Catatan Harian

Diskusi Pembinaan Keagamaan: Agama dan Hak Asasi Manusia di Perguruan Islam Al Izhar

Selasa sore, pukul 14.30 WIB saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk menjadi moderator kegiatan pembinaan keagamaan yang biasa dilakukan setiap satu bulan sekali. Hari Jumat saya dihubungi oleh Pak Komar untuk menjadi moderator dan hari selasa pagi saya diberikan panduan oleh Pak Otong Jaelani adalah lebih dikenal dengan panggilan Pak OJ mengenai materi yang akan disampaikan oleh pembicara dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Materi Kajian Pembinaan Keagamaan selasa, 24 September 2013 adalah mengenai Agama dan Hak Asasi Manusia. Pembicaranya adala Febi Yonesta atau akrab disebut Mas Mayong. Di usianya yang masih sangat muda yaitu 36 tahun Mas Mayong sudah menjadi Direktur LBH. Mas Mayong merupakan Sarjana Hukum Lulusan dari Universitas Hasanuddin. Moto yang dimilikinya sangat menarik yaitu “fight for your right”, motto yang sejalan dengan perjuangan lembaga yang dikelolanya yaitu LBH untuk memberikan advokasi kepada rakyat miskin yang biasanya termarjinalkan secara sosial, ekonomi, politik, hukum, bahkan masalah keyakinan.

Menurut Pak OJ kegiatan kajian keagaaman mengenai Agama dan HAM sejalan dengan harapan Al Izhar yang menetapkan visi menjadi pusat pendidikan yang menumbuhkembangkan kader pemimpin dan intelektual Islam berwawasan luas. Menurutnya Pemahaman yang baik atas hubungan agama dan hak asasi manusia sangat diperlukan oleh sivitas akademika Al Izhar. Pemahaman agama dan HAM yang baik bagi peserta didik Al Izhar penting untuk menghadapi masa depan mereka yang menuntuk kearifan yang lebih besar untuk menghadapi berbagai persoalan.

Kegiatan Diskusi berlangsung selama kurang lebih satu jam setengah. Mas Mayong membuka dengan memberikan pengantar mengenai advokasi yang dilakukan oleh LBH Jakarta  terhadap kasus keberagamaan dimulai sejak tahun 2005. Ia menegaskan bahwa yang LBH bela bukan keyakinannya hak sipil dari Warga Negara yagn terlibat permasalahan tersebut. Pada prinsipnya menurutnya bahwa setiap Warga Negara sama posisinya di depan hukum. Bantuan LBH terhadap kalangan minoritas seperti Lia Eden, Syiah, dan Ahmadiyah didasarkan pada keyakinan bahwa selama mereka Warga Negara Indonesia maka mereka memiliki hak sebagai Warga negara yang harus diperjuangkan. Hak mereka dijamin oleh konstitusi.  Selama ini minoritas merasa tidak terlindungi oleh negara dan ragu membuka identitas keyakinan dan kepercayaannya karena rasa aman mereka tidak terlindungi. Mas mayong diawal menanyakan kepada guru beberapa pertanyaan, seperti apakah hidup adalah hak, tolong menolong, persaudaraan, mendapatkan tempat tinggal dan mendirikan rumah ibadah. Hampir seluruh guru menyetujuinya. Kemudian ketika ditanyakan mengenai aborsi, perceraian dan isu-isu lain ada guru yang setuju dan tidak setuju. Setelah mempertanyakan hal tersebut dijelaskan bahwa dalam konteks pertama yang ditampilkan adalah hak yang universal dan diakui oleh hampir setiap individu. Sedangkan untuk pertanyaan kedua adalah sesuatu yang berbeda di setiap tempat tergantuk konstruksi sosial masyarakat, lingkungan sosial budaya suatu masyarakat. Dalam konteks tersebut Mas Mayong menjelaskan mengenai nilai yang bersifat relatif. Dalam hal lain Ia menjelaskan mengenai beberapa filosofi tiap agama yang mengajarkan hal baik.

