturunan bangsawan, mengenyam pendidikan barat. Dengan predikat tersebut sebetulnya mereka mendapat kehidupan yang layak dibandingkan dengan masyarakat di nusantara pada masa itu. Tapi mereka tetap saja mau berjuang untuk negara yang mereka cita-citakan hadir di masa yang bahkan “mungkin” tidak diketahui kapan akan berdiri.

Jika direfleksikan dengan kehidupan Negara Indonesia saat ini, atau dalam konteks singkatnya pada tataran politik negeri ini, sangat jarang saya lihat para elit politik yang mencontoh perilaku para negarawan-negarawan tangguh yang menjadi pionir kemerdekaan Indonesia. Keseriusan dalam berjuang, kehebatan dalam melalui masa-masa sulit, kesederhanaan seperti hilang dari wajah politik bangsa ini. Entah siapa yang anutan para politisi kita dalam berpolitik. Agama yang dianut hanya menjadi hiasan yang indah didengungkan jika ada kepentinggan yang ingin diraih. Agama bahkan saat ini menjadi komoditas yang diperdagangkan demi kepentingan politik pragmatis semata. Bukan demi agama, bangsa dan negara, tetapi demi kekuasaan semata. Perdebatan politik saat ini diwarnai oleh intrik-intrik yang tidak ada habisnya. Generasi muda hilang model negarawan sejati. Apatisme kalangan anak muda cenderung meningkat.

Ketika belajar Pendidikan Kewarganegaraan di kelas misalnya, pada saat ditanyakan sejauh mana ketertarikan mereka dalam permasalahan kenegaraan atau dalam konteks politik, rata-rata mereka menyatakan bahwa mereka tidak tertarik dan tidak perduli terhadap masalah-masalah tersebut. Padahal salah satu ciri terjadinya modernisasi budaya politik adalah perluasaan peran masyarakat dalam partisipasi politik. Anak-anak remaja calon pemimpin bangsa idealnya menjadi individu-individu yang memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap rasa kebangsaannya. Partisipasi mereka sangat dinantikan demi masa depan Indonesia yang lebih cerah. Saya sering nyatakan di kelas, jika kalian enggan berpartisipasi aktif, lalu apakah kalian rela yang menangani permasalahan negara ini adalah orang-orang yang tidak punya kecintaan terhadap bangsa dan negara, yang hanya mementingkan urusan kekuasaan saja.

Saya selalu optimis bahwasanya generasi bangsa selanjutnya adalah individu-individu tangguh yang mampu memperjuangkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang menjadi inspirasi bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Perjuangan yang tidak mudah tetapi juga bukan hal yang mustahil jika seluruh elemen masyarakat mau terus berusaha.

 

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: