Pemikiran Jean-Francois Lyotard

Lyotard mendefinisikan Postmodern sebagai ketidakpercayaan terhadap metanarasi. Lyotard menggugat narasi besar emansipasi Zaman Pencerahan, yang telah menciptakan kemungkinan perang, totalitarianisme yang menumbuhkan jurang  pemisah antara Utara yang makmur dan Selatan yang melarat, pengangguran dan ‘kemiskinan baru’, dekulturisasi dalam lingkup luas dan krisis pendidikan juga peminggiran artistik avant-garde.

Lyotard menyatakan bahwa postmodernisme bukanlah suatu epos sejarah baru tetapi merupakan fase sejarah yang berulang yang terdapat di dalam modernisme. Posmodernisme bukanlah akhir dari modernisme tetapi keadaan yang baru lahir dan keadaan ini terulang lagi. Modernitas bagi Lyotard dikarakterisasikan dengan keunggulan narasi besar. Namun kebanyakan dari proyek narasi besar gagal, seperti komunisme misalnya. Lyotard merasa saat ini merupakan era yang tepat untuk menyatakan”perang” atas perspektif totalistik seperti itu. Paradigma Lyotard tentang kegagalan ini begitu pula seperti yang dinyatakan oleh Zygmunt Bauman adalah peristiwa Auschwitz, yaitu upaya pembinasaan orang Yahudi oleh Nazi yang menggunakan narasi besar modern (kemenangan akhir ras Arya).

Penjelasan Lyotard tentang narasi besar berdasarkan pada idenya mengenai hubungan antar narasi dan sains, tetapi keduanya dianggap seperti aliran yang Wittgenstein sebutkan “permainan bahasa”. Hubungan sosial difahami seperti permainan bahasa yang memerlukan bahasa untuk ambil bagian.  Lyotard menyatakan bahwa permainan bahasa adalah relasi minimum yang diperlukan bagi keberadaan sosial. Permainan bahasa dari sudut pandang Lyotard adalah ikatan sosial. Menurut Lyotard, adalah bermanfaat untu melakukan tiga observasi mengenai permain bahasa, pertama, bahwa peraturan mereka tidak membawa legitimasi sendiri oleh mereka sendiri, namun sebagai obyek kontrak, eksplisit atau tidak di antara para pemain. Kedua, adalah peraturan bahwa bila tidak ada peraturan maka  tidak ada permainan, sehingga bahkan modifikasi sekecil apapun dari satu aturan akan mengubah cirri permainan, bahwa suatu “langkah” atau ucapan yang tidak memuaskan peraturan bukanlah milik dari permainan  yang mereka definisikan itu. Ketiga, disarankan setiap ucapan seharusnya dipikirjan sebagai suatu “langkah” dalam suatu permainan.

Narasi dan Sains adalah bentuk Ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan secara luas didefinisikan untuk memasukan pernyataan-pernyataan denotatif. Narasi adalah bentuk terbaik tradisional, pengetahuan yang lazim. Melalui narasi aturan-aturan pragmatis yang merupakan ikatan yang menjaga kebersamaan masyarakat disebarkan. Ikatan tersebut diciptakan tidak hanya oleh makna narasi tetapi juga dengan aksi pendeklamasian mereka. Legitimasi atas narasi semacam itu bukan berasal dari sumber eksternal, tetapi berasal dari “kenyataan sederhana bahwa mereka melakukan apa yang harus dilakukan.” Sains sebaliknya hanya menerima  pernyataan-pernyataan denotatif. Dalam artian, ia hanya “nilai kebenaran” yang menentukan acceptability pernyataan-pernyataan sains. Tidak sama dengan narasi, sains bukan sebuah arah dan komponen bagian ikatan sosial. Bahkan ada perbedaan di sana sini antara narasi dan sains, dan tidak dipungkiri keduanya adalah permainan bahasa dan saling membutuhkan. Narasi dan sains menerima bahwa sebuah narasi tidak dapat menilai narasi yang lain. Juga menerima ide bahwa suatu narasi tidak lebih baik atau lebih jelek dari sains. Persoalan akan akan muncul, menurut narasi dan sains, karena sains tidak menerima sudut pandang ini. Saintifik memiliki pemahaman negative atas narasi dan mempertanyakan keabsahan pernyataan-pernyataan yang berasal dari narasi. Dari sudut pandang sains, narasi dianggap “barbar, primitive, tidak berkembang, terbelakang, teralienasi, terdiri dari opini-opini, kebiasaan-kebiasaan, otoritatif, prasangka, ketidak tahuan, ideologi. Narasi adalah dongeng, mitos, legenda, hanya cocok untuk wanita dan anak-anak.”  Dalam arti lain menurut Lyotard sains mempertanyakan legitimasi narasi dan dalam prosesnya melegitimasu “legitimasi” sebagai sebuah persoalan. Sains ingin setiap orang meyakini bahwa ia menawarkan legitimasi, ilmu pengetahuan yang “benar” dan menyatakan narasi sebagai sesuatu yang tidak legitimate dan tidak benar.

