Sosiologi

Catatan Buku Kishore Mahbubani: Asia Hemisfer Baru Dunia, Pergeseran Kekuatan Global ke Timur yang Tak Terelakan

Buku Asia Hemisfer Baru Dunia

Pengantar
Buku ini dimulai dengan pengantar dari penulisnya sendiri yang menyatakan bahwa krisis financial global 2008-2009 dengan sangat jelas telah mengonfirmasi dan mendukung beberapa tesis utama buku yang dikarangnya. Konfirmasi pertama menurutnya adalah suatu yang disebut sebagai demistifikasi global tentang kompetensi barat. Barat yang selalu menjadi superior dalam bebeberapa lini pun ternyata tidak mampu menahan gempuran krisis global yang kemudian menghadang. Dominasi barat yang selama ini terjadi ternyata bukan sesuatu yang mutlak tak terbantahkan. Barat pun memiliki titik lemah. Konfirmasi kedua adalah bahwa kebijakan negara-negara asia untuk mengadopsi pendekatan yang lebih pragmatis ketimbang ideologis terhadap pembangunan ekonomi bukanlah hal yang selalu tepat guna dan sasaran.

Dahulu bangkitnya barat mengubah dunia, dan saat ini saatnya Asia yang membawa perubahan yang signifikan terhadap perubahan dunia. Asia sebagai salah satu kekuatan dunia tentu tidak dapat dipandang sebelah mata lagi. Kebangkitan Asia akan berbuah baik bagi dunia. Modernisasi telah merubah banyak pihak termasuk Asia. Cina dan India sebagai salah satu kekuatan dunia saat ini tentu membukakan dan memalingkan wajah dunia ke Asia. Dan itulah mengapa PBB meluncurkan The Millennium Development Goals (MDGs) untuk mengurangi kemiskinan global sampai separuhnya pada tahun 2015. Hal ini juga berkat keberhasilan Cina dan India mengurangi jumlah penduduknya yang miskin. Menurut Mahbuni dengan standar para filsuf moral barat manapun mulai dari para filsuf utilitarian Inggris abad ke 19 hingga ke imperatif-imperatif moral Immanuel Kant abad ke 18, menjadi jelas menurutnya bahwa kebangkitan Asia telah membawa lebih banyak kebaikan dan kedamaian kepada dunia. Asia dapat menjadi corong perubahan. Beberapa dekade terakhir misalnya beberapa negara Asia telah menjadi kekuatan penting dalam perekonomian, sosial, politik dunia. Jika dahulu hanya Jepang dan Israel saja yang dikenali sebagai kekuatan di Asia, saat ini muncul beberapa negara seperti Cina, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura yang menjadi kekuatan Asia di dunia. Juga kawasan Asai Barat yang tidak hanya mengenal negara Israel saja, tetapi mulai India, Pakistan, Iran dan negara kawasan Asia Barat lainnya. Mahbubani dalam bukunya juga ingin membuat pembaca barat dan non barat untuk merasa optimis mengenai masa depan dunia setelah membaca buku ini.

Dalam bagian pertama Mahbubani menawarkan tiga kemungkinan scenario tentang bagaimana perkembangan dunia 50 tahun ke depan. Masing-masing scenario adalah ekstrapolasi dari kecenderungan-kecenderungan yang sedang mengemuka. Skenario pertama dan paling disukai adalah March to Modernity. Menurutnya waktu inilah saat yang terbaik untuk merealisasikannya. Skenario kedua menurutnya kurang menggembirakan, dan juga kurang disukai, yaitu, Retreat into Fortesses (kembali ke benteng). Skenario ke tiga, dan ini sangat tidak disukai – dan ini yang akan banyak dikupas oleh Mahbubani karena ini merupakan keinginan dari banyak pemikiran-pemikiran barat tentang bagaimana dunia ini harus ditata dan dikembangkan. tentang bagaimana barat selalu menyangka bahkan melalui essay Fukuyama yang fenomenal The End History, meyakini bahwa sejarah telah berakhir dengan kejayaan barat dan dunia lain di luar barat hanyalah sisa dunia yang tak punya pilihan. Bahwa di luar barat adalah kloning-kloning kultural yang tak berdaya.

