pendidikan

Pembelajaran PKn dengan Memperhatikan Teori Perkembangan Piaget dan Teori Pembelajaran Konstruktivisme

Siswa kelas X dan XI SMA sudah memasuki tahapan remaja akhir. Rentang usia mereka antara 15 sampai 17 tahun. Menurut Piaget  rentang usia 11-17 seorang anak berada pada tahapan operasional formal. Pada tahapan ini anak tidak lagi terbatas pada apa yang dilihat atau didengar ataupun pada masalah yang dekat, tetapi sudah dapat membayangkan masalah dalam pikiran dan pengembangan hipotesis secara logis. Perkembangan lain pada tahap ini ialah kemampuannya untuk berfikir secara sistematis, dapat memikirkan kemungkinan-kemungkinan secara teratur atau sistematis untuk menyelesaikan masalah.

Dalam konteks pelajran PKn yang di dalamnya terdapat konten mengenai politik, hukum, dan kebangsaan. Permasalahan-permasalahan dalam pelajaran PKn adalah permasalahan yan kontekstual sesuai dengan realitas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu jika merujuk pada tahapan perkembangan yang disampaikan oleh Piaget, maka siswa dengan bekalnya untuk berfikir secara sistematis sudah dapat membuat indikator dari permasalahan yang ada di masyarakat dan kemudian secara sistematis menyampaikan penyelesaian masalahnya.

 Di kelas misalnya dalam Pelajaran Budaya Politik kelas XI, saya memberikan penugasan kepada siswa untuk melakukan observasi di sekitar lingkungan Al Izhar mengenai orientasi politik dari kelompok masyarakat yang mereka temui. Para siswa dibekali dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan orientasi politik tersebut. Ada tiga orientasi politik yaitu:

  1. Orientasi Kognitif: merupakan pengentahuan masyarakat tentang sistem politik, peran dan segala kewajibannya. Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan mengenai kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
  2. Orientasi Afektif: merupakan perasaan masyarakat terhadap sistem masyarakat dan peranannya, serta para aktor dan penampilannya. Perasaan masyarakat ini dapat saja
  3. Orientasi Evaluatif: merupakan keputusan dan pendapat masyarakat mengenai objek-objek politik yang secara tipikal melibatkan nilai moral yang ada dalam masyarakat dengan kriteria informasi dan perasaan yang mereka miliki.

Berkaitan dengan orientasi kognitif ditanyakan pertanyaan seperti pada tanggal berapa Indonesia merdeka; siapa presiden pertama, presiden saat ini, gubernur dan wakil gubernur DKI saat ini; partai politik yang ikut di pemilu. Berkaitan dengan orentasi afektif pertanyaannya kesan terhadap gubernur dan wagub DKI. Dan terakhir berkaitan dengan orientasi evaluatif bagaimana kinerja dari gubernur dan wakil gubernur, harapan terhadap Indonesia di masa depan dan lain-lain.

Dengan bekal pertanyaan tersebut para siswa kemudian mulai mewawancarai guru, petugas kebersihan, petugas taman, penjaga kantin, driver, asisten rumah tangga, pedagang yang ada di lingkungan Al Izhar. Setelah mendapatkan data, di kelas ditanyakan apa hasil wawancara mereka dan bagaimana tanggapan mereka. Para siswa kemudian mulai menganalisa keadaan sosial yang mereka temui di lapangan dengan teori yang mereka dapatkan di kelas.

Dari beberapa temuan dan teori disimpulkan yang memengaruhi budaya politik dan orientasi politik adalah tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, kesungguhan pemerintah, supremasi hukum dan media massa yang independen. Para siswa masing-masing sesuai kelompoknya memberikan hasil temuan dan argumentasi mereka terhadap hasil wawancara.

Tugas wawancara ini diberikan kepada siswa dan diakhir meminta mereka memberikan analisa terhadap temuan dikarenakan pada usia 15-17 tahun mereka sudah mampu berfikir sistematis dalam menyelesaikan perasalahan yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian berdasarkan teori belajar konstruktivis maka para siswa dengan wawancara yang dilakukannya dapat memaknai hasil wawancaranya dan analisanya menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Terdapat pemaknaan pengetahuan yang merupakan hasil konstruksi dan interaksi dengan masyarakat secara langsung. Dalam teori konstruktivisme ini pembelajaran bukan hanya transfer pengetahuan tetapi bagaimana siswa mengkosntruksi pengetahuannya sendiri.

Tugas yang diberikan merujuk pada empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya yaitu:

  1. proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb).
  2. proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play).
  3. proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan).
  4. proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).

Prinsip tersebut dilakukan dengan harapan pembelajaran yang dilaksanakan dikelas dapat memberikan pengalaman langsung bagi siswa berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat adalah laboratorium siswa untuk belajar dan tak hanya terbatas pada ruang kelas. Ketika siswa mampu membangun pengetahuannya sendiri diharapkan hal tersebut akan melekat sampai mereka dewasa dan menjadi kebiasaan yang terinternalisasi dalam keseharian.

Pondok Labu, 7 Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s