Namun dalam berbagai cara sains telah membantu menyangsikan legitimasinya sendiri. Pertama sains telah memunculkan persoalan legitimasi. Akibatnya adalah seperti yang dinyatakan oleh para posmodernis, ada rasa sangsi pula pada legitimasi sains. Kedua, para ilmua tersebut seringkali menggunakan narasi-narasi dan oleh sebab itu legitimasi mereka sendiri dipertanyakan. Negara pun sangat mendukung sains, misalnya melalui dana penelitian yang diberikan oleh negara sehingga tidak terelakan legitimasi negara meluas sampai ke sains.

Lyotard mengidentifikasikan dua narasi besar legitimasi. Pertama adalah spekulatif, kognitif-teoritik, bersifat keilmuan. Sedangkan yang kedua adalah emansipasi, praktis dan humanistik. Menurut Lyotard di dunia postmodern, keduanya telah kehilangan kredibilitas. Masyarakat, kehilangan kepercayaan terhadap nasari besar emansipasi seperti yang diasosiasikan dengan Marxisme dan komunisme, juga terhadap narasi besar saintifik-spekulatif misalnya teknologi nuklir yang digunakan sebagai reaktor nuklir bukan dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Hal ini menyadarkan bahwasanya sains tidak ubahnya seperti narasi yang lain, sebuah permainan seperti permainan yang lain.

Sains postmodern dalam pandangan Lyotard adalah sebuah sains yang tidak hanya memfokuskan pada  perfomitifitas dan determinisme. Lebih tepatnya sains postmodern melakukan parology, atau meneliti atau menciptakan counterexamples, dalam arti lain, menciptakan sesuatu yang tidak dipahami (unintelligble), mendukung suatu argument berarti mencari sebuah paradox dan melegitimasinya dengan aturan-aturan baru menurut permainan nalar (the games of reasoning). Lyotard melihat sebuah satu kesatuan tempat bagi sains yang berada di bawah pemaknaan dirinya sendiri dan untuk melegitimasi.

Kunci sains postmodern adalah menciptakan ide-ide baru. Tidak ada distingsi metode saintifik atau narasi saintifik. Tidak ada narasi besar yang dihubungkan dengan sains yang ada adalah rangkaian narasi kecil yang ikut menciptakan dan mengusahakan verifikasi ide-ide baru. Tidak ada konsensus besar, yang ada adalah sebuah konsensus atas rangkaian aturan permainan lokal dan pergerakan-pergerakan yang diciptakan dalam permainan lokal. Sains postmodern adalah rangkaian permainan bahasa lokal dengan aturan-aturan yang heterogen yang mencari perbedaan pendapat dengan tujuan menciptakan ide-ide baru. bukan mencari konsensus, tetapi mencari disensus, differed. Menurut Lyotard persoalan dari narasi besar adalah bahwa tidak dapat dielakan ia mencampakan beberapa kelompok dan kemudian narasi tersebut dipaksakan terhadap kelompok yang dicampakan dan acapkali berakibat fatal.

Lyotard mengulas bahwa “post” pada postmodernisme berarti, “sebuah prosedur analisis, anamnesis, anagogi, anamorfosis yang menguraikan suatu kealpaan inisial”. Anamnesis bertugas untuk mengingatkan, terutama kehidupan sebelum ini. Anamorfosis bertugas untuk menciptakan image yang terdistorsi. Anagogi melakukan interpretasi mistik. Jelasnya semua itu terbentang dihadapan rasionalitas yang diasosiasikan dengan narasi besar modern.

Tulisan menjadi kunci bagi Lyotard. Bahasa diasosiasikan dengan tulisan. Kunci pada tulisan bukan dibatasi oleh pengetahuan yang ada, tetapi untuk menentangnya dengan suatu yang singular dan unik: “mengatakan apa yang telah diketahui bagaimana mengatakannya bukanlah tulisan. Seseorang ingin mengatakan apa yang tidak diketahui cara mengatakannya, tetapi apa yang seorang bayangkan akan mampu untuk dikatakan.”

Referensi

Lyotard, Jean-Francois. (2009). Kondisi Postmodern: Suatu laporan mengenai Pengetahuan (Edisi Terjemahan). Surabaya: Selasar Surabaya Publishing.

Ritzer, George. (2003). Teori Sosial Postmodern (Edisi Terjemahan). Yogyakarta: Juxtapose-Kreasi Wacana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s