Islam dan Pendidikan

Islam adalah agama yang sangat menghargai penguasaan umatnya terhadap ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan manusia menjadi sosok yang utuh, sosok yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi makhluk di sekelilingnya. Seperti yang telah dinyatakan oleh Rasulullah, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang lain.

Ketika beberapa abad sebelum masehi Filsuf Aristoteles telah menyatakan bahwa hakikat manusia sesungguhnya adalah makhluk monodualis, makhluk yang memiliki peran sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Maka dalam konteks makhluk sosial inilah manusia harus berkontribusi bagi peradaban. Peradaban yang dibangun oleh narasi kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Peradaban yang harus terus diperjuangkan oleh setiap muslim yang memang punya kewajiban untuk memberi kebermanfaatan bagi umat manusia di sekitarnya.

Ilmu adalah karunia paling berharga yang diberikan Allah kepada manusia. Kemuliaan ilmu ini banyak ditegaskan oleh Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah SAW seperti hadis yang mewajibkan seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, atau keharusan menuntut ilmu dari sejak manusia dilahirkan hingga meninggal dunia (long life education). Rasulullah SAW mengibaratkan hubungan ilmu dan amal ini dengan pohon dan buahnya. Jika ilmu adalah sebatang pohon maka amal adalah buahnya. Jika ilmu tidak disertai dengan amal kebajikan maka ilmu tersebut tidak banyak berguna laksana pohon yang tak berbuah.

Bersendikan pada kesungguhan dalam mengasah potensi intelektual dan keikhlasan dalam beramal sesungguhnya merupakan perpaduan yang luar biasa dalam hal membangun peradaban kebangsaan. Indonesia akan menjadi bangsa yang besar apabila intelektualitas dipadukan dengan kerja nyata.

Sejarah mencatat pendidikan Islam melahirkan ulama sekaliber Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki, Imam al-Ghazali, dll. Dari pendidikan Islam juga lahirlah Yakub al-Kindi (tahun 800-an) sebagai pakar kimia, obat, musik, dan optik sekaligus ahli falsafah; Umar al-Khayyam ahli matematika yang memperbaiki teorinya al-Khawarijmi sekaligus ahli geografi; ath-Thabari sebagai bisnisman dan sarjana geografi sekaligus penulis sejarah Islam yang terkenal; Ibnu Khaldun merupakan ahli sosial, birokrat, sekaligus ahli agama.

Imam Ali R.A. misalnya dengan gamblang menyatakan bahwa “tak ada kekayaan yang sebanding dengan ilmu, dan tak ada kemiskinan yang sebanding dengan kebodohan”. Dalam surat Al Mujadalah ayat 11 Allah berfirman: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (Al Mujadalah 11). Kemudian, dalam surat An Nahl 43 Allah berfirman: Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (An Nahl 43).

Jika dihubungkan dengan dunia pendidikan, pernyataan bahwa pendidikan adalah social elevator untuk menuju kehidupan yang lebih baik, kehidupan lebih cerdas dan cerah tentu saja menjadi hal yang masih menjadi pegangan bersama.

Para founding fathers negara ini berhasil membawa bangsa ini menuju gerbang kemerdekaan karena pendidikan yang mereka peroleh secara baik. Pendidikan yang diperoleh seseorang misalnya oleh beberapa kalangan harus mampu memiliki sumbangsih dalam penyelesaian masalah yang dihadapi masyarakat, dan membantu menciptakan keseimbangan. Dalam konteks tersebut, para founding fathers negeri ini telah melakukannya dengan sangat baik. Manusia yang tidak hanya mumpuni dalam intelektualnya saja tetapi jiwa aktivisme dan semangat kebangsaan yang luar biasa., sosok negarawan yang sangat luar biasa, berjuang untuk kemaslahatan bersama.

Manusia yang dibentuk di era yang serba materi ini, adalah sosok manusia yang teralienasi dari hakikat kemanusiaannya sendiri, makhluk-makhluk homo economicus yang hanya mengejar nafsu keduniaan. Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia yang dibutuhkan adalah homo civicus, manusia yang sadar, aktif dan kritis. Untuk membentuk manusia yang sadar, aktif dan kritis, tentu saja pendidikanlah sebagai muara utamanya.

Secara kontekstual tentu saja sekolah memiliki peranan yang dominan dalam membentuk karakter manusia Indonesia masa depan, sosok intelektual bersahaja yang peduli terhadap bangsanya sendiri. Generasi kuat inilah yang perlu dibentuk, generasi kuat yang mampu menghadapi derasnya perubahan yang luar biasa.

Kekuatan untuk berjuang dan berkorban inilah yang perlu diperkuat dalam pendidikan di era global ini. Dalam Al- Quran Allah berfirman: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapakan perkataan yang benar.” (QS an-Nisa`: 9)

Inilah tantangan kita bersama agar bangsa Indonesia menjadi lebih baik di masa depan. Dengan menyiapkan generasi yang beriman, mandiri, kreatif dan cerdas tentu saja memberikan harapan yang besar bagi masa depan Indonesia.  Dalam hal ini ada beberapa yang harus dilakukan oleh sekolah:

  1. Budaya sekolah yang mendukung penciptaan peserta didik yang memiliki intelektualitas yang baik dan kepedulian yang tinggi.
  2. Pembelajaran yang memberi pencerdasan dan pencerahan, dalam hal ini pembelajaran haruslah kontekstual.
  3. Menanamkan kesadaran akan makna-makna dan tujuan yang hendak dicapai oleh para peserta didik. Dalam hal ini memberikan pemahaman secara baik mengapa peserta didik perlu melakukan sesuatu secara terus menerus dan menciptakan sebuah kebiasaan baik.

Nilai-nilai Islam harus mampu menjadi pendorong bagi munculnya generasi kuat yang mampu bermanfaat bagi bangsa, negara, agama dan kemanusian. Sosok intelektual berkualitas yang mampu memberikan kontribusi bagi peradaban. Generasi rahmatan lil alami yang menebar kasih kepada siapa saja dan kapan saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s