Pandangan Fanon dan Bhabha mengenai Kolonialisme

Kajian Postkolonial Bhabha cukup dipengaruhi oleh para pemikir poststrukturalis seperti Jaques Derrida, Jaques Lacan, dan Michel Foucault. Dengan teori liminitasnya Bhabha bermaksud mengupas pertentangan yang keliru antara teori dengan praktek politik dalam wacana kolonialisme. Bhabha mengajukan model liminitas untuk menghidupkan “ruang” persinggungan antara teori dan praktek kolonisasi, suatu ruang yang menjembatani hubungan timbal balik antara keduannya, yaitu teori dan prkatek. Baginya antara teori dan praktek tidak dapat dipilij salah satu saja untuk dikritik. Teori dan praktek berada bersebelahan.

Teori adalah wahana ideologi dan dalam mewujudkannya, teori menciptakan situasi politis. dengan menyandingkan teori dan praktek, Bhabha berusaha menemukan pertalian dan ketegangan antara keduanya yang melahirkan hibriditas. Produksi makna menyaratkan “teori” dan “praktek” digerakan ke dalam wacana melalui Ruang ketiga, yang menggambarkan kondisi umum bahasa dan implikasi-implikasi khusus daru wacana tersebut dalam suatu strategi yang institusional dan performatif.

Dalam Key Concepts in Post-Colonial Studies dijelaskan bahwa pentingnya teori liminitaas untuk teori postkolonial adalah ketepatgunaanya untuk menjelaskan dan mendeskripsikan suatu “ruang antara” di mana perubahan budaya dapat berlangsung. Terdapat ruang antar budaya di mana terdapat proses gerak dan pertukaran antara status yang berbeda-beda yang terus menerus. Bhabha menjelaskan bagaimana budaya-budaya itu bergerak keluar masuk ruang ketiga dengan indahnya. ia terinspirasi dari karakter arsitektur tangga-hubung karya Rene Green. Tangga hubung itu memiliki roda yang mengalir antara ruang bawah dan ruang atas. Tangga yang terus berputar itulah  ruang ketiga. Bhabha berusaha menghindari oposisi binner yang konfrontatif. Bhabha hendak menawarkan bahwa ruang tersebut mampu berperan sebagai ruang untuk interaksi simbolik. Dalam pengertian tertentu dapat dikatakan bahwa wacana  postcolonial secara konsisten berada di ruang tersebut karena kutub-kutub retorika penjajahan di satu sisi dan karakter nasional atau rasial terus menerus dipertanyakan dan dipermasalahkan. Ruang ketiga tersebut adalah teks. Teks dapat hadir dalam novel, film, music. Dalam teks-teks, aneka pemaknaan dilakukan. Menulis dalam artian ini adalah bukan hanya mencatata realitas sosial semata, tapi juga memberikan pemaknaan pada realitas tersebut.

Ruang ketiga pengalaman-pegalaman intersubjektif dan kolektif kebangsaan, kepentingan komunitas serta nilai-nilai kebudayaan didiskusikan. Ruang ketiga yang disampaikan Bhabha memberikan kontribusi penting bagi pemahaman perbedaan budaya. Bhabha berpendapat bahwa identitas budaya bukanlah identitas bawaan yang sudah diberikan sejak lahir dari kekosongan. Identitas kultural bukan entitas yang ditakdirkan, tidak bisa direduksi, atau ciri ahistoris yang menetapkan konvensi kultural. Pandangan oposisi biner “penjajah” dan “terjajah” tidak lagi sebagai sesuatu yang terpisah satu dari yang lainnya dan masing-masing berdiri sendiri. Bhabha menganjurkan bahwa negoisasi kultural mencakup perjumpaan dan pertukaran tampilan budaya yang terus menerus yang pada saatnya akan menghasilkan pengalaman timbal balik akan perbedaan budaya. Bahwa bukan hanya yang terjajah yang mengambil atau meniru kaum penjajah, dalam beberapa hal kaum penjajah pun mengambil atau meniru dari kaum terjajah walaupun dalam porsi yang lebih sedikit. Fanon berpendapat bahwa konsep kolonialisme selalu diwarnai oleh kekerasan. Baik dilakukan oleh penjajah maupun  oleh terjajah ketika melakukan perlawanan. Kekerasan selalu menjadi pengendali dalam tatanan dunia kolonial, yang tanpa henti menabuh gendering irama untuk penghancuran bentuk-bentuk sosial pribumi dan mengahncurkan tanpa bentuk-bentuk sosial peribumi dan mengahancurkan tanpa memperbaiki sistem acuan ekonomi, adat berpakaian dan kehidupan eksternal, kekerasan yang sama akan diklaim dan diambil alih oleh pribumi pada suatu ketika, setelah memutuskan untuk mewujudkan sejarah pada dirinya sendiri. Karena itu mengahancurkan dunia kolonial adalah aksi mental yang sangat jelas, sangat mudah dipahami dan yang mungkin dilakukan oleh salah satu dari orang-orang yang terajajah. Menghancurkan dunia kolonial tidak berarti bahwa setelah batas-batas dihapuskan, saluran-saluran komunikasi akan dibangun di antara dua zona itu. Penghancuran dunia kolonial tidak lebih tidak kurang adalah penghapusan satu zona, penguburannya di kedalaman bumi atau pengusirannya dari negara itu. Tantangan dari pribumi terhadap dunia kolonial bukanlah konfrontasi rasional terhadap suatu pendirian. Tantangan-tantangan ini bukan merupakan risalat tentang hal-hal universal, namun afirmasi tak rapi atas ide asli yang dikemukakan sebagai hal universal. Dunia kolonial adalah dunia Manichean. Para pendatang tidak hanya membuat batas fisik yang dijaga oleh Polisi, namun mengkonstruksi makna dan simbol-simbol bahwa orang-orang pribumi adalah: personifikasi dari kejahatan, kekurangan nilai, tidak memiliki etika. Bahkan manicheisme ini sampai pada kesimpulan logisnya dan tidak memanusiakan pribumi bahkan menyebut mereka sebagai binatang. Dalam konteks Indonesia misalnya perjuangan kemerdekaan selain dilakukan oleh proses diplomasi juga diwarnai oleh ketegangan-ketegangan kekerasan. Karena ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tahun 1945 pun tidak serta merta rakyat Indonesia terbebas dari penyerangan senjata yang dilakukan oleh Belanda. Hingga tahun 1949 Belanda dengan membonceng Sekutu masih berusaha merebut Indonesia. Perjuangan kemerdekaan Indonesia pun tak lepas dari apa yang disebut perang fisik dengan menggunakan senjata

