Catatan Harian

Memori Perisai Diri di MAN Cipasung

foto-pak-dirdjo-kecilPendiri Perisai Diri

Dua minggu yang lalu saya dan istri berencana untuk refreshing sambil nonton. Saya sendiri belum cek film apa yang akan saya tonton. Tiba di Bioskop saya pun melihat-lihat film apa saja yang sedang ditayangkan. Pilihan saya jatuh pada Film The Raid 2: Berandal, film yang sudah saya dan istri nantikan. Rasanya senang sekali dapat menonton film tersebut. Rasa senang karena pertama, film tersebut dibintangi oleh aktor dari Indonesia, kedua karena dalam film tersebut menampilkan atraksi beladiri asal Indonesia, Pencak Silat.

13033_1185360550220_2639423_nBeres Sesi Latihan Jumat

Bicara pencak silat, memori saya langsung jatuh ke renang tahun 2003-2005. Pada tahun tersebutlah saya menjalani pendidikan sekolah menengah di MAN Cipasung Tasikmalaya. Salah satu ekstrakurikuler yang ada di sekolah saat itu adalah Silat Nasional Perisai Diri. Di semester awal saya tidak langsung ikut eksul silat tetapi lebih memilih sepak bola. Tapi karena beberapa alasan akhirnya saya memutuskan mengikuti eskul Silat. Seingat saya waktu itu saya masuk ke Perisai Diri karena mengikuti Kang Wahyu dan kang Opik. Angkatan saya adalah angkatan kedua Perisai Diri di MAN Cipasung. Saya masuk berbarengan dengan Andriyana Maryadi alias Betrand, Arlan dan Jajang. Walaupun kemudian hanya saya dan Andri yang sampai selesai pendidikan di Cipasung aktif di Perisai Diri (PD). Pelatih saya waktu itu adalah  Almarhum Kang Aip (semoga Allah memberikan tempat terindah untuk Kang Aip). Saya juga mengenal beberapa senior yang baik hati dan tidak sombong. Mereka sampai saat ini sepengetahuan saya masih aktif melatih dan membina PD di wilayah Kabupaten dan Kota Tasik. Senior-senior saya yang sangat baik itu antara lain Kang Wandi, Kang Asep Deni, Teh Selvi, Kang Elan, dan Kang Diki. Setahun kemudian saya kenal Kang Firman yang akhirnya banyak memotivasi saya dalam berlatih. Khusus untuk Kang Diki sesungguhnya usianya lebih muda satu tahun di bawah saya, tetapi ketika saya masuk Kang Diki Sudah strip biru dan mulai melatih. Sedangkan saya dan andriyana yang badannya bongsor baru dasar satu yang cara menendangnya masih seperti orang bermain sepak bola. Malu rasanya punya senior yang sebenarnya masih junior jika menilik dari aspek umur. Tapi kalau hanya mengandalkan malu maka saya tidak bisa berhasil, maka mulai rajinlah saya berlatih. Latihan biasanya diadakan setiap hari jumat. Hari jumat adalah hari di mana kegiatan aktivitas pengajian sore diliburkan. Kegiatan siang menjelang sore menjadi menyenangkan karena ada aktivitas latihan.

