Politik dan Kebangsaan

Terima Kasih Pemilukada DKI

Euforia Pemilukada DKI membawa angin positif bagi demokratisasi di Indonesia. Demikian pula yang saya rasakan ketika mengajar PKn di kelas sehari menjelang Pemilukada dan satu hari setelah Pemilukada. Banyak anak yang bertanya kepada saya, “Pak, siapa pilihan bapak besok? Jokowi-Ahok atau Foke-Nara?” atau “Pak, akhirnya Jokowi menang ya pada penghitungan cepat?”. Kebetulan materi yang sedang dipelajari adalah materi mengenai Budaya Politik. Keingintahuan anak-anak mengenai proses politik yang terjadi pada Pemilukada DKI pun meluap-luap, mereka menjadi tertarik pada kegiatan politik praktis yang terjadi di DKI. Pada hari ini misalnya, pembelajaran yang dilakukan adalah diskusi kelompok, saya memberikan opini ataupun berita yang saya ambil dari kompas.com untuk mereka diskusikan. Ada 5 materi yang harus mereka diskusikan. Materi pertama adalah mengenai “Korupsi Kepala Daerah Cermin Kegagalan Kaderisasi Partai”, Materi kedua mengenai “Musik Dangdut bisa Menjadi Alat Mobilisasi Politik”, materi ketiga mengenai “Demokrasi vs Efisiensi”, materi keempat mengenai “Parpol Tidak Percaya Diri”, dan materi kelima mengenai “Kaderisasi di Parpol Gagal”.

Mereka masing-masing saya beri waktu 30 menit untuk mendiskusikan materi yang didapat oleh kelompok masing-masing, dan kemudian diberikan waktu 7 menit untuk mempresentasikan hasil diskusi dan analisis kelompok. Dari hasil diskusi tersebut munculah beragam ide dan gagasan, juga beragam kritik terhadap proses politik yang mereka saksikan selama proses Pemilukada DKI. Ada juga beberapa anak yang sama sekali tidak perduli sama sekali terhadap Pemilukada yang berlangsung. Akan tetapi sebagian anak serius mendiskusikan tema-tema yang mereka bahas. Ketika saya tanya apakah sebagian anak memiliki hak pilih ketika Pemilukada kemarin. Semua anak di kelas yang saya ajar hari ini menyatakan tidak memiliki hak pilih. Tetapi ketertarikan mereka pada Pemilukada DKI cukup tinggi, mungkin karena pemberitaan di media yang begitu gencar yang mengakibatkan mereka memiliki pengetahuan yang memadai mengenai isu-isu Pemilukada yang ada.

Di usia 16-17 tahun mereka idealnya sudah punya pengetahuan awal yang memadai mengenai proses politik yang sedang berjalan. Minimal mereka sudah mengetahui salah satu hak dan wewajiban bagi warga Negara yang sudah berusia 17 tahun adalah menunaikan haknya untuk memilih pimpinan yang dapat melaksanakan aspirasi mereka. Muara awal dari PKn sebetulnya adalah pendidikan politik paling dasar bagi para peserta didik agar mereka mengetahui hak dan kewajibannya. Peserta didik harus mampu memiliki orientasi politik baik itu kognitif, afektif ataupun evaluatif seperti yang disampaikan oleh Almond dan Verba. Dalam pembelajaran PKn kemampuan kognitif dilihat dari seberapa jauh mereka menguasai konsep-konsep dasar dari sistem politik ataupun sistem kenegaraan di Indonesia. Pemahaman mengenai konsep dasar inilah yang kemudian menjadi bekal dasar bagi para peserta didik untuk memiliki orientasi afektif dan akhirnya adalah penguasaan mereka dalam melakukan analisis-analisis pada kasus-kasus atau kejadian-kejadian politik kontemporer. Dalam diskusi yang berlangsung penguasaan terhadap konsep-konsep yang sudah dipelajari dihadapkan pada permasalahan-permasalahan real yang ada di masyarakat, sehingga mereka dapat memperkaya wacana yang sudah ada sebelumnya.

Pemilukada DKI menjadi laboratorium pembelajaran yang sangat luar biasa. Munculnya banyak calon baik yang diusung oleh partai maupun independen memunculkan asa baru, bahwa stok pemimpin Indonesia masih banyak. Pertarungan dua calon pada putaran kedua kemarin pun demikian, walaupun dalam proses kampanye masih banyak diwarnai oleh kampanye negatif bahkan kampanye hitam dalam konteks tertentu demokrasi di Jakarta sudah cukup memberikan pembelajaran yang luar biasa. Hasil hitung cepat memunculkan Jokowi-Ahok unggul dibanding pasangan Foke-Nara. Suguhan akhir yang sangat baik bagi pembelajaran demokrasi adalah ketika Foke menelpon langsung Jokowi dan menyatakan selamat atas kemenangan Jokowi berdasarkan hasil hitung cepat. Demikian pula Jokowi yang menyatakan bahwa jangan terjebak pada euphoria semu, karena kemenangan ini sesungguhnya amanah yang berat.

Jika melihat ilustrasi tersebut sebenarnya ada banyak harapan tentang keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Demikian pula dalam proses pembelajaran di kelas misalnya, peserta didik sebetulnya memiliki banyak kemampuan yang luar biasa, walaupun terkadang adrenalin mereka yang masih menggebu-gebu malah termanfaatkan untuk hal yang kurang positif seperti selalu merasa tidak betah di kelas dan belajar berlama-lama. Keinginan membaca buku pun masih kurang optimal. Hal tersebut merupakan PR yang harus diemban bersama. Bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang baik dan berkualitas tanpa kehilangan ruh menyenangkan. Try and error yang harus terus dilakukan agar pada akhirnya menemukan format ideal pembelajaran yang mumpuni. Pembelajaran yang mampu mencetak generasi pembelajar dan bibit pemimpin masa depan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s