Refleksi Seorang Guru

  • 20121001_081409(Suasana di SMAI Al Izhar-Dokumentasi Sekolah)

Guru adalah sosok yang berjasa. Jika ada memposisikan guru sebagai seseorang yang pekerjaannya sebagai pengajar tentu tidak salah, tetapi sepertinya menempatkan guru hanya sebatas salah satu profesi dalam kehidupan sangatlah tidak bijaksana. Jika melihat film silat jaman dahulu, seorang murid yang ingin mempelajari ilmu silat yang mumpuni harus menempuh perjalanan yang berliku agar ia dapat menemui guru yang tepat dan sakti mandraguna. Tidak sembarang orang dapat belajar dengan guru tersebut. Posisi guru sangat tinggi dan keilmuannya sangat dihargai. Lalu bagaimana posisi guru saat ini?

Tentu jika bercerita pengalaman sebagai guru, perjalanan saya masih sangat pendek dan banyak senior saya yang lebih bisa banyak bercerita suka duka mereka sebagai guru. Menjadi guru sebagai profesi mungkin mudah, bisa kuliah di Kampus Keguruan atau Kampus Non Keguruan dan kemudian melamar kerja di instansi pendidikan. Setelah diterima maka posisi sebagai guru sudah diperoleh. Apakah hanya itu saja? Tidak semudah yang dibayangkan, karena pelajaran yang didapat di kampus belum tentu sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas maupun aktivitas keseharian di sekolah.

Menjadi Guru bukan berarti berhenti belajar. Menjadi guru berarti mensodaqohkan diri untuk selalu aktif belajar dan menggali informasi agar mampu memberikan pencerahan dan pencerdasan terutama bagi para peserta didik. Saya merasa apa yang saya pelajari di kampus tidak punya kontribusi yang terlalu besar bagi kegiatan pembelajaran di kelas maupun aktivitas keseharian di sekolah. Saya merasa lebih banyak belajar ketika sudah ada di dunia kerja.

Setelah beberapa tahun lulus dari perguruan tinggi dan mulai mengajar jujur saja saya merasa masih jauh dari harapan ideal seorang guru. Saya merasa sangat salut terhadap mereka yang sudah puluhan tahun mengabdi dan terus mengabdi sampai saat ini dan masih bersemangat memberikan inspirasi kepada para peserta didik di sekolah. Rasa salut saya bertambah besar jika mengingat para guru-guru yang dahulu membimbing saya ketika bersekolah.

Rasanya baru kemarin saya diberi motivasi agar semangat menuntut ilmu, dan sekarang saya yang berada pada posisi mereka, berusaha agar para siswa yang saya ajar dapat termotivasi. Ternyata mendidik itu tak mudah.

Mengajar mungkin mudah tapi mendidik, sulitnya luar biasa. Butuh kesabaran ekstra, karena tak semua yang kita anggap baik belum tentu baik menurut para siswa, menurut kita penting belum tentu penting untuk para siswa dan seterusnya. Juga yang tak kalah penting bagaimana jadi model yang baik bagi para siswa, karena pasti mereka melihat dan mengecek apakah sama antara yang diucapkan oleh kita dengan apa yang dilakukan. Selain itu para guru harus mempersiapkan para siswa untuk menghadapi zaman yang jelas berbeda yang akan mereka hadapi di masa depan.

Sebagai profesional seperti yang diamanahkan oleh Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban (1) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis, (2) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan dan (3) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Tentu sangat indah apa yang diharapkan oleh UU Sisdiknas ini. Tetapi perjuangan agar guru mampu memberikan pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis adalah sesuatu yang perlu terus dilakukan. Untuk menjadi kreatif seorang guru harus selalu mencari terobosan-terobosan baru bagi dunia pendidikan khususnya untuk kegiatan pembelajarannya di kelas.

Agar ruang dialog terbuka maka seorang guru harus selalu berusaha menempatkan dirinya sebagai pendengar yang aktif bukan pembicara aktif. Tak mudah untuk melakukan apa yang diharapkan oleh regulasi ini. Tentu saja apa yang diharapkan oleh aturan dalam UU Sisdiknas adalah sesuatu yang ideal. Proses belajar tanpa henti mau tak mau harus dilakukan. Guru harus senantiasa mengupgrade dirinya agar menjadi lebih baik dan tentu saja muaranya dapat memberikan pencerahan kepada peserta didik.

Siswa yang kita hadapi adalah manusia-manusia unggulan yang memiliki ragam kecerdasan. Perubahan terjadi setiap saat di berbagai lini kehidupan. Perubahan adalah keniscayaan, maka guru harus tanggap terhadap setiap kemungkinan perubahan yang setiap saat terjadi.

Menjadi guru adalah suatu kebanggaan karena memiliki kesempatan untuk merubah generasi bangsa menjadi lebih baik. Seperti yang diungkap oleh Nelson Mandela, “education is the most powerful weapon which you can use to change the world’. Maka berbanggalah sebagai guru, karena kita memiliki kesempatan untuk merubah dunia.

Pondok Labu, 26 Maret 2013

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: