Ibu Kita Kartini

indexKartini (sumber: id.wikipedia.org)

Membaca merupakan sarana efektif untuk memperoleh banyak pelajaran. Salah satu yang dapat dilakukan untuk memperleh banyak hikmah dan pelajaran adalah dengan membaca kisah para tokoh di masa lampau.  Beberapa hari ini saya membaca Seri Buku Tempo Gelap Terang Hidup Kartini yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan Majalah Tempo. Buku ini merupakan salah satu seri buku Tempo Perempuan-perempuan Perkasa.

Kartini adalah nama legendaris, secara seremonial setiap tanggal 21 April masyarakat Indonesia merayakan hari Kartini. Mulai dari anak kecil sampai orang dewasa memakai pakaian adat seperti yang digunakan oleh Ibu Kita Kartini. Tak salah jika perayaan seremonial dilaksanakan walaupun akan lebih berkesan lagi apabila kita mengenal sosok Kartini secara utuh baik kehidupannya maupun pemikirannya.

Bagi saya membaca seri buku Tempo selalu mengasyikan. Bahasa jurnalistik yang khas, cara menyampaikan informasi yang mudah dipahami sehingga tak terasa dalam beberapa saat buku tersebut sudah habis dibaca. Walaupun Bung Karno menyatakan Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah), sejarah masih menjadi monopoli sebagian kalangan baik itu sejarawan maupun akademisi. Sejarah belum dikembangkan secara populer sehingga siapa saja bersemangat untuk mempelajarinya. Ikhtiar Tempo menerbitkan beberapa seri tentang tokoh di masa lalu menurut saya menjadi salah satu pemicu bagi kalangan yang tak terlalu suka membaca buku sejarah yang relatif tebal untuk bersemangat membaca.

Kartini sebagai tokoh seperti diungkapkan oleh Tempo adalah tokoh yang kontradiktif, cerdas sekaligus lemah hati, menyerap ide masyarakat barat tapi takluk pada adat, dianggap terkooptasi ide-ide kolonial tetapi ia adalah inspirasi bagi gerakan nasionalisme di tanah air (Bab Feminis dari Balik Tembok).

Membaca Kartini tentu tidak dapat dilakukan  dari kacamata era saat ini. Di era saat ini perempuan yang memperoleh pendidikan yang layak adalah sesuatu yang biasa. Setiap orang, laki-laki atau perempuan memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

Di masanya tak semua orang layak mendapat pendidikan yang bagus. Untuk mendapatkan pendidikan saja sudah sesuatu yang mewah. Kartini termasuk yang mendapatkan kemewahan itu, apalagi sang ayah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang bupati yang punya pikiran yang cukup progresif sehingga memberikan kesempatan kepada Kartini untuk memperoleh pendidikan. Walaupun sang ayah tetap saja tidak dapat menentang adat, oleh karenanya di usia 12 tahun Kartini harus mengalami hal yang dialami oleh perempuan jawa ketika itu yaitu dipingit.

Sekolah masih sesuatu yang tabu bagi perempuan di masa kehidupan Kartini. Kartini masih sangat beruntung karena ia diberi kemewahan lain yaitu berlangganan jurnal perempuan. Surat menyurat dari Kartini kepada Estella “Stella” Zeehandelaar seorang feminis dari Belanda memberikan perspektif bagi Kartini dalam memandang kehidupan sehingga ia memiliki banyak impian termasuk sekolah ke Belanda. Sayangnya harapan Kartini untuk ke Belanda pupus karena beberapa faktor.  Perkenalannya dengan Ovink-Soer istri asisten Residen Jepara juga banyak membuka pikirannya mengenai pola hubungan antara pria dan wanita (hal. 90).

Sayang, Kartini orang hebat itu harus mati muda. Kartini meninggal di usia 25 tahun setelah sebelumnya berjuang untuk melahirkan anak semata wayangnya Raden Soesalit.  Ia meninggal dalam pelukan suaminya Djojoadiningrat setelah empat hari melahirkan (hal. 108).

Kelebihan Kartini adalah ia menulis. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia belanda menerbitkan surat-surat Kartini dalam buku Door Duisternis tot Licht yang terbit April 1911 (hal. 81). Dalam edisi bahasa Indonesia dikenal dengan buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat Kartini saat ini dapat ditemukan di KITLV Leiden. Sebagian suratnya sudah didigitalisasi dalam bentuk microfilm (hal. 116).

Walau diselubungi oleh kontroversi dan kritik mengenai pengangkatannya sebagai pahlawan pada tahun 1964. Salah satu yang mengkritik adalah Sosiolog Harsja W. Bachtiar yang menganggap Kartini tidak lebih baik dari Dewi Sartika dan Rohana Kudus yang lebih berhasil mewujudkan impian mereka.

Apapun yang terjadi Kartini tetap menjadi salah satu ikon perempuan yang memiliki pikiran maju pada jamannya. Namanya akan tetap ada dalam catatan sejarah bangsa Indonesia. Belajar dari Kartini kita menjadi tahu bahwa kekuatan tulisan tak pernah lekang oleh waktu.

                                                                                                   Rawamangun, 11 September 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s