Sekilas Mengenai Pemikiran Zygmunt Bauman

zygmunt bauman

Zygmunt Bauman adalah analis dunia modern yang menawarkan wawasan yang tajam, mengenai dunia postmodern. Karya-karya Bauman seperti Modernity and Ambivalence, Modernity and the Holocaust adalah karya seorang modernis, sementara karyanya seperti postmodern Ethics dan Life in Fragments: Essay in Postmodern Morality adalah karya yang menunjukan bahwa ia pun seorang postmodernis.

Pemikiran Bauman mengenai sosiologi modern dan sosiologi postmodern berakar dalam pemisahannya yang lebih luas antara pelaksanaan dua jenis karya intelektual yaitu legislators dan interpreters. Dua strategi dalam dianalisa dalam waktu yang terpisah. Ketika melihat yang akhir maka kita dapat mengatakan bahwa legislator terlibat pada sebuah karya intelektual modern dan dengan demikian juga diasosiasikan dengan sosiologi modern, sementara interpreter membahas jenis kajian intelektual postmodern. Sehingga pada akhirnya dikaitkan dengan sosiologi postmodern. Legislator menurutbbauman secara luas namun tidak eksklusif diasosiasikan dengan modernitas dan sosiologi modern. Legislator memilliki kekuasaan yang sangat besar khususnya dalam menentukan apa yang orang-orang tahu atau mereka pikir tahu. Sebaliknya secara menyeluruh interpreter dari sebuiah komunitas tidak berada dalam posisi yang lebih unggul dibandingkan dengan mereka yang berada di komunitas lain, tidak satupun interpreter secara inheren lebih unggul dari yang lain. Dibandingkan dengan legislator interpreter memiliki kekuasaan yang lebih kecil, khususnya untuk memaksakan interpretasi mereka pada anggota-anggota komunitas dan interpreter lain. Interpreter lebih diasosiasikan dengan posmodernitas dibanding dengan modernitas.

Secara jelas, cara interpreter postmodern sangat berbeda dengan pendekatan modern legislator. Bauman menyatakan bahwa tidak seharusnya melihat interpreter sebagai pengganti legislator dalam jenis perkembangan historis yang tidak linear. Menurunya apa yang sedang terjadi adalah sebuah perubahan dalam kepentingan mereka.

Bauman melihat bahwa postmodernisme memiliki berbagai makna, akan tetapi baginya yang paling penting adalah makna khusus pemikiran postmodernisme. Secara khusus dapat dikatakan adanya fakta bahwa kaum postmodernis itu refleksif, dibanding kaum modernis, menurut Bauman, kaum postmodern itu jauh lebih cenderung secara seksama bercermin pada diri mereka sendiri dan ide-ide mereka. Bauman menyatakan bahwa kecenderungan kaum postmodern secara keseluruhan ditandai oleh seluruh sifat menghancurkan yang mengejek, menghanyutkan dan melarutkan.

Bauman membuat pemisahan antara masyarakat modern dan kebudayaan modern. Baginya pikiran postmodern mewakili sebuah versi ekstrem dari kebudayaan modern, melambangkan dan meradikalkan kegelisahan dan ketidakpernahpuasan. Ketika kecenderungan tersebut semakin menonjol, maka hal tersebut mewakili kemenangan dari kebudayaan modern atas karakter masyarakat modern yang jauh lebih statis dan konservatif. dalam kemenangan mereka, kebudayaan modern radikal dan pikiran postmodern berusaha untuk merobohkan struktur-struktur kekuasaan yang bekerjasama mempertahankan masyarakat modern. Perubahan struktur-struktur sosial inilah yang memungkinkan masyarakat modern menjadi lebih baikdalam mencapai potensinya.

Kaum Postmodern tidak berusaha mengganti  seperangkat kebenaran setelah mereka berhasil merobohkan kebenaran sebelumnya. Agaknya kaum postmodernis lebih puas tanpa kebenaran-kebenaran semacam itu. kaum postmodernis sangat kritis, namun mereka puas untuk tidak mengusulkan apapun yang baru untuk menggantikan apa yang telah mereka hancurkan. Ada pemikiran, kendati begitu, bahwa dalam menghancurkan struktur-struktur kekuasaan, kaum postmodernis mempersiapkan panggung bagi sebuah ukuran baru kebenaran yang muncul suatu waktu di satu titik di masa depan.

Sementara Bauman menghubungkan pemikiran postmodernis dan modern dalam berbagai cara, Bauman paling tertarik antara pemisahan dua model gagasan. Sebagai contoh, kaum modernis dikarakterkan dengan usaha untuk memahami dunia secara rasional, ternyata dalam proses pencapaian pemahaman tersebut menyebabkan hilangnya pesona dunia. Sebaliknya kaum postmodernis mengkritisi pemikiran rasional dan berusaha menghadirkan kembali pesona dunia. Kemudian kaum modernis disifatkan dengan usaha untuk membuat undang-undang untuk mengatur dunia, membuatnya jinak. Sementara kaum postmodernis tertarik dalam usaha untuk membongkar kontrol-kontrol tersebut.

Postmodernitas adalah sebuah perspektif yang muncul dari bangkitnya modernitas, hal ini sebagaimana diindikasikan sebelumnya, modernism yang melihat kepada dirinya sendiri dan menilai kekuatan dan kelemahan sendiri. Bauman menyatakan bahwa postmodernitas tidak harus sebuah akhir, pendiskreditan atau penolakan terhadap modernitas.  Secara umum Bauman menetapkan kebudayaan postmodern sebagai kebudayaan yang:

  • pluralistis
  • berjalan di bawah perubahan yang konstan
  • kurang dalam segi “otoritas yang mengikat secara universal”
  • melibatkan sebuah tingkatan hierarkis
  • merujuk pada “polivalensi tafsiran”
  • didominasi oleh media dan pesan-pesannya
  • kurang dalam hal kenyataan mutlak karena segala yang ada adalah tnada-tanda
  • didominasi oleh pemirsa/penonton

Referensi

Ritzer, George. (2003). Teori Sosial Postmodern (Edisi Terjemahan). Yogyakarta: Juxtapose-Kreasi Wacana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s