Politik dan Kebangsaan

Penegakkan Hukum di Indonesia: Perjuangan Pelaksanaan Kata-Kata

Ada Apa Dibalik Topeng Kepemerintahan(Karya Athena Syarifa dan Rennisa Aru, Siswa SMAI Al Izhar)

Operasi tangkap tangan terhadap Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar semalam (2/10/2013) membuat siapa saja termasuk saya kaget. Bagaimana tidak kaget, selama ini mahkamah Konstitusi adalah Lembaga negara yang memiliki track record yang bersih dalam penyelenggaran negara. Mahkamah Konstitusi adalah lembaga baru pasca amandemen UUD 1945. Mahkamah Konstitusi seperti kita ketahui bersama memiliki 4 (empat) kewenangan dan 1 (satu) kewajiban sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk: 1. Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Memutus Sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 3. Memutus pembubaran partai politik, dan; 4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Saat ini konflik yang sering muncul dalam konteks politik dan tata negara adalah perselisihan yang terjadi setelah Pemilihan Kepala Daerah. Perselisihan tersebut banyak ditangani oleh Mahkamah Konstitusi.

Seperti diberitakan di kompas.com (http://nasional.kompas.com/read/2013/10/03/1308327/Apakah.Akil.Mochtar.Bermain.Sendiri.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp) Rabu malam tanggal 2 Oktober 2013 Akil ditangkap oleh KPK dalam operasi tangkap tangan. Bersamaan dengan penangkapan tersebut KPK menyita sejumlah uang dollar Singapura dan dollar Amerika senilai Rp 2,5 miliar-Rp 3 miliar. Dalam OTT tersebut diduga Chairun Nisa dan Cornelis akan memberikan uang ini kepada Akil di kediamannya malam itu. Pemberian uang tersebut diduga terkait dengan kepengurusan perkara sengketa pemilihan kepala daerah di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang diikuti Hambit Bintih selaku calon bupati petahana. Jika merujuk pada beberapa pendahulunya yang pernah menduduki jabatan Ketua MK, tentu ini menjadi berita sangat buruk bagi kredibilitas MK. Apalagi posisi Ketua MK adalah posisi strategis. Idealnya posisi tersebut ditempati oleh negarawan yang secara bijaksana dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan sesuai dengan fungsi dan kewenangan MK. Kita masih menunggu ke arah mana perkembangan kasus ini berjalan. Jika secara sah dan meyakinkan terbukti terlibat dalam kasus suap ini maka kepercayan publik kepada lembaga negara akan semakin terkikis.

Peristiwa tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK perlu diberi apresiasi, apalagi yang ditangkap adalah salah satu pejabat yang masih aktif di lembaga negara. Keberanian KPK dalam menangani kasus korupsi yang melibatkan pejabat-pejabat yag masih aktif tentu menjadi harapan bagi kita bersama, ternyata perjuangan melawan korupsi masih terus berjalan. Sudah beberapa pejabat aktif yang terlibat kasus korupsi ditangkap oleh KPK. Di sisi lain tentu penangkapan pejabat publik yang memiliki posisi strategis dalam penanganan hukum di Indonesia menjadi tragedi bagi penegakkan hukum di Indonesia. Pejabat publik yang idealnya adalah pelayan rakyat dan memberikan uswah yang baik bagi masyarakat ternyata masih jauh dari harapan.

Beberapa abad yang lalu Aristoteles telah menyatakan bahwa hukum adalah rangkaian peraturan yang mengikat baik untuk rakyat maupun penguasa. Sayangnya di negeri ini hukum cenderung mengikat rakyat bukan penguasa. Rakyat yang merupakan pemilik sah dari negeri ini belum mendapat haknya yang sesuai. Pajak yang telah mereka bayarkan belum maksimal dirasakan manfaatnya. Infrastruktur yang seringkali tidak memadai dari harapan ideal. Jaminan keadilan seperti impian di negeri dongeng yang entah kapan akan diperoleh. Wahai pejabat publik belum puaskah kalian menyiksa rakyat dengan perilakumu yang tidak amanah? Entah di mana rasa keadilan di hati mereka. Tak sadarkah uang dan fasilitas yang mereka nikmati adalah jerih payah rakyat Indonesia lewat pembayaran pajak? saya rasa mereka menyadari itu semua, tapi mereka mengabaikannya. Sumpah jabatan yang diucapkan oleh mereka ketika diangkat menjadi pejabat publik mungkin hanya pemanis bibir yang lewat tanpa makna. Janji tinggal janji. Teringat kata-kata salah satu Sosiolog, Prof. Paulus yang menyatakan bahwa gap antara nilai ideal (ideal values) dengan nilai aktual (actual values) di negeri ini sangatlah terbuka lebar. Aturan yang ada tidak sesuai dengan realitas yang ada, lain di bibir lain di hati lain pula dalam perbuatan. Saya teringat puisi karya W.S. Rendra yang sering dideklamasikan dan dinyanyikan oleh Bu Sully dan Pak Tono Guru Bahasa Indonesia di tempat saya mengajar. Dalam Puisi itu dinyatakan bahwa Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Pelaksanaan kata-kata lah yang sering jauh dari kata-kata yang diucap sehari-hari, jauh dari janji yang dinyatakan dan paling berat untuk direalisasikan.

Lalu mau dibawa kemana negara ini jika setiap hari kita disuguhi kabar-kabar buruk baik dalam bidang hukum, ekonomi, politik, sosial? Berat rasanya terus optimis di tengah beragamnya kasus yang terjadi di negeri ini. Tapi jika bukan kita siapa lagi yang akan memberikan perhatian terhadap negeri ini. Saya selalu berharap rasa kesal ini merupakan bentuk terkecil dari harapan saya terhadap perbaikan negeri ini. Yang saya bisa saya lakukan saat ini adalah terus memberi harapan kepada para peserta didik yang saya ajar bahwa negeri ini butuh mereka generasi muda yang tangguh dan punya cinta yang kuat terhadap negeri ini apapun yang terjadi. Teringat salah satu kata-kata dari Mikhail Gorbachev if not me who, if not now when? Jika bukan kita siapa yang mau mencintai dan membela Indonesia, jika bukan sekarang, kapan lagi kita berbuat yang terbaik untuk negeri ini.

                                                                                                             Pondok Labu, 3 Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s