Politik dan Kebangsaan

Catatan: Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten (1943-1945)

Rabu, 14 Agustus 2013 saya iseng jalan ke Bekasi Square salah satu pusat perbelanjaan di Kota Bekasi. Saat berjalan di lantai dasar saya melihat ada salah satu toko yang menjual buku-buku lama dan beberapa buku baru.

Saya langsung tertarik karena melihat stok buku yang cukup banyak. Setelah masuk, toko buku tersebut menyediakan buku-buku dari beragam genre seperti filsafat, teknik, sosial politik, agama, majalah, dan komik. Stoknya cukup lengkap.

Setelah melihat-lihat akhirnya saya mendapatkan tiga buku yang menurut saya menarik, buku pertama Para Priyayi karya almarhum Umar Kayam, kumpulan cerpen “Memorabilia” karya cerpenis handal Agus Noor dan Buku Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten 1943-1945 karya Hendri F. Isnaeni.

Buku yang akan saya ulas adalah buku karangan Hendri F. Isnaeni, Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten 1943-1945. Di buku ini dibahas secara berutur bagaimana Ilyas Hussein alias Tan Malaka menjalani kehidupannya di Bayah Banten. Saya termasuk orang yang belum pernah ke Bayah Banten sehingga tidak mengetahui bagaimana keadaan persis Bayah saat ini. Teman saya hendy (https://m.facebook.com/hendiplur?refid=5) lebih memahami tentang keadaan Bayah baik keindahan maupun potensi yang ada di Bayah, Banten.

Tan Malaka adalah legenda, kisahnya penuh misteri dan masih banyak orang yang kenal sosok pahlawan nasional yang sudah dikukuhkan oleh Presiden Soekarno 1963. Saya lahir di tahun 80an akhir, selama sekolah dari level Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah tidak pernah mendengar nama Tan Malaka.

Entah saya yang tidak memperhatikan pelajaran sejarah dengan baik atau memang nama itu tak pernah tercantum dalam buku teks sejarah sekolah. Yang jelas saya mengenal nama Tan Malaka ketika tahun 2008 dalam edisi kemerdekaan Majalah Tempo menulis tentang Tan Malaka di susul penerbitan bukunya beberapa waktu kemudian.

Sebagai pengajar beberapa kali di kelas saya bertanya kepada para peserta didik apakah mereka pernah mendengar atau membaca mengenai Tan Malaka? Sebagian besar peserta didik hanya menggeleng ketika saya sebutkan nama tersebut. Sehingga akhirnya saya menjelaskan beberapa hal yang saya ketahui tentang Tan Malaka.

Jujur saya belum pernah membaca biografi atau pokok pikiran Tan Malaka secara langsung. Di era sekarang tentu dengan mudah mendapatkan beberapa buku Tan Malaka. Saya pun belum membaca secara langsung karya-karya. Harry A. Poeze uang menurut Sejarawan Bonnie Triyana merupakan satu-satunya sejarawan yang memiliki otoritas dalam mengungkapkan kisah hidup Tan Malaka. Poeze melakukan penelitian selama 30tahun untuk melacak Jejak Tan Malaka di seluruh dunia.

Dalam buku ini Isnaeni membahas mengenai sekelumit kisah Tan Malaka alias Ilyas Hussein selama berada di Banten pada kurun waktu 1943-1945. Ilyas Husein berada di Bayah untuk bekerja di Bayah Kozan sebagai salah satu kepala bagian di sana. Dalam beberapa saat ia juga menangani permasalahan romusha di sana.

Romusha ketika zaman Jepang banyak diperlakukan dengan tidak manusiawi. Dengan advokasi Hussein yang memiliki relasi dengan tentara Jepang dengan baik perlakuan terhadap Romusha kemudian lebih membaik. Selama di Bayah Tan Malaka membangun jaringan yang baik tidak hanya dengan masyarakat tetapi dengan tentara Jepang dan tokoh masyarakat di sana.

Hubungan persahabatan dijalin lewat kegiatan sandiwara yang dipentaskan maupun kegiatan pertandingan sepak bola. Menurut saya Tan Malaka dapat masuk ke beragam kelompok karena ia biasa bergaul dengan beragam kalangan dengan latar belakang yang berbeda. Seperti yang diulas Majalah Tempo Tan Malaka sudah berkeliling hampir ke seluruh dunia dengan banyaknya kejaran intel Belanda maupun Jepang.

Tan Malaka adalah jenius otodidak. Ia menguasai 8 bahasa yaitu Minang, Indonesia, Belanda, Rusia, Jerman, Inggris, Mandarin dan Tagalog. Sebagai sosok misterius ia memliki 23 nama samaran. Jenius yang menulis kurang lebih 26 buku. Massa Actie adalah rujukan kalangan aktivis untuk menjalankan aksi massa yang sesungguhnya.

Madilog Magnum opus yang ditulis dengan mengandalkan daftar pustaka di dalam otaknya karena banyak bukunya yang disita selama dalam perlarian. Beberapa tokoh pemuda yang mengidolakan Tan Malaka seperti Sukarni ketika bertemu bahkan tidak mengenal wujudnya. Sukarni hanya berkenalan dengan Tan Malaka melalui ide-ide yang digagas Tan Malaka dalam bukunya.

Tan Malaka tentu berbeda jauh dengan politisi yang mengobral iklan dengan polesan pencitraan tanpa ide yang mumpuni untuk perbaikan negara bangsa. Adam Malik seperti yang diungkap Isnaeni dalam bukunya menyatakan bahwa pertemuan Tan Malaka dengan Sukarni adalah “kepedihan riwayat” karena Sukarni tidak mengetahui sosok yang ditemuinya adalah Tan Malaka.

Tan Malaka sudah tiada, tetapi selalu ada yang dapat dipelajari dari sosok hebat negeri ini yang berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia tanpa sempat menikmati kemerdekaan yang diperjuangkan. Tan Malaka gugur tahun 1948 dan sampai saat ini kematiannya masih misterius.

Sejarah selalu memberikan pelajaran bagi siapapun yang menginginkan pelajaran tersebut. Tokoh-tokoh bangsa mungkin bukan figur ideal, mereka adalah manusia yang hidup pada zamannya dan mengusahakan yang terbaik untuk Indonesia lebih baik. Mari kita gali pelajaran-pelajaran dari mereka apapun pandangan politik mereka, mereka adalah orang hebat.

Rawamangun, 19 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s