Dimulai dengan istilah modernitas yang sangat sederhana yang ditawarkan oleh Mahbubani bahwa modernitas adalah istilah asing yang juga merupakan pemikiran asing. Ketika modernitas dikaitkan denan aliran seni budaya tertentu, ketika modernitas dimulai dari adanya aliran telepon, aliran listrik, televisi, dan kenyamanan efektif dan efisien lainnya. March to Modernity adalah perjalanan yang dirasa dapat menggapai dunia yang penuh kestabilan, kedamaian dan kemakmuran. Hasil etis yang paling penting dari March to Modernity adalah suatu dunia yang diharapkan lebih stabil dan lebih damai. Tesis sederhana yang disampaikan oleh buku ini adalah bahwa apa yang dicapai oleh Amerika Utara dan Uni Eropa saat ini dapat dicapai oleh sisa dunia esok. Bahwa dunia bukanlah mimpi hampa. Dasar alasan mengapa negara-negara Amerika Utara maupun Eropa tidak berperang lagi adalah karena begitu hebatnya kelas menengah di kedua belahan dunia tersebut dan mereka tidak ingin mengorbankan terlalu banyak kenikmatan hidup yang telah mereka peroleh. Aspek kunci dunia modern kita saat ini menurut Mahbubani adalah adanya sebuah konsensus yang hampir universal bahwa segala perdebatan tersebut hendaknya dilakukan berdasarkan aturan hukum dan prosedur yang disepakati bukan oleh perang. Maka March to Modernity juga membantu penyebaran tata aturan berdasarkan hukum baik itu domestik, regional, maupun global. Ada sebuah alasan kuat mengapa hampir seluruh manusia lebih suka hidup di dalam tatanan yang didasarkan pada aturan yang adil, sebab hal tersebut menciptakan lingkungan yang lebih aman. Kebanyakan penulis barat berfokus pada kebebasan,bahwa individu perlu berjuang melawan negara yang otoriter atau bahkan totaliter. Namun yang penting adalah bagaimana menjamin kebebasan itu dengan mencegah chaos dan anarki. Kondisi-kondisi eksterm ini selalu mengancam kebebasan manusia. Itulah mengapa konsep Cina sangat tidak senang pada istilah chaos (Luan dalam bahasa Cina). Setelah mengalami kekacauan selama berabad-abad Cina sangat mendambakan keteraturan dan stabilitas.

Dalam buku ini Mahbubani menyoroti Cina melalui salah satu tokohnya Den Xiaoping yang dengan berani menunjukan kepada rakyat Cina ke mana arah masa depan mereka diletakan, yakni kepada March to Modernity. Ia membuka mata rakyat Cina yang telah mati dengan cara mengijinkan stasiun televisi yang dikontrol negara untuk menayangkan film-film tentang rumah kelas menengah di Amerika Serikat yang luas dan nyaman, lengkap dengan perabotan modern dan satu dua mobil terparkir di garasi. Dengan menunjukkan secara praktis dan membumi kepada rakyat Cina bahwa semua kenyamanan ada dalam jangkauan mereka.

Ketika istilah modernisasi mulai tidak digemari di barat, di Cina justru gemanya sedang kuat-kuatnya. Orang Cina hati-hati sekali mengukur sukses relatif mereka dalam istilah modernisasi. The China Modernization Report disiapkan oleh The China Modernization Strategics Studies Group di bawah The Chinese Academic of Sciences, untuk mengkaji industrialisasi, urbanisasi, sekularisasi, dan pengembangan kesejahteraan sosial serta demokrasi. Tahun 2007 The China Modernization Strategics Studies Group memprediksi bawa angka pertumbuhan Cina antara 1980-2004, masih dibutuhkan 8 tahun lagi sebelum ia mampu merealisasikan modernisasi tahap pertama. Artinya pada tahun 2015 Cina akan mampu memodernisasikan diri di tingkat negara maju di tahun 1960. Namun baru di tahun 2005 Cina telah merealisasikan 87 persen dari tujuan tahap pertama modernisasinya itu, satu persen lebih tinggi di tahun sebelumnya.

Masih menyoroti Cina, menurut Mahbubani konstruksi Cina yang baru, prestasi-prestasi terbesar dalam reformasi dan tindakan membuka diri selama lebih dari 20 tahun terakhir adalah suatu perwujudan lebih lanjut vitalitas Peradaban Cina. Inilah sukses setelah 20 tahun reformasi dan keterbukaan, dengan pertama-tama mengafirmasi sebuah revolusi dan konstruksi Cina, itu juga berarti mengafirmasi kekuatan bangsa Cina, tetapi yang paling penting dari semua itu adalah menafirmasi otentisitas peradaban dan tradisi rakyat CIna, yang bukan sekedar lagu dan tarian dalam menyambut globalisasi dan praktek internasional yang telah membawa Cina memasukinya. Menurutnya ini bukan xenophobia sempit inilah kepercayaan pada Peradaban Cina Kuno.

Peran Universitas di Barat
Hal menarik lainnya yang diulas oleh Mahbubani adalah bagaimana Barat mempromosikan nilai-nilai tertinggi peradaban Barat. Kepercayaan bahwa kesetaraan umat manusia, kepercayaan akan semangat meneliti secara terbuka dan bebas, bebas dari semua prasangka kultural, suatu kepercayaan untuk membagikan keutamaan-keutamaan pendidikan barat dengan semua manusia dan segi-segi kemanusiaannya serta tidak mengucilkannya dari warga barat. Dan pada akhirnya tidaklah mengherankan bahwa otak-otak cemerlang dari seluruh dunia memilih ke universitas Barat- terutama di Amerika Serikat.

Dalam melayani kebenaran inti nilai-nilai barat, maka universitas di AS tidak hanya melayani kepentingan masyarakat barat, tetapi juga kepentingan umat manusia. Dengan bertindak demikian, mereka telah menunjukan peran paradoksal. Bahwa barat dan kepentingannya sejalan dengan nilai-nilai universal, untuk mendukung kepercayaan bahwa peradaban barat sungguh suatu cita-cita universal. Di sisi lain Universitas barat juga membuka pintu bagi ratusan ribu warga non barat terutama warga Asia yang muda, untuk mendapat pendidikan yang baik. Ini juga menjadi legitimasi bagaimana kedigdayaan barat memiliki misi dalam memberadabkan umat manusia. Apalagi misalnya kemudian banyak warga Asia yang dengan senang hati menyekolahkan anaknya ke universitas-universitas terkenal baik di Eropa maupun Amerika Serikat.

Penutup
Diakhir Mahbubani menyatakan bahwa salah satu kunci buku ini adalah merestorasi optimisme barat tentang masa depan dunia Asia. Pikiran-pikiran barat dapat membuat satu perubahan sederhana dalam dirinya sendiri untuk menjadi optimis bahwa mereka perlu membuang semua beban ideologis di bagasi mereka yang terakumulasi selama era triumfalisme Barat. Bahwa mereka (barat) harus berhenti mempercayai bahwa mereka dapat menata ulang dunia ini sekehendak mereka sendiri tanpa melibatkan yang lain. Bahwa ada peradaban lain yang berhasil di abad ke 21 ini. Mahbubani juga mengatakan bahwa untuk mencapai hasil-hasil positif yang semua kita inginkan baik barat maupun sisa dunia harus menemukan kembali keutamaan kuno pragmatisme. Kita saat ini menurut Mahbubani sedang bergerak dalam suatu abad yang paling kompleks dalam sejarah manusia. Kontribusi Asia kepada sejarah adalah bagaimana March to Modernity dapat menciptakan dunia yang lebih stabil, damai dan makmur. Mahbubani kemudian menyatakan bahwa kita harus kembali memeriksa asumsi-asumsi ideologis barat abad ke 19 dan ke 20 akan mampu bekerja dengan baik di abad ke 21 ini. Kita harus lebih arif dan terbuka dalam memeriksa setiap asumsi ideologis tersebut. Menurutnya Pragmatisme adalah the best guiding spirit yang dapat diandalkan dalam menjelajahi abad baru ini. Mengutip Den Xiao Ping, It does not matter whether a cat is black or white, if it catches mice, it is a good cat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s