Dalam konteks nasional Mas Mayong kemudian menjelaskan diskriminasi terhadap masyarakat minoritas yang dalam hal tertentu memiliki perbedaan pandangan politik atau keyakinan keagamaan. Perbedaan akses layanan kepada kamum minoritas dan kasus-kasus penyerangan terhadap kalangan minoritas terutama karena perbedaan keyakinan meningkat. Karena kepercayaannya tidak diakui maka ia kesulitan untuk mengurus KTP kemudian susah untuk menikah kemudian jika punya anak ia kesulitan untuk bersekolah di sekolah negeri. Efek domino terjadi ketika warga tersebut memiliki pandangan kepercayaan atau keyakinan keagamaan. Mas Mayong memberi gambaran yang utuh kepada para guru kecenderungan intoleransi yang meningkat dan efeknya bagi masyarakat minoritas. Dalam penanganan masalah peneyrangan atau diskiriminasi menurutnya selalu ada beberapa pihak yang terlibat yaitu tomas (tokoh masyarakat) yaitu sesepuh kampung atau orang yang terpandang di wilayah tersebut, toga (tokoh agama) yang memiliki kapasistas sebagai orang yang memahami ilmu keagamaan. Dua tokoh tersebut penting dalam penyelesaian permasalahan. Yang jadi masalah selalu ada tojing (tokoh bajingan) dalam penyelesaian yang selalu memicu konflik yang berujung pada kekerasan, pengusiran, dan penjarahan harta benda. Yang jadi masalah adalah negara cenderung diam ketika terjadi kasus yang menyangkut masalah keagamaan dan keyakinan. Selalu ada kaitan dengan politisasi dan kepentingan menjelangan Pemilukada.

Setelah menjelaskan mengenai gambaran keadaan  dan contoh-contoh perilaku diskriminatif yang terjadi karena alasan keagamaan atau keyakinan sesi kemudian diskusi. Dari diskusi beberapa guru yaitu Pak Johan, Pak Ammar, Pak Rico, Pak Gugum, Pak Yusuf, dan Pak Ghani bertanya dan memberikan komentar mengenai pemaparan dari Mas Mayong. Masing-masing menyampaikan pertanyaan dan argumentainya dari mulai mengenai segregasi yang terjadi saat ini by design atau alamiah, mengenai sejarah HAM dari barat, mengenai pembangunan rumah ibadah, pola mengingatkan kelompok yang agama sama tetapi menganut keyakinan berbeda, hak orang tua dalam pengajaran agama dan pendidikan agama di sekolah agama, konsep utuh agama yang diajarkan oleh negara serta perlunya imbangnya dialog antara MUI dan pihak Ahmadiyah juga informasi yang imbang dari dialog tersebut. Jika tidak ditutup diskusi tentu akan panjang, tema mengenai agama dan HAM memang tema seksi yang menarik untuk didialogkan. Tentu perlu rangkain diskusi lain untuk mengkaji permasalahan ini.

Di akhir acara Pak Komar kemudian menarasikan cerita tentang Joni satu nada. Joni yang selalu konsisten memainkan irama yang itu-itu saja selama hidupnya. Joni direpresentasikian sebagai orang yang tidak pernah mau menerima ragam perbedaan yang ada dalam kehidupan. Dan kalangan seperti Joni selalu ada di manapun masyarakat eksis. Lantunan lagu dan irinan gitar yang dibawakan oleh Mas Mayong menutup acara diskusi ini. Harapannya adalah Al Izhar sebagai lembaga pendidikan terus menyuarakan perhatiannya mengenai keberagaman di Indonesia. Keberagaman sebagai sesuatu yang natural dan memang menjadi relalitas haruan bangsa Indonesia. Al Izhar dapat menampilkan Islam yang mesra seperti yang dinyatakan oleh Acep Zamzam Noor salah satu seniman asal Jawa Barat. Islam Rahmatan lil alamin. Ini sesuai dengan tema yang terus disuarakan oleh Perguruan Islam Al Izhar, Cinta Indonesia, Cinta Keragaman.

Pondok Labu, 24 September 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s