Kesederhanaan Natsir

220px-Mohammad_Natsir1M. Natsir (wikipedia.org)

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2008, saya diajak oleh teman saya Satriwan untuk menghadiri acara Refleksi Seabad M. Natsir Pemikiran dan Perjuangan di Masjid Al Azhar Kebayoran Baru. Pada acara tersebut peserta yang datang mendapat buku saku dengan Judul “PRRI: Pergolakan Daerah atau Pemberontakan”. Buku tersebut adalah tulisan dari George McTurnan Kahin Guru Besar Cornell University dan Lukman Hakiem yang saat ini menjadi Wakil Ketua MPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan Sekretaris Panitia Peringatan Refleksi Seabad M. Natsir Pemikiran dan Perjuangan.

Saya tidak ingin mengomentari mengenai kontroversi perdebatan mengenai Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. Dalam tulisan ini saya lebih memfokuskan pada tauladan yang di berikan Natsir sebagai seorang negarawan yang sangat mencintai Indonesia. Salah satu yang patut dicontoh dari seorang Natsir adalah kesederhanaannya.

Mohammad Natsir dikenal dalam ragam perspektif, selain dikenal sebagai politisi, ia juga dikenal sebagai sebagai ulama maupun pejuang kemerdekaan Indonesia. Natsir merupakan pendiri sekaligus pimpinan partai politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) partai Islam disamping Nahdlotul Ulama (NU) terbesar ketika itu.

Pada Pemilihan Umum 1955 Masyumi memperoleh posisi kedua setelah Partai Nasional Indonesia (PNI). Dalam pemerintahan Natsir pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan, dan Perdana Menteri pada tahun 1950-1951. Dari Natsir ada beragam pelajaran yang dapat dicontoh oleh generasi muda saat ini. Misalnya dalam hal kesederhanaan. Berikut misalnya kesan dari George Mc Turnan Kahin seorang sejarawan dan ilmuan politik asal Amerika yang pernah bertemu dan berinteraksi dengan Natsir:

“Dia tidak bakal berpakaian seperti seorang menteri”. (Pandangan Agus Salim tentang Natsir,1948 dalam dialog dengan George McTurnan Kahin).

 Kemudian pendapat dari Kahin mengenai Natsir:

“Saya menemukan seorang yang sederhana, rendah hati yang pakaiannya tidak menunjukkannya sebagai seorang menteri dari suatu pemerintahan. Malah ia memakai kemeja yang bertambalan yang belum saya lihat pada pegawai manapun dalam satu pemerintahan”. (George McTurnan Kahin).

 Jika membaca kesan Kahin ketika bertemu dan mewawancarai Natsir rasanya jika melihat kondisi saat ini jarang sekali ada pejabat publik yang memiliki kesederhanaan seperti Natsir. Pejabat publik dengan ragam fasilitas jabatannya tak jarang memperlihatkan ‘kemewahannya’ alih-alih kesederhanaan.

Natsir mungkin sangat ekstrim sederhananya sampai-sampai ketika menjabat menjadi menteri dia memakai kemeja tambalan. Selain Natsir mungkin kita pernah mendengar bagaimana Bung Hatta hanya mampu menyimpan potongan iklan sepatu Bally karena tak mampu membeli, padahal ia adalah wakil presiden. Juga ada sosok  Jenderal Polisi yang memilih hidup sederhana dibanding hidup bergelimang harta. Mereka adalah teladan ril yang ada di bangsa ini, sosok yang panutan yang harus diikuti.

Teladan Seorang Natsir
Jika merefleksikan dalam kondisi kekinian tentu agak sulit menemukan politisi atau pejabat publik yang sederhana dalam penampilan nampun kaya gagasan untuk memajukan republik ini. Jika melihat proses politik di Indonesia yang lebih tinggi kecenderungan transaksionalnya jika dibanding perjuangan bagi perbaikan Indonesia tentu semakin miris saja.

Misalnya temuan Pramono Anung, Wakil Ketua DPR dan anggota PDIP dalam disertasinya tentang calon anggota legislatif yang menghabiskan biaya kampanye sampai 6 miliar untuk melenggang ke senayan tentu berkebalikan dengan spirit kesederhanaan yang dicontohkan Natsir. Politik transaksional seperti hal yang biasa di tengah realitas kebangsaannya. Jargon “wani piro” seolah-olah sah-sah saja dan wajar dalam kegiatan politik. Ide, visi bukan sesuatu yang jadi utama.

Walaupun dalam realitas tersebut masyarakat juga semakin selektif dalam menentukan pilihannya. Caleg tanpa visi kebangsaan yang jelas atau keinginan untuk memperbaiki masyarakat akan membuat lembaga legislatif seperti panggung politik yang riuh tanpa ada produk legislasi yang berpihak pada masyarakat.

Fungsi lembaga legislatif sebagai lembaga yang punya otoritas kontrol, legislasi, dan budgeting akan tumpul jika anggota legislatifnya bahkan tak punya visi yang baik. Tentu kita tak bisa pukul rata semua anggota legislatif seperti itu. Di tengah kondisi memprihatinkan tersebut saya yakin masih banyak anggota legislatif yang tetap memegang integritas dan idealismenya memperjuangkan Indonesia.

Indonesia dibangun dengan semangat para founding fathers dan mothers yang luar biasa. Di tengah keterbatasan, harapan akan tercapainya Indonesia merdeka tetap diutamakan. Indonesia yang diharapkan oleh mereka tentu saja Indonesia seperti yang dicantumkan dalam pembukaan UUD 1945 yaitu Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Indonesia yang dapat menepati amanat tujuan negara dalam pembukaan UUD 1945 yaitu pemerintahan Indonesia yang mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesehateraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Sosok Natsir salah satu founding fathers sederhana dapat menjadi teladan dan rujukan bagi kita semua. Sosok sederhana dalam sikap dan kaya dalam ide dan gagasan dalam memperjuangkan Indonesia yang sejahtera. Natsir tidak silau oleh jabatannya sebagai Menteri dan Perdana Menteri serta tetap konsisten dengan sikap sederhananya. Tentu kita tak akan dengan kasus korupsi di lingkungan pemerintahan jika yang jadi contoh para aparatur pemerintahan adalah sikap sederhana Natsir.

Cibuntu, 19 April 2014

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s