Berbeda dengan Fanon, Bhabha mengajukan suatu pemikiran bahwasanya relasi budaya-budaya, termasuk penjajah dan terjajah berada di dalam interdependensi dan konstruksi subjektifitas yang saling timbal balik. Bhabha berpendapat bahwa budaya dan sistem budaya  terbentuk dalam ruang ketiga. Interdependensi itu mengambil wajah dalam hibriditas atau persilangan antar keduanya. Hibriditas memunculkan diri dalam budaya, ras, bahasa dan sebagainya. Hibridisasi yang digagas oleh Bhabha sebagai suatu proses penciptaan identitas kultural. Hibridisasi dapat muncul dalam mimikri. Contohnya apabila  kaum Jawa meniru kaum Eropa dalam berdagang dan berpakaian. Hibriditas mengacu pada proses di mana para penulis dan pemikir bumiputera menyingkapkan hakikat wacana postcolonial yang bersifat beranekaragam dan kontingen, namun berlindung dibelakang klaim tunggal dan absolut. Akibatnya wacana postkolonial ini dicirikan sebagai ambivalen. Seperti yang disampaikan sebelumnya ada mimikri. Hibriditas atau hibridisasi  adalah bentuk lain dari mimikri, sebuah teks hbrid yang berbeda dari teks “resmi” wacana kolonial adalah produk dari meniru (mimikri). Meskipun penggunaan kedua istilah ini terbatas dalam lingkup konteks diskursif yang sejenis, keduanya bisa menjadi alat yang ampuh dalam perjuangan antikolonial sebab kedua istilah ini memunculkan keraguan atas ide-ide universalisme dan identitas-diri sebagaimana dipahami oleh ideologi-ideologi kolonial. Konsep mimikri pertama kali digagas oleh Franz Fanon dalam Black Skin, White Mask di mana ia berargumen bahwa orang-orang yang dijajah, yang awalnya dipaksa untuk meninggalkan anggapan tradisional tentang jatidirinya dan identitas nasional, kemudian mulai belajar untuk mengadaptasi identitas mereka dengan identitas tuan mereka yaitu kaum penjajah. Kaum terpelajar dari Indonesia yang mulai melakukan peniruan baik dari cara berpakaian maupun dari cara bersikap dari Belanda. Bahkan beberapa pejuang kemerdekaan mendapat pendidikan barat dan bersekolah di Belanda. Akan tetapi penggunaan atribut, pola berpikir yang mereka dapatkan dari Belanda dan barat tidak serta merta membuat mereka hanyut dan tenggelam dalam penjajahan Belanda. Ilmu yang mereka dapat dari barat kemudian dijadikan sebagai bahasa perlawanan terhadap Belanda.

Bhabha kemudian mengeksplorasi penggunaan mimikri lebih mendalam dalam teori postkolonialnya. Bhaba menyatakan bahwa mimikri adalah sebuah praktek dekonstruksi di mana si terjajah menulis kembali wacana kolonial, serempak mengubah wacana tersebut menjadi produk hibrid dari pergulatan intelektual, dan dengan demikian ia sekaligus menyingkapkan kontradiksi dan inkonsistensi yang membuat wacana tersebut menjadi tersedia bagi penduduk asli.

Hibriditas merupakan produk konstruksi kultural kolonial yang mau tetap membagi strata identitas murni asli penjajah dengan ketinggian kultur yang didiskriminasikan dengan kaum campuran.

Referensi

Fanon, Frantz. 2000. Bumi Berantakan (Terjemahan dari The Wretched of The Earth). Jakarta: TepLOK Press.

 Mudji Sutrisno, Diri dan “The Other”, dalam Mudji Sutrisno & Hendar Putranto Hermeneutika Pascakolonial, Soal Identitas. 2004. Yogyakarta: Kanisius.

 Supriyono, Mencari Identitas Kultur Keindonesiaan, dalam Mudji Sutrisno & Hendar Putranto Hermeneutika Pascakolonial, Soal Identitas. 2004. Yogyakarta: Kanisius.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s