Catatan Harian

Ayo Membaca

Membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan para cendikiawan yang paling cemerlang dari masa lampau, Rene Descartes.

Membaca adalah sesuatu yang mengasikan, apalagi jika buku yang dibaca berdasarkan minat yang dimiliki. Tradisi membaca belum menjadi tradisi yang membumi di Indonesia. Membaca masih jadi monopoli beberapa kalangan. Membaca sesungguhnya bukan semata proyek akademis. Bukan monopoli kalangan akademisi ataupun milik para mahasiswa saja. Membaca harus menjadi kebutuhan bagi siapa saja.

Secara tidak sadar setiap saat kita membaca. Membaca spanduk kampanye politisi (bagi saya) yang terkadang tidak sedap dipandang mata; membaca sms, bbm, line, whatsup, we chat; membaca status Facebook, timeline twitter; membaca guntingan koran di bungkus gorengan; membaca running text di televisi dan kegiatan membaca lain yang dilakukan secara sadar ataupun tidak. Social media dalam beberapa hal memberi manfaat kepada orang yang tidak suka membaca karena begitu banyak info yang muncul dan bergizi. Yang paling penting adalah verifikasi atas berita atau informasi yang disampaikan. Beberapa tokoh baik itu akademisi, pejabat publik, penulis, sejarawan, politisi, artis, tokoh agama dan lain-lain terkadang membuat kultwit (kuliah twitter) secara reguler. Informasi yang disampaikan beragam sesuai bidang yang digeluti pemilik akun twitter tersebut. Banyak informasi awal yang menarik dan bermanfaat dapat diperoleh secara gratis dari twitter. Yang terpenting kita tidak asal telan dan benar-benar harus kritis dan verifikasi terus menerus.

Membaca itu menginspirasi saya sangat meyakini itu. Setelah membaca novel pasti ada beberapa kisah yang dapat dijadikan pelajaran hidup. Tokoh-tokoh yang ditampilkan oleh penulis di masing-masing novel serasa tokoh nyata yang ada dalam realitas kehidupan. Saya termasuk yang suka membaca novel. Ketika membaca novel saya merasa larut dalam kehidupan yang dijalani oleh tokoh yang ada di novel tersebut. Seperti kisah Ibu Inggit Ganarsih dan Bung Karno dalam proses awal munculnya Bung Karno dalam konteks perjuangan nasional dalam novel “Kuantar Ke Gerbang” karya Ramadhan K.H. Secara apik Ramadhan K.H. Melukiskan ketulusan seorang istri dalam menemani perjuangan suami yang sangat dicintainya. Demikian pula saya merasakan kerja keras Ikal untuk memperoleh pendidikan yang baik dalam novel Tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov karya Andrea Hirata. Betapa tokoh-tokoh dalam novel tersebut berjuang demi pendidikan yang layak. Perasaan haru juga saya rasakan ketika membaca novel fenomenal Pramoedya Ananta Toer Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca, betapa Mingke alias Raden Mas Tirto Adi Suryo ketika berjuang untuk mendirikan Surat Kabar pertama di Indonesia. Tentu banyak novel lain memberikan inspirasi bagi masing-masing pembacanya. Novel adalah bacaan yang menghibur dan di sisi lain dapat memberikan pencerahan. Jika ceritanya sangat menarik saya bahkan mampu melahapnya hanya dalam beberapa jam.

Tradisi membaca tentu tidak hanya terhenti dalam genre-genre yang berbasis hiburan. Membaca memang harus dimulai dari apa yang benar-benar diminati. Ketika kita merasa punya minat terhadap sesuatu maka rasa tertarik dan butuh akan lebih mendorong kita untuk mencari informasi dari buku tersebut. Kultur membaca memang harus dirintis dari kecil. Peradaban dunia yang maju diawali dari tradisi membaca yang luar biasa. Sayangnya perhatian masyarakat (terutama saya) terhadap perpustakaan belum baik. Padahal dari perpustakaanlah tradisi keilmuan dibangun. Saat ini sudah muncul perpustakaan yang nyaman dan dilengkapi dengan “tempat nongkrong” sehingga suasana menjadi lebih menyenangkan.

Mengutip Hernowo dalam Mengikat Makna bahwa membaca dapat digunakan untuk merasakan kasih sayangNya yang amat melimpah. Menurutnya membaca adalah bentuk kasih sayang Tuhan, menaikan derajat diri, menggerakan tubuh dan jiwa, eksis dan mengetahui banyak hal, mendaki tangga kualitas kehidupan, menyelidiki kebenaran, membantu totalitas diri, menuju pengetahuan baru, bertemu para tokoh, dan bersentuhan dengan pikiran penulis.

Benar seperti yang disampaikan Descartes, ketika membaca kita dapat berdialog dengan cendikiawan yang paling cemerlang dari masa lampau. Ingin bertemu dengan Imam Ghazali, Ibnu Rusyd, Khaldun. Marx, Weber, Plato, Aristoteles, Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh lainnya? membacalah. Membaca membuat kita tercerahkan dan tercerdaskan. Selamat membaca.

Rawamangun, 29 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s