13033_1185350189961_5314296_nSetelah Latihan, Paling Kiri Kang Aip

Ada beberapa hal yang saya pelajari selama mengikuti PD di Cipasung antara lain bagaimana  kita harus selalu rendah hati dan tidak merasa sombong walaupun sudah dilatih silat. Kalau kata alm. Kang Aip, “tong kawas boga bisul di kelek“, maksudnya jangan seperti punya bisul di ketiak. Artinya jangan mentang-mendang berlatih bela diri maka dari gaya jalan sudah digagah-gagahkan dan merasa paling jagoan. Jika mengingat-ngingat masa itu rasanya senang sekali bergabung dan berlatih bersama anak-anak PD. Jika tidak ada pengajian atau setelah pengajian malam minggu maka kami yang dari pesantren biasanya menginap di rumah Kang Aip. Tidak ada istilah senior yang mendominasi, atau membully atau bahkan mengintimidasi. Senior di PD biasanya adalah senior yang lucu dan pelawak, Kang Asep Deni salah satunya. Saat ini kalau melihat FBnya beliau sudah menjadi salah satu Dosen di UPI Bandung. Namun sosok baik hati, pelawak dan ramah itu akan tiba-tiba berubah jika mulai latihan, simulasi bertanding ataupun bertanding, ujian kenaikan tingkat dan Pendidikan Dasar. Masing-masing senior dan pelatih punya gayanya sendiri. Kang Aip jika sedang TC biasanya akan berubah galak dan menghukum orang yang tidak sesuai target. Kang Wandi yang posturnya seperti Iko Uwais apabila simulasi pertandingan dengan saya bisa tiba tiba beringas dengan tendangan “T”nya yang mematikan. Dan saya selalu kalau dan trauma jika bertanding dengan dia. Padahal berat badan dan tinggi masih menang saya. hehe. Teh Selvi walaupun imut-imut sering juara di berbagai tempat. Kang Diki yang juga imut-imut sering sudah jadi pelatih dan juara di mana-mana. Kang Firman semasa SMA adalah atlit PPLP juga masih menunjukan tajinya. Ketika di Purwakarta dan bertemu pesilat dari salah satu sekolah pemerintahan yang badannya amit-amit besar dia masih bisa menunjukkan kemahirannya dalam bertanding, dia bilang, “anda boleh punya otot, saya punya otak”.hehe. Atau Kang Elan yang tendangannya dahsyat, walaupun matanya kurang awas tapi Kang Elan luar biasa. Masih ada beberapa kawan yang hebat dalam bertanding tapi sopan sekali dalam kehidupan keseharian. Silat dalam hal ini saya rasa membentuk karakter kami.

13033_1185360470218_476756_nPada saat Pertandingan di Purwakarta

Jika ingat-ingat kejadian ketika bertanding sesungguhnya banyak. Jika pertandingan di internal PD biasanya kami sangat sederhana karena mengandalkan operasional pribadi dan PD. Saya ingat saat bertanding di Jakarta Timur dan Purwakarta kami harus berdesak-desakan tidur di lantai, tapi rasanya indah sekali waktu itu. Kalau pertandingan mewakili Kabupaten nasibnya lebih baik, kalau sedang beruntung maka akan menginap di hotel (kalaupun  di hotel tidurnya tetap bersama dan tumpuk-tumpukan,hehe), atau biasanya di barak militer yang sebelum shalat subuh biasanya kita terbangun karena mendengar terompet tentara yang ternyata sudah siap-siap latihan. Yang menyedihkan adalah ketika mewakili Kab Tasikmalaya di Bandung  (saya lupa dalam kegiatan apa) kami kontingen Pencak Silat tidak diberikan baju maupun jaket seperti kontingen dari Kabupaten lainnya. Jadi Kostum saya dan teman-teman lain adalah pakain silat hitam dan kaki tanpa alas alias nyeker. Rasanya menyedihkan. Walaupun kami tetap dadah-dadah ke penonton dan merasa keren waktu itu. Saya juga ingat (sebenarnya ini aibnya Andriyana, punten nya dri,hehe) waktu pertandingan di Bandung. Saat mendukung salah satu teman yang bertanding, ketika seru-serunya kita mendukung Andri teriak, “ayo T, lumpatna ka Tasik“. Malang bagi Andri karena saat itu ada kang Hendri disampingnya dan (kalau tidak salah) andri di kepret oleh kang Hendri karena teriakan yang dianggap nyeleneh itu (karena waktunya mendukung, bukan ngecengin.hehe). Cerita ini selalu lucu kalau diingat. Semoga Andri tidak marah karena ceritanya masuk di sini.

Tapi itu dulu waktu berat badan saya masih 56 kg dan saya masih agak-agak six pack dan sering latihan. Sekarang berat badan saya sudah 76 kg dan tak pernah latihan. hehehe. Ketika masuk UNJ saya tak pernah punya kesempatan untuk berlatih kembali. Ketika nonton The Raid, nostalgia di era Aliyah kembali hadir. Kalau lihat sosok Iko Uwais saya jadi ingat sosok Kang Wandi yang posturnya saya kira sama dengan Iko Uwais dan saya rasa tidak kalah dengan Iko. Saat ini kalau tidak salah Kang Wandi yang meneruskan proses pelatihan PD di MAN Cipasung. Salut untuk senior-senior saya yang tak kenal lelah melatih dan mendidik para pesilat dari perisai diri. Salam takdzim untuk para senior.

Pondok Labu, 10 April 2014

Advertisements

2 thoughts on “Memori Perisai Diri di MAN Cipasung”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s