It’s Not About Money

Beberapa hari ini terjadi kegaduhan di ruang publik. Isu utama yang muncul adalah kenaikan BBM dan masalah penetapan APBN Perubahan (APBNP). Saya bukan orang yang memahami ekonomi secara baik, sehingga jika bicara hitungan mana yang lebih baik BBM naik atau tidak saya tidak dapat menjelaskan dengan baik. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa kegaduhan selalu terjadi ketika harga BBM hendak dinaikan. Jauh sebelum BBM disahkan untuk naik, kegaduhan sudah sangat terasa. Tahun lalu misalnya harga BBM hendak dinaikan dan pada akhirnya tidak jadi. Apa efek bagi masyarakat? Yang saya tahu, secara psikologis hal tersebut sudah terasa terutama bagi ibu-ibu yang setiap hari berbelanja kebutuhan dapur. Belum harga BBM naik beberapa barang sudah naik. Juga bagi beberapa perusahaan yang harus menaikan biaya operasional bagi kegiatan usahanya sampai gaji pegawai. Dan di salah satu lembaga legislatif, tempat terhormat itu di mana hajat orang banyak diputuskan, ternyata yang marak hanya dagelan politik. Sidang Paripurna menjadi atraksi yang terkadang norak dari beberapa anggota legislatif yang haus akan publisitas. Seringkali saya tidak haqqul yakin dengan argumentasi yang disampaikan oleh mereka, bahwa mereka mengatas namakan rakyat.

Masing-masing pihak pasti beranggapan bahwa pilihannya adalah tepat. Argumentasi pihak yang setuju naik BBM dan pihak yang tidak setuju justru menurut saya sangat penting bagi proses pendidikan politik masyarakat. Sesungguhnya bukan naik atau tidak naiknya yang penting bagi masyarakat. Jika naik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ya masyarakat pasti akan mendukung penuh. Kalau naik hanya menimbulkan kesengsraan dan bertambahnya rakyat miskin maka untuk apa. Iklan yang setiap hari ditampilkan di televisi mengenai pentingnya kenaikan BBM untuk meningkatkan subsidi menurut saya malahan memberikan kesan bahwa pemerintah selama ini tidak tepat dalam mengluarkan kebijakan. Jika dari awal pemerintah bilang naik dan tegas disampaikan kenapa harus naik pasti masyarakat akan menerima. Proses kenaikan tersebut bukan hasil negosiasi antara partai tapi memang karena kepentingan bersama tentu itu yang diharapkan. Yang ramai di media saat ini adalah proses tersebut merupakan nego alot agar masing-masing partai mendapat jatah. Tentu menyedihkan jika hal tersebut memang yang benar-benar terjadi.

Para wakil rakyat adalah representasi dari partai politik yang mendapat jatah kursi secara nasional. Jika merujuk pada salah satu fungsi partai sebagai sarana pendidikan politik tentu apa yang ditampilkan dalam proses paripura sebetulnya dapat menjadi sarana mendidik rakyat, sayangnya hal tersebut belum difungikan seara memadai. Perilaku emosional, debat kusir yang tidak substantif, serta argumentasi tanpa data masih ditampilkan dalam debat publik baik di parlemen maupun di televisi. Apalagi setiap paripurna media nasional selalu memiliki perhatian besar bahkan sampai live dan disaksikan oleh masyarakat Indonesia di seluruh penjuru nusantara. Jejak mereka diperhatiakn oleh seluruh masyarakat indonesia yang sudah sangat cerdas. Sesungguhnya masyarakat sudah jengah, bahkan merasa bahwa ada atau tidak ada pemerintah mereka bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terlalu tendensius jika menyerang lembaga negara secara sporadis karena secara individu, masih ada wakil rakyat yang tulus bekerja untuk rakyat tanpa sorotan media dan publikasi yang memadai.

Saya yakin sesungguhnya para wakil rakyat tersebut sadar bahwa rakyat menonton dan memperhatikan sepak terjang mereka, tetapi mereka lupa bahwa apapun jenis pencitraan yang coba ditampilkan tidak akan membekas di hati rakyat jika itu hanya dikreasikan tanpa datang dari karakter yang sesungguhnya. Jika berpikir elektabilitas maka sesungguhnya tidaklah perlu kampane jor-joran, cukup memanfaatkan amanah yang dipegang (jika sudah terpilih) maka rakyat tidak perlu diiming-imingi uang untuk memilih. Tak perlu lah ongkos politik yang mahal untuk membujuk rakyat untuk memilih. Secara psikologis masyarakat memilih calon yang mumpuni dan mampu membawa perubahan yang substantif.

Seperti yang diungkapkan dalam lagu Price tag yang dibawakan Jessie J Ft. B.o.B, its not about the money money, we dont need your money money. Wahai para politisi yang terhormat, bukan uang yang kami butuhkan, tetapi kesungguhan dan kerja keras kalian untuk masyarakat.  Jauh-jaauh hari bang Iwan Fals mengungkapkan dalam syair lagunya, saudara dipilih bukan dilotre, meski kami tak kenal saudara, kami tak sudi memilih para juara, jura diam, juara heeh, juara ha ha ha… Apa yang diungkap oleh bang Iwan beberapa puluhan tahun yang lalu masih relevan sampai saat ini. Masyarakat tentu tidak mau wakil mereka di parlemen hanya diam dan hanya memikirkan kepentingan pribadi dan partainya saja. Kalau itu masih terjadi, mari kita beri sanksi bersama-sama untuk tidak memilih para wakil rakyat yang tidak mencerdaskan dan produktif di 2014.

 

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: