Meneladani Hoegeng Sosok Polisi Jujur

download

Almarhum Hoegeng Imam Santoso

Jujur adalah mata uang yang berlaku di mana saja, itu yang disebutkan oleh pepatah. Tentu setiap orang mengamini apa yang dinyatakan oleh pepatah itu. Bahwa orang jujur selalu mendapat tempat di mana saja. Kejujuran adalah nilai yang universal dan diakui oleh seluruh agama. Tapi mirisnya saat ini betapa sulit menemukan sosok teladan yang dapat dijadikan rujukan aplikasi dari nilai kejujuran tersebut.

Sabtu ini karena tidak ada yang dikerjakan sambil menunggu istri saya browsing di youtube beberapa  video yang menarik. Saya mulai melihat video mata najwa mengenai Soekarno dan Kick Andy mengenai Hoegeng mantan Kapolri. Sebagai Kepala Kepolisian RI periode 1966-1971 Hoegeng Imam Santoso  sangat memberikan kenangan bagi masyarakat. Dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyat dan sangat peduli dengan rakyat. Sebagai Jenderal ia tidak berlimpah harta, sesuatu yang langka jika merujuk jabatan yang dimilikinya. Kisahnya sangat menginspirasi. Sebagai Jenderal yang memiliki pangkat tinggi dan memiliki kekuasaan adalah sesuatu yang biasa jika ia memiliki harta yang berlimpah. Jika bicara Hoegeng saya teringat pernyataan almarhum Gus Dur yang menyebutkan bahwa di Indonesia ada tiga polisi jujur. Pertama Hoegeng, kedua patung polisi dan ketiga polisi tidur. Guyonan Gusdur ini tentu menjadi pro kontra, tetapi menjadi salah satu sindiran keras bagi pejabat publik khususnya instansi kepolisian. Jika ingin membantah guyonan ini tentu dengan pembuktian bahwa masih banyak polisi yang memiliki kejujuran dan integritas yang tinggi.

Banyak kisah yang saya dapatkan dari video ini, sebagai Polisi beberapa kali ia menolak pemberian dari perusahaan maupun pihak-pihak yang memiliki kepentingan karena jabatan yang dimilikinya. Sikap bersahaja yang terus konsisten ia lakukan sampai akhir hayatnya. Diberitakan di Kompas bahkan uang pensiun perbulannya hanya 10 ribu rupiah. Dikutip dari Kompas disebutkan oleh anaknya Aditya Hoegeng Sampai 2001 uang pensiunan Hoegeng 10 ribu rupiah dan kemudian setelah 2001 baru ada penyesuaian jadi sekitar Rp 1 juta. Ketika meninggal istrinya hanya menerima uang pensiun 5oo ribu/bulan.

Cerita lainnya adalah ketika putranya Adit hendak mendaftar ke AU. Hoegeng tidak mengijinkan anaknya sampai akhirnya sang anak terlambat mendaftar. Padahal jabatan sebagai Kapolri dapat saja dimanfaatkan sebagai cara untuk mempermudah sang anak untuk menjadi tentara. Dan masih banyak cerita lain yang memberikan inspirasi dan keteladanan yang masih cocok dengan realitas kekinian.103746_suhar

Kisah Mengenai Hoegeng

Lalu saya merefleksikan kisah Hoegeng tersebut dengan keadaan saat ini. Sejumlah penjabat bukannya memberikan keteladanan malahan berlomba-lomba menampilkan pola hidup mewah. Jabatan digunakan sebagai sarana pemuasaan pribadi bukan untuk mengabdi dan membantu rakyat agar lebih baik dan sejahtera. Jika merujuk pada hal tersebut rasanya kerinduan kepada sosok seperti Hoegeng yang dengan konsisten menunjukkan integritasnya. Kejujuran menjadi barang langka yang semakin sulit ditemukan. Jika dahulu orang jujur akan mujur, sekarang yang jujur maka semakin terpinggirkan dari realitas kesehariaan. Padahal kejujuran adalah hal yang sangat menenangkan hati. Tentu masih banyak pejabat publik yang jujur dan memiliki integritas serta semangat untuk mengabdi kepada rakyat. Kita semua berharap kepada mereka agar mampu memberikan keteladanan bagi masyarakat.

Rasanya selalu tergetar ketika melihat pemimpin memiliki kejujuran dan integritas dalam melayani masyarakat. Bukan karena pencitraan, bukan karena ingin disanjung atau bahkan hanya karena ingin terpilih kembali ketika pemilihan umum. Doa kami rakyak Indonesia untuk mereka, para pejabat yang mensadaqohkan dirinya untuk rakyat. Merekalah yang siang malam selalu bekerja keras untuk kemajuan bangsa dan negara. Tercelalah para pejabat publik yang setiap hari hanya memikirkan diri dan kelompoknya serta berusaha mengambil uang rakyat serta menyianyiakan jerih payah rakyat. Semoga kami dapat meneladanimu Pak Hoegeng.

Bukit Duri, 14 Desember 2013

 

 

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: