Serasa Mudik: Menuju Cintaraja Tasikmalaya

Mudik adalah proses seremonial penting setiap idul fitri. Setiap orang berusaha kembali ke asal. Seremonial yang menakjubkan dan indah jika dijalani penuh kesyukuran. Kembali ke asal adalah ritual yang menakjubkan dalam setiap proses pencarian hidup. Napak tilas pada setiap proses yang sudah dilalui sehingga berada pada pijakan saat ini.

Tahun ini aktivitas mudik saya dan istri hanya ke Bogor dan Bekasi. Tahun lalu saya ikut “proses kembali ke asal” kedua orang tua saya ke Perancis (Perapatan Ciamis). Suasana mudik di jalan tidak terlalu terasa karena perjalanan ke Bekasi dan ke Bogor tidaklah padat seperti ke kota-kota lain yang macet. Apalagi setiap ke kota tersebut momen yang kami pilih selalu pas. Sehingga kami tidak pernah terjebak macet parah.

Walaupun tidak mudik di hari ketiga setelah lebaran, akhirnya saya berkesempatan merasakan suasana mudik. Kakak sepupu melaksanakan prosesi lamaran dengan calon istrinya di Tasikmalaya. Tasikmalaya adalah kota yg sangat istimewa bagi saya karena banyak momen historis bagi saya ketika nyantri selama tiga tahun (2002-2005).

Untuk mudik, persiapan fisik dan mental harus betul-betul maksimal. Setiap moment tak terduga dapat menimpa mudikers setiap saat, entah ban bocor, diserempet orang, ditabrak dan menabrak, mogok, atau hal yang paling pasti adalah macet berjam-jam. Dan akhirnya kamipun merasakan macet berjam-jam itu. Setelah tidak mengalami kemacetan berarti dari Bekasi sampai Nagrek, ternyata “seninya mudikpun” kami alami ketika memasuki Kota Garut. Memasuki Kadung Ngora jalan sudah macet. Dan macet ini terus terjadi sampai menjelang daerah perbatasan Garut-Tasikmalaya. Kemacetan ini terjadi karena beberapa bus yang biasanya melewati Malangbong dialihkan lewat Garut. Selain itu warga Garut maupun luar Garut banyak yang berekreasi ke beberapa tempat rekreasi seperti Cipanas, Gunung Papandayan, Candi Cangkuang, dan objek wisata lainnya. Untuk beberapa objek wisata menarik di Garut dapat dilihat di website http://www.indotravelers.com/garut/. Bagi saya jalur ini lebih bersahabat dibandingkan melalui jalur Gentong-Malangbong-Ciawi karena di jalur Garut minim tikungan dan jalan yang curam. Jika macetpun relatif bersahabat bagi para pengemudi karena jalannya relatif lebih datar. Jalan berliku hanya ditemui setelah keluar Garut perbatasaan menuju Tasikmalaya melalui Salawu. Walaupun jalan berliku, kita akan dimanjakan oleh hijaunya sawah, sungai yang indah, pepohonan yang besar-besara. Jika lelah banyak tempat istirahat dan mushola atau masjid yg bersih. Bahkan di luar moment libur ada salah satu masjid yang menyediakan kopi dan teh gratis bagi para pengendara. Sayangnya pada saat kami hendak berhenti di masjid tersebut sudah banyak pengendara yang lebih dulu berhenti, tempatnya sudah penuh. Tapi tidak masalah kami mendapatkan mesjid lain yang bersih dan subhanallah airnya dingin menyegarkan. Stamina yang mulai kendor kembali segar setelah bertemu dengan air yang segar itu.

Setelah perjalanan selama kurang lebih 9 jam kamipun tiba di daerah Cintaraja, Singaparna Tasikmalaya. Prosesi lamaran pun dilaksanakan. Keluarga calon istri kakak sepupu tentu sudah menunggu dari pagi. Perkiraannya sebelum dzuhur kami sudah tiba, ternyata mundur beberapa jam. Prosesi berlangsung lancar dan akhirnya tinggal menunggu waktu yang disepakati kedua belah pihak untuk pernikahan. Setelah acara formal, maka acara non formal dilaksanakan, makan bersama dengan menu makananan yang sangat menggugah selera, makanan khas sunda, ah nikmatnya.

Pada perjalanan menuju Tasikmalaya ini saya menyaksikan kesungguhan Polisi bertugas menyukseskan perjalanan mudik tahun ini. Kesiapsiagaan Polisi tercermin pada hadirnya pada titik-titik yang dianggap rawan kemacetan maupun rawan kecelakaan. Polisipun siaga mengarahkan para pemudik melalui jalur-jalur alternatif. Terima kasih Pak Polisi, semoga Allah membalas jihad kalian.

Hal yang masih banyak saya saksikan adalah beberapa pemudik terlalu memaksakan diri, entah tidak hati-hati, lelah dan mengantuk ketika membawa kendaraan, membawa barang bawaan yang berlebihan dan tidak sesuai kapasitas. Baik yang membawa motor atau mobil jika kondisi lelah lebih baik beristirahat, peristiwa kecelakaan terkadang terjadi karena hal-hal yang dianggap remeh. Bagi yang membawa anak di sepeda motor lebih baik selalu beristirahat beberapa jam sekali, ingat kondisi fisik orang dewasa dengan anak kecil jauh berbeda. Hal menarik dalam mudik ini, sudah ramai spanduk calon anggota legislatif maupun eksekutif yang mewarnai perjalanan. Spanduk dengan ragam gaya khas politisi. Entah agamis religius, motif kedaerahan atau atribut lainya yang “dianggap” menarik hati konstituen agar memilih mereka di 2014. Bahkan kang Dedi Dorrespun tertarik terjun untuk menjadi Calon Walikota Garut. Politik selalu menarik bagi siapa saja apalagi di era sekarang di mana keran demokrasi begitu terbuka. Bagi yang hidup di generasi 90an awal tentu mengenal Dedi Dores yang menciptakan lagu2 fenomenal yang dinyanyikan Alm. Nike Ardila.

Dan perjalanan masih terus berlangsung. Entah sampai jam berapa kami tiba di Bekasi. Perjalanan penuh cerita.

Salawu, 11 Agustus 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s