Workshop “Kebhinekaan, Kemanusiaan, dan Pendidikan Agama yang Lapang”

20131116_080710Spanduk Kegiatan

Hari Sabtu tanggal 16 November 2013 saya mengikuti Workshop “Kebhinekaan, Kemanusiaan, dan Pendidikan Agama yang Lapang” yang diadakan di LBH Jakarta. Saya mendapat informasi dan undangan dari salah satu guru di sekolah yaitu Pak Komar. Karena saya berangkat dari Bogor, pagi-pagi saya sudah berangkat agar sampai ke tempat kegiatan tepat waktu. Saya memilih menaiki commuter line karena lebih cepat, mudah, dan nyaman.Pukul setengah 7 saya sudah tiba di stasiun Bogor dan alhamdulillah langsung mendapat commuter line yang sudah tersedia untuk berangkat ke Jakarta.

Workshop ini ditujukan bagi Guru di tingkat SD-SMA di wilayah Jabodetabek. Workshop yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga ini merupakan kerjasama dari Yayasan Cahaya Guru (YCG), ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace), Kedutaan Swiss, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Alhamdulillah saya datang tepat waktu. Saya melihat kurang lebih ada 50 guru yang mengikuti workshop tersebut. Selain guru ternyata ada beberapa kelompok yang mengikuti workshop ini seperti wakil dari Jemaat Ahmadiyah, Wakil dari Jemaat Gereja Philadelpia, Wakil dari kelompok kepercayaan, dan Wakil dari kelompok salah satu Gereja di Parung. Dengan hadirnya beragam kelompok acara ini terlihat semakin menarik bagi saya.

Acara di buka oleh Ibu Henny Supolo Sitepu yang merupakan Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru. Bu Henny menyampaikan maksud dari kegiatan ini dan apa saja kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh YCG. Kegiatan yang sudah dilakukan oleh YCG antara lain melakukan pertemuan-pertemuan rutin dua bulanan di LBH dengan membahasa beragam masalah terkait kebangsaan, keragaman dan kemanusian; juga ada acara nonton teater bersama para guru; dan juga pertemuan dan workshop di beberapa daerah di Indonesia.

Pak Komar, Guru SMAI Al Izhar kemudian melanjutkan acara dengan memberi kesempatan kepada para peserta untuk saling mengenal selama 60 detik. Pak Komar menginstruksikan kepada para peserta didik dalam waktu 60 detik untuk bangun dari tempat duduknya masing-masing dan bersalaman dengan sebanyak-banyaknya peserta. Syarat berkenalan tersebut adalah menjabat erat, saling menatap, tersenyum yang paling manis dan sebutkan nama. Perkenalan cara ini dilakukan agar peserta saling membuka diri sehingga suasana menjadi lebih hangat dan bersahabat. Para peserta sangat antusias ketika sesi ini dilakukan.

setelah perkenalan dengan bersalaman selama beberapa detik, acara dilanjutkan dengan pendalaman konsep mengenai multikulturalisme yang disampaikan oleh ibu Musdah Mulia. Ia merupakan Ketua ICRP dan Guru Besar di UIN Jakarta. Yang menarik dari sosok Bu Musdah adalah transformasinya tentang pemahaman keagamaan. Ia bercerita bahwa ia berasal dari kalangan keluarga pesantren yang sangat ketat dalam hal keagamaan. Sikapnya menjadi lebih moderat ketika ia mulai kuliah dan banyak membaca pemikiran dari beragam tokoh. Ia menyatakan dalam memperjuangkan mengenai keberagaman dan kebangsaan terkadang ia mendapat tekanan dari beragam pihak yang tidak senang akan sikapnya. Dicap dan diacam merupakan hal yang sudah biasa diterimanya. Hal tersebut menurutnya adalah resiko perjuangan dalam membela apa yang dianggapnya benar. Ia menyatakan bahwa hakikat diturunkannya ajaran Islam dan diutusnya Nabi Muhammad adalah dalam rangka pembebasan. Di kala itu nabi hadir dalam situasi jaman ketika orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan tertindas dan direndahkan. Ajaran yang dibawa nabi ketika itu menarik perhatian para kaum yang didzolimi atau kalangan mustadafin. Oleh karena alasan tersebut maka menurutnya umat Islam harus menjadi yang terdepan dalam rangka melawan penindasan yang dilakukan oleh siapapun. Keragaman yang ada di Indonesia harus menjadi aset yang luar biasa bagi kemajuan bangsa ini bukan sebaliknya menjadi permasalahan. Ia mengajak kita semua agar kita memiliki sikap konstruktif terhadap keragaman dan perbedaan. Para guru harus mampu membangun sikap anti diskriminasi dan membangun kepedulian sosial terhadap masyarakat. Menurutnya pendidikan harus mampu membangun daya kritis bagi para peserta didik. Ia mengajak para guru untuk memberikan pemahaman kepada para peserta didik agar terbangun kepekaan dan daya kritisnya dengan mengandandalkan nalar dan akal sehat.

Kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Mas Mayong, Ketua LBH Jakarta. Materi yang disampaikan olehnya mengenai Toleransi beragama di Indonesia. Dalam sesi ini yang menarik adalah ketika permainan peran sebagai mayoritas dan minoritas. masing-masing peserta diberikan kertas yang di dalamnya terdapat nama kelompok keagamaan tertentu. Selanjutnya para peserta dibariskan dan diminta mendengarkan instruksi dari Mas Mayong. Sebelumnya di dinding di depan peserta sudah ditempel kertas yang isinya belum diperlihatkan. Pada Kertas yang diberikan kepada peserta terdapat permasalahan seperti eksistensi kelompok, stigma masyarakat, pelayanan publik, pemaksaan agama, pendidikan di sekolah, posisi di pemerintahan, kekerasan, mencari nafkah dan bantuan pemerintah. Mas Mayong kemudian membaca berdasarkan permasalahan yang ada di kertas. Misalnya mengenai eksistensi kelompok, ketika Mas Mayong menyatakan, “eksistensi kelompok diakui oleh pemerintah”, maka peserta yang merasa bahwa pernyataan Mas Mayong benar harus maju ke depan satu langkah. Peserta yang tidak mendapatkan perlakuan tersebut maka mundur selangkah. Sampai beberapa pernyataan yang dibacakan oleh Mas Mayong ada peserta yang terus maju dan mendekat kepada kertas yang sudah ditempel dan ada peserta yang terus mundur dan menjauh dari kertas yang sudah ditempel di tembok. Setelah selesai Mas Mayong menginstruksikan agar para peserta dalam hitungan beberapa detik harus memegang kertas tersebut. Alhasil hanya yang paling dekat yaitu peserta yang selalu maju yang mendapat kesempatan memegang kertas tersebut. Setelah permainan tersebut selesai, Mas Mayong kemudian menunjukan isi dari kertas tersebut yaitu kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian. Masing-masing peserta diminta untuk berpendapat mengenai kegiatan permainan peran tersebut. Saya dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya kertas yang ditempel adalah hal yang ingin dicapai oleh setiap manusia. Hal tersebut sesungguhnya merupakan hak setiap manusia dan tidak boleh direbut oleh siapapun termasuk oleh negara. Akan tetapi dalam kehidupan bernegara seringkali hal tersebut tidak terealisasi dengan baik. Warga atau kelompok tertentu yang minoritas seringkali mendapat perlakuan yang tidak adil dan pembedaan yang ujungnya adanya diskriminasi. Kesulitan untuk membuat KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan, pendirian rumah ibadah, serangan fisik bahkan pengusiran dan pengucilan dari kelompok mayoritas dan negara. Hak mereka sebagai warga negara, pemilik sah dari republik ini seringkali dilupakan.

Sesi ini dilanjutkan dengan testimoni dari beberapa kelompok yang mengalami diskriminasi. Misal dari jemaat Ahmadiyah yang selalu disulitkan dalam aktivitas peribadatan bahkan sampai perusakan rumah ibadah dan tempat tinggal, dari jemaat HKBP Philadelphia yang sulit mendirikan rumah ibadah demikian juga jemaat gereja di Parung yang hampir mirip kasusnya, dan juga dari kelompok penghayat kepercayaan yang kesulitan dalam masalah administrasi kenegaraan seperti pengurusan KTP, akta dan surat nikah. Sesi ini sangat emosional bagi saya, saya hidup sebagai mayoritas dan tidak pernah merasakan kesulitan hidup sebagai minoritas mendapatkan pelajaran yang sangat berarti dari testimoni teman-teman yang setiap hari berjuang melawan diskriminasi yang dilakukan terhadap mereka. Sedih melihat saudara kita yang sama-sama WN Indonesia tetapi mendapat perlakuan yang berbeda karena mereka adalah kelompom minoritas. Padahal janji dalam pembukaan Undang Undang Dasar 45 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kalimatnya tegas dan eksplisit, “melindungi segenap bangsa dan tumpah darah”, bukan melindungi sekelompok orang.

Kegiatan hari ini ditutup dengan rencana tiap guru yang akan dilakukan di sekolah. Kegiatan ini bagi saya sangat berarti. Kegiatan ini semakin menyadarkan saya bahwa Indonesia dibangun oleh beragam agama, suku, bahasa dan kepercayaan harus terus dikawal dan dirawat. Indonesia bukan milik kelompok tertentu dan tidak boleh ada klaim dari kelompok tertentu yang merasa dirinya memiliki Indonesia. Indonesia adalah milik kita bersama, tak perduli apa agama, suku, bahasa, ideologi politik, warna kulit kita. Indonesia adalah milik kita.

Bogor, 17 November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s