Selamat Jalan Pak Taufiq

Mungkin momen menuliskan tulisan ini sudah lewat, tetapi saya masih merasakan bahwa saya harus menuliskannya. Sabtu, 8 Juni pukul 19.00 kemarin seorang tokoh nasional Taufiq Kiemas meninggal. Saya termasuk orang yang tidak mengenal seorang Taufiq Kiemas dengan baik. Yang saya ketahui hanya profil umumnya saja bahwa Taufiq Kiemas adalah politisi PDIP, Ketua MPR RI periode 2009-2014 dan suami dari Megawati Soekarno Putri. Mungkin bukan hanya saya yang mengetahui profil seorang Taufiq Kiemas secara minimal tetapi beberapa orang di sekitar saya juga merasakan hal yang saya rasakan.

Ketika Taufiq Kiemas dilantik menjadi Ketua MPR RI beberapa tahun yang lalu kesan yang saya dapatkan adalah beliau terlihat tidak siap ketika membaca teks pidato pertamanya sebagai Ketua MPR. Saya melihat beliau sangat lelah pada saat membacakan teks pidatonya. Kesan tersebut masih tertanam sampai saat ini. Kesan lainnya adalah ketika ia menyatakan bahwa SBY kekanak-kanakan, itu juga teringat sampai sekarang.

Ketika menjabat sebagai Ketua MPR RI beliau adalah orang yang sangat gigih memperjuangkan dan mensosialisasikan 4 pilar ke masyarakat secara luas. Untuk kalangan anak-anak di lingkungan sekolah menengah atas yang saya ketahui ada Lomba 4 Pilar. Sebagai Guru Pendidikan Kewarganegaraan saya mengetahui itu, walaupun sekolah saya tidak pernah mengikuti lomba tersebut. Istri saya yang guru juga sudah dua tahun mengikuti kegiatan lomba tersebut. Mengapa saya ungkapkan, hal yang mengesankan bagi saya adalah ketika istri saya bercerita bahwa salah satu peserta didiknya yang mengikuti lomba tersebut berkata bahwa jika ia dan teman-temannya lolos sampai tingkat Nasional ia ingin berfoto bersama dengan Taufiq Kiemas. Sayangnya mimpi sang anak berfoto bersama tidak tercapai karena Taufiq Kiemas saat ini sudah berpulang ke Sang Pencipta.

Minggu kemarin, saya mengikuti betul prosesi pemakaman beliau mulai dari kedatangan jenazah di Bandara Halim sampai proses pemakaman di TMP Kalibata. Pada beberapa televisi ditampilkan bagaimana ramainya masyarakat yang ikut hadir dalam prosesi pemakaman beliau. Kemudian beberapa tokoh yang dekat dengan beliau pun memberikan testimoni ketika diwawancarai oleh awak media. Ketika melihat banyaknya tokoh yang hadir saya baru mengetahui bahwa banyak orang yang mencintai dan menghormati seorang Taufiq Kiemas. Tokoh yang hadir lintas partai, lintas aliran pemikiran, bahkan lintas negara. Semuanya memberikan penghormatan terakhir bagi Taufiq Kiemas. Dari wawancara dengan Budiman Sujatmiko ternyata Ayah taufiq Kiemas adalah seorang Masyumi dan Ibunya berasal dari Partai Murba. Sedangkan seperti yang diketahui bersama Taufiq Kiemas adalah seorang yang sangat mencintai Soekarno. Dalam karir politiknya Kiemas dikenal sebagai salah satu politisi senior di PDIP. Dalam beberapa testimoni dengan beberapa tokoh yang mengenalnya, saya menangkap bahwa Kiemas adalah komunikator politik yang hebat, pecinta Pancasila, dan sangat memperhatikan kader-kadernya terutama kader muda. Ada beberapa tokoh muda seperti Jokowi, Ahok, Ganjar dan beberapa politisi lainnya yang mengakui bahwa Kiemas adalah salah satu tokoh yang mendorong mereka untuk terus mengabdi bagi bangsa dan negara melalui jalur politik. Dan terbukti untuk beberapa saat ini PDIP adalah salah satu partai yang memiliki banyak kader muda potensial.

Ada tokoh bijak yang bilang bahwa kita tak bisa memilih lahir dari keluarga mana tetapi kita bisa memilih mati sebagai apa. Terakhir seperti yang diungkap oleh Budiman bahwa Taufiq Kiemas seseorang yang melalui tahapan yang sesuai dengan perjalanan seseorang yang mencintai negaranya. Ketika mahasiswa menjadi aktivis, kemudian menjadi politisi, dan meninggal dalam posisi sebagai negarawan. Siapa saja dapat memperdebatkan itu, tetapi yang pasti adalah cita-cita Taufiq Kiemas meninggal ketika melaksanakan tugas terlaksana. Seperti yang diberitakan dibeberapa media, 1 Juni yang lalu ia baru saja datang ke Ende dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila, ideologi negara yang sangat dicintai dan dibelanya. Karena kelelahan akhirnya beliau harus melakukan pengobatan dan akhirnya dalam perjuangannya ia harus dipanggil menuju haribaan Allah SWT. tidak semua orang memiliki kemewahan meninggal dalam rangka menjalankan tugas. Selamat Jalan Pak Taufiq.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s