Catatan Harian

Masih Banyak Orang Baik

finish-Etape-3Sumber; http://hondaroadventure.com/

Hari Jumat lalu (17 Januari 2014) sepulang mengajar saya berencana untuk pergi ke Bekasi, rumah orang tua saya. Perjalanan Pondok Labu-Bekasi jika normal dan tidak macet memakan waktu tempuh kira-kira satu jam setengah, jika macet parah maka bisa sampai dua jam lebih. Hujan yang selalu mengguyur sejak beberapa minggu tidak menyurutkan langkah, karena setiap hari jas hujan selalu siap di boks motor kesayangan. Perjalanan sore itu saya tidak menggunakan jas hujan karena alhamdulillah sejak sore hujan tidak mengguyur.Jadi selama perjalanan hambatannya hanya macet yang memang sudah menjadi realitas keseharian.

Perjalanan dari Pondok Labu sampai wilayah Bekasi Barat masih normal sampai akhirnya sebelum Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi karena jalanan sangat gelap (lampu penerang jalan tidak ada yang menyala) saya tidak hati-hati dan tidak mampu mengontrol motor yang masuk ke dalam lubang yang sebenarnya tidak terlalu dalam tapi karena benturan keras saya akhirnya oleng.  Saya masih dapat mengendalikan keadaan motor, namun tiba-tiba mesin motor mati. Saya pun mendorong motor ke pinggir. Motor didiamkan sebentar dan kemudian saya starter, beberapa kali saya starter motor tidak hidup-hidup. saya kemudian mematikan dan mulai membuka bagian busi. Setelah dicek, businya baik-baik saja. Beberapa kali bolak-balik saya cek hingga merasa cape sendiri. Beberapa menit saya cek saya mulai berpikir untuk mencari bengkel terdekat. Saya kemudian mendorong motor, setelah mendorong sekitar 300meteran ada motor berhenti. Saya perkirakan dia adalah mahasiswa. Dia menawari saya bantuan untuk dorong motor saya sampai ke bengkel. Dia kemudian mendorong motor saya dari belakang ke daerah Jalan Kartini dengan pertimbangan di daerah tersebut masih sangat ramai dan mungkin masih ada bengkel yang buka.  Setelah berkeliling dan mendatangi dua bengkel, kedua bengkel tersebut ternyata sudah tutup. Walaupun mekaniknya masih ada di sana, mereka tidak mau membantu saya menangani motor. Akhirnya di seberang bengkel tersebut ada bengkel yang masih buka. Saya kemudian berkomunikasi dengan mekanik di bengkel tersebut, dan ternyata setelah mendengar permasalahan yang saya sampaikan ia tidak bisa membantu karena mesinnya tidak memadai untuk menangani kerusakan di motor saya. Ia merekomendasikan saya untuk langsung ke dealer resmi saja. Karena yang bermasalah adalah injeksinya.

Dibantu oleh sang mahasiswa saya mendapatkan no. telpon dealer resmi, setelah ditelpon ternyata yang masih buka saat itu (19.00 WIB) hanya bagian pemasarannya saja, bagian servicenya sudah tutup dari pukul 16.00 WIB.  Di tengah kebingungan saya kemudian meminta bantuan Bapak saya untuk meminta salah satu orang di rumah untuk jemput. Saya minta ke mahasiswa yang mengantar saya untuk pulang saja. Tetapi ternyata dia tidak mau pulang sebelum saya berhasil mendapatkan bengkel.  Dia kemudian menawarkan saya untuk diantar sampai posisi terdekat sehingga orang rumah dapat jemput dengan mudah. Akhirnya saya diantarkan sampai dekat ke Mall Blue Plaza di dekat Unisma. Dan saya akhirnya menunggu jemputan yang datang dari rumah. Sebagai bentuk penghargaan kepada mahasiswa tersebut, saya memberinya sejumlah uang. Tidak besar memang, tapi saya berharap agar uang itu dapat bermanfaat bagi dia. Tapi ia dengan sekuat tenaga menolak pemberian saya tersebut. Dan dengan cepat mengucapkan salam kemudian cepat menghilang dari hadapan saya. Untungnya saya sudah mendapatkan no. kontaknya sehingga saya bisa hubungi dia nanti.

Ketika menunggu jemputan, saya berpikir, ternyata di luar sana masih banyak sekali orang baik yang mamu membantu orang yang kesulitan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Saya melihat ketulusan Faiz (mahasiswa yang bantu) ketika menawarkan bantuan mendorong dan mencarikan bengkel sampai berkeliling-keliling.  Saya orang yang tak dikenalnya mau dia tolong tanpa mengharapkan imbal jasa. Padahal peluang untuk tidak peduli sangat tinggi, tetapi dia rela meluangkan waktunya menolong orang lain yang kesusahan. JIka tak ada Faiz saya pasti akan kesulitan dan sangat lelah mendorong motor saya. Saya membayangkan mungkin saya pun sulit untuk melakukan apa yang Faiz lakukan kepada saya. Bantuan yang ia berikan sangat berharga bagi saya yang merasa kesulitan. Pelajaran yang Faiz berikan menurut saya sangat berharga di tengah-tengah maraknya bantuan yang diberikan karena ketidaktulusan. Faiz adalah antitesis dari ketidaktulusan yang muncul saat ini. Membatu korban bencana karena ingin terkenal, ingin dipilih saat Pemilu, ingin mendapat penggantian materi adalah beberapa hal yang marak belakangan ini. Faiz menjadi guru yang baik bagi saya. Saya mendoakan selalu agar Faiz mendapatkan kebaikan-kebaikan yang berlipat dari Allah SWT.  Saya teringat salah satu kata orang bijak, the more you give the more you get. Saya yakin di mana pun Faiz berada dia akan mendapat kebaikan yang lebih dari kebaikan yang dia berikan kepada saya. Terima kasih teman.

Pondok Labu, 21 Januari 2014

Advertisements

4 thoughts on “Masih Banyak Orang Baik”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s