pendidikan

Pengalaman Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berdasarkan Model Inquiry Based Learning dan Evidence Based Practise

Pendidikan Kewarganegaraan secara garis besar berisikan konten kebangsaan, politik, hukum, hubungan luar negeri dan ideologi. Tiap jenjang kelas memiliki pendalaman masing-masing. Jika merujuk pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) maka di kelas X konten yang menjadi fokus pembelajaran mengenai kebangsaan, sistem hukum, Hak Asasi Manusia, dasar negara dan konstitusi, persamaan kedudukan warga negara, dan sistem politik.

Pada kelas XI yang menjadi fokus pembelajaran adalah budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, keterbukaan dan jaminan keadilan, hubungan internasional, dan hukum internasional.

Di kelas XII berfokus pada pembelajaran mengenai Pancasila dan ideologi, globalisasi dan pers. Jika menelaah lebih lanjut pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sejatinya secara ideal adalah memberikan pencerdasan kepada para peserta didik agar menjadi warga negara yang mengetahui hak dan kewajibannya secara baik juga memiliki pola pikir kritis dan sikap yang demokratis.

Jika dahulu pendidikan kewarganegaraan dijadikan alat doktrinisasi ideologi negara dan membuat agar warga negara menjadi “nurut” saja, saat ini guru Pendidikan Kewarganegaraan harus memberikan banyak ruang agar para peserta didik memiliki kemampuan analisa yang baik agar mampu memotret suatu permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya dengan baik.

Sosok peserta didik yang memiliki kesadaran penuh mengenai realitas bangsanya menjadi penting agar para peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektualitas saja tetapi juga paham apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki bangsa ini. Penyadaran-penyadaran tersebut tentu tidak dapat dilakukan jika hanya melalui pembelajaran yang tekstual semata. Kemampuan analisa dan daya kritis hadir jika peserta didik diberi ruang untuk mengekspresikan pendapat dan pemahaman keilmuan berdasarkan pengalaman yang mereka ketahui.

Misalnya pada kelas XI materi budaya politik di Indonesia. Standar Kompetensi (SK)pada materi ini adalah “menganalisa budaya politik di Indonesia”. Kompetensi Dasar (KD)nya adalah:

  1. Mendeskripsikan pengertian budaya politik
  2. Menganalisis tipe-tipe budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Indonesia.
  3. Mendeskripsikan pentingnya sosialisasi pengembangan budaya politik.
  4. Menampilkan peran serta budaya politik partisipan.

Berdasarkan SK dan KD tersebut terlihat jelas muara dari materi ini adalah bagaimana peserta didik dapat menjadi masyarakat yang memiliki budaya politik partisipan. Jika merujuk pada definisi yang disampaikan oleh Almond dan Verba pada tipe budaya politik partisipan masyarakat sudah memilik pengetahuan yang memadai mengenai sistem politik secara umum, tentang peran pemerintah dalam membuat kebijakan beserta penguatannya, serta berpartisipasi aktif dalam proses politik yang sedang berlangsung.

Maka para peserta didik kelas XI yang usia rata-ratanya adalah 16-17 tahun harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai sistem politik juga diharapkan berpartisipasi dalam proses politik yang sedang berlangsung. Tentu jika merujuk peran aktif dalam politik praktis adalah sesuatu yang sulit. Dalam konteks kenegaraan para peserta didik tersebut belum mendapatkan kesempatan untuk memilih baik dalam pemilu legislatif maupun pemilu eksekutif. Salah satu peran budaya politik partisipan yang diaplikasikan adalah dalam proses pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS. Para peserta didik dapat secara langsung merasakan bagaimana contoh proses demokrasi secara sederhana dilakukan di sekolah.

Dalam materi budaya politik ini, pada pertemuan awal sebelum memberikan materi saya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari secara individu apa saja yang menjadi konsep dasar dari materi budaya politik ini serta siapa saja tokoh yang terdapat dalam materi budaya politik ini.

Pencarian konsep ini penting agar para peserta didik memiliki pemahaman utuh mengenai apa itu budaya politik dan aspek yang ada dalam budaya politik. Jika merujuk pada inquary learning, maka proses pencarian tersebut merupakan hal yang sangat penting. Peserta didik berusaha mencari definisi atau konsep yang terkait dengan materi yang sedang dipelajari. Setelah mereka menemukan konsep yang terkait dengan materi budaya politik maka saya memaparkan definisi, tipe, perkembangan dan contoh-contoh yang ada dalam materi budaya politik.

Tentu memaparkan materi yang terkait konten budaya politik dan berupaya agar nilai akademik peserta didik bagus adalah hal yang mudah dan cepat dilakukan. Tapi esensi inquary based learning bukan pada hasil final suatu nilai yang baik atau bahkan ulangan harian yang baik tetapi lebih dari itu. Inquary based learning (IBL) membutuhkan tidak sekedar menjawab pertanyaan atau mendapat jawaban yang benar, IBL didukung investigasi, pencarian, eksplorasi dan penelitian. Inquary based learning Seperti yang diungkap oleh Kuklthau, Maniotes & Caspari dikutip dari (http://www.edu.gov.on.ca/eng/literacynumeracy/inspire/research/CBS_InquiryBased.pdf):

“The essence of inquiry …. requires more than simply answering questions or getting a right answer. It espouses investigation, exploration, search, quest, research, pursuit, and study. It is enhanced by involvement with a community of learners, each learning from the other in social interaction.” (Kuklthau, Maniotes & Caspari, 2007, p. 2)

Maka dalam materi budaya politik kemudian saya membagi peserta didik berkelompok dua orang untuk mewawancarai warga masyarakat disekitar lingkungan Perguruan Al Izhar. Pertanyