Catatan Harian

Mari Bersyukur: Bekerja Sambil Bermain atau Bermain Sambil Bekerja?

080420111010Ketika saya sedang mencari file di laptop, saya temukan tulisan ini. Tulisan ini adalah tulisan saya pada tahun 2011. Saya pikir masih dapat menjadi pelajaran terutama bagi saya sendiri. Foto di atas adalah foto yang iseng saya ambil pada hari Jumat, 8 April 2011 ketika hendak berangkat beraktifitas di salah satu universitas di bilangan Rawamangun. Seperti biasa, pagi itu saya hendak berangkat ke kampus. Perjalanan dari kos-kosan ke kampus sekitar 15 menit. Dalam perjalan dari kos menuju ke kampus tidak ada hal yang istimewa dan luar biasa saja. Ketika memasuki gerbang kampus, saya melihat sesosok tubuh kecil dan mungil yang menarik perhatian. Tubuh kecil itu menggendong suatu bungkusan yang warnanya putih, tetapi warna putihnya sudah tidak tampak lagi. Warna putihnya sudah pudar dan digantikan oleh warna kusam. Barang yang dibawanya hampir setengah dari tinggi badannya. Anak tersebut menggendongnya dengan semangat dan tak terlihat kelelahan. Pakaian yang dikenakan anak tersebut adalah kemeja cokelat seperti kemeja seragam pramuka. tetapi kemejanya pun  sudah pudar warnanya. Celana pendek yang dikenakannya berwana biru dengan garis cokelat. Anak ini tidak memakai alas kaki, walaupun pada saat itu udara sangat panas menyengat dan tentu saja aspal pun panas. Walau demikian langkahnya tetap tegar dan tenang.

Barang yang dibawanya sepertinya adalah hasil pekerjaannya pada hari itu. Suasana panas tidak menghalangi semangatnya untuk membawa hasil pekerjaannya pagi itu. Selama beberapa menit saya terus memperhatikan anak tersebut dengan mata kagum. Sambil berjalan saya terus mengamati gerak gerik dari anak tersebut. Dalam taksiran saya usianya sekitar sebelas sampai dua belas tahun, usia di mana biasanya anak bersekolah. sedangkan anak yang saya amati sedang bekerja. Walaupun saya mengamatinya dari belakang, sesekali saya melihat ekspresi anak tersebut. Sepertinya tidak ada keraguan dari langkahnya. Sepertinya ia tidak peduli dengan hawa panas dan kaki kecilnya yang langsung menginjak aspal. Padahal meskipun masih pagi, panasnya sudah sangat terasa. Kendaraan lalu-lalang di sekitar anak tersebut, di kanan kirinya terparkir kendaraan motor dan mobil dan orang-orang yang berjalan. Anak itu pun tidak perduli dengan suasana di sekelilingnya. Pagi itu kampus sudah mulai ramai. Kendaraan yang parkir di kiri dan kanan jalan yang dilalui sang anakpun sudah sangat padat.

080420111011Ketika saya agak mendekat, terdengar sang anak mengeluarkan suara-suara seperti ketika pesawat tempur sedang melintas. Ketika penulis amati, ternyata tangan kanan anak memegang barang dibahunya, tangan kiri si anak memegang sesuatu berwarna hijau dan memiliki sayap. Ternyata itu adalah miniatur pesawat yang sedang di mainkan oleh anak tersebut. Permainan yang membuat dirinya asik saja berjalan walaupun udara panas, kaki tanpa alas dan barang bawaan yang terlihat berat (setengah tinggi badannya) tetapi terlihat sangat ringan karena sang anak hanya menggunakan tangan kanan untuk memegannya sedangkan tangan kiri memegang mainan miniatur pesawat tersebut.

080420111012Selama beberapa menit saya mengikuti anak tersebut, anak tersebut sepertinya tidak memperdulikan perhatian sekelilingnya. Tampaknya ia masuk ke dalam permainan yang ia ciptakan sendiri. sesekali gemuruh pesawat yang sedang terbang ke luar dari mulutnya. panas terik matahari bukan halangan untuk memainkan miniatur pesawat yang ada di tangan kirinya.  Ia tak perduli tampilan pakaiannya yang agak kusam, tak beralas kaki, memegang bawaan yang setengah dari tinggi badannya, bermain sendiri dengan asik. Sepertinya dunianya tidak berhak dimasuki oleh orang lain. Bermain sambil bekerja atau mungkin bekerja sambil bermain tampaknya sedang ia lakukan saat itu. Dengan mainan yang tampaknya tak bagus lagi, dengan pakaian yang lusuh dan terlihat agak kecoklatan, badan kecil dan kulit terbakar matahari tak mampu menganggu keasikan dalam bermain. dunia anak yang penuh dengan keceriaan sepertinya tidak ia lewatkan.

Akhirnya, kami berpisah di persimpangan jalan. Saya harus lurus dan anak tersebut harus belok ke kiri. Tangan kanannya tetap kokoh memegang barang putih kusam tersebut, dan tangan kiri tidak lepas dari miniatur pesawat, sesekali masih terdengar suaranya menirukan pesawat tersebut. Suatu pertemuan yang banyak memberikan inspirasi. Sebesar apapun beban yang dihadapi tetaplah tersenyum. Pelajaran dari seorang anak yang tetap semangat ditengah keterbatasannya.

                                        Rawamangun,  8 April 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s