Siapakah Manusia Indonesia?

Siapakah orang atau manusia Indonesia itu?
Apakah dia memang ada?
Di mana dia?
Seperti apakah tampangnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan kita semua, sebagai manusia Indonesia. Pertanyaan itu juga yang mengusik Mochtar Lubis sehingga pada pembukaan bukunya Manusia Indonesia, ia pun mengawali dengan mempertanyakan pertanyaan tersebut. Seperti apakah sesungguhnya manusia Indonesia itu? apakah gagah seperti Arjuna dan Gatot Kaca, atau cantik seperti Srikandi. Jadi seperti apakah manusia Indonesia sesungguhnya. Tentu saja sulit untuk memastikan jawaban yang tepat mengenai manusia Indonesia sesungguhnya.

Mochtar Lubis dalam bukunya menyatakan bahwa ada beberapa ciri manusia Indonesia. Ciri dari manusia Indonesia adalah hipokritis atau munafik, segan bertanggung jawab atas perbuatannya, jiwa feodal, percaya tahayul, artistik, watak yang lemah atau karakter yang tidak kuat. Beberapa hal tersebut adalah ciri manusia Indonesia yang disampaikan oleh Mochtar Lubis tersebut.

Tentu saja kita boleh setuju atau tidak setuju akan pemaparan yang disampaikan oleh Mochtar Lubis tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Jakob Oetama dalam pengantarnya bahwa stereotif yang disampaikan oleh Lubis tidak seluruhnya benar, dan tidak seluruhnya salah. Menurut Jakob stereotif tersebut bermanfaat sebagai pangkal tolak serta bahan pemikiran serta penilaian secara kritis. Sosok manusia Indonesia yang ditampilkan oleh Lubis juga menurutnya lebih kuat lagi relevansinya dan aktualiasnya saat ini.

Tulisan Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban) adalah ceramah dari Mochtar Lubis yang di sampaikan pada tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, jika dihitung dari ukuran tahun tentu saja sudah 34 tahun yang lalu ceramah “provokatif” ini disampaikan.

Ketika ceramah ini disampaikan banyak tokoh yang kemudian merasa terusik, tergelitik bahkan merasa tergugat akan apa yang disampaikan oleh wartawan-budayawan ini sehingga muncul tulisan-tulisan yang merupakan tanggapan-tanggapan dari apa yang disampaikan oleh Lubis. Tanggapan tersebut antara lain berasal dari Psikolog Sarlito Wirawan Sarwono, Margono Djojohadikusumo, Wildan Yatim, Abu Hanifah, dan beberapa lainnya. Masing-masing mengeluarkan argumentasinya untuk membahas pidato yang disampaikan oleh Lubis, dan kemudian Lubis pun memberikan tanggapan atas tulisan yang disampaikan.

Kemudian apa sebenarnya relevansi dari pidato yang disampaikan oleh Lubis 34 tahun yang lalu pada realitas kekinian? Jika kita secara cermat menyaksikan peristiwa kekinian tentu apa yang disampaikan oleh Lubis seolah-olah mendapatkan pembenaran. Dapat disaksikan saat ini permasalahan-permasalahan banyak melanda, seperti beberapa kasus korupsi yang banyak menimpa mulai dari level bawah sampai level atas, minimnya contoh yang baik dari para pemimpin, rendahnya ikatan kebangsaan, rendahnya daya saing Indonesia di kancah dunia, hukum yang mudah dipermainkan dan berpihak kepada penguasa, rakyat yang belum tersejahterakan dan permasalahan-permasalahan lainnya.

Negara ini telah menjauh dari kondisi ideal yang menjadi tujuan bersama. Padahal secara lantang pembukaaan UUD 1945 menyatakan tujuan negara Indonesia mulai dari melindungi, mensejahterakan, mencerdaskan, menjaga ketertiban dunia dengan berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Apa yang secara jelas termaktub di dalam pembukaan UUD 1945 seolah hanya menjadi sebuah tulisan yang hanya dibacakan ketika upacara setiap hari senin atau upacara kemerdekaan tanpa dijadikan pedoman setiap kalangan untuk dilaksanakan secara maksimal.

Potrem buram bangsa ini seolah sudah melekat mendarah daging. Seperti sulit untuk mendapatkan optimisme ketika rasa pesimisme menjalar secara massif ke dalam setiap elemen masyarakat. Sedikit saja isu dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab secara mudah banga ini mudah diprovokasi. Rajutan bangsa ini sangat mudah dikoyak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Citra manusia Indonesia yang ditampilkan secara tidak langsung sudah dibenarkan oleh sikap bangsa ini yang cenderung hipokrit, tidak mau bertanggung jawab dan tipifikasi lainnya yang disampaikan oleh Lubis. Bangsa ini membutuhkan pemimpin minim bicara tapi kaya kinerja. Pemimpin yang dapat bergerak cepat dan tepat.

Tentu saja kita tidak mau tipologi yang disampaikan Lubis memang adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri dan memang benar adanya. Akan tetapi kondisi yang disampaikan Lubis seolah-olah masih nyata terlihat beberapa waktu ini, citra manusia yang korup, tidak mengindahkan norma, penuh kekerasan. Sebuah potret yang seharusnya tidak ada dalam wajah manusia indonesia.

Lantas apa yang harus dilakukan agar tipologi yang disampaikan oleh Lubis tidak benar adanya? tentu pembuktian keras bukan hanya sebatas pembuktian di atas kertas melalui perdebatan yang tak pernah selesai. Tentu saja perdebatan ini tidak akan berakhir, akan selalu timbul perdebatan-perdebatan seperti apa sebenarnya manusia Indonesia sesungguhnya. Tentu pertanyaan ini harus dijawab oleh kerja nyata dan cerdas oleh kita manusia Indonesia sekarang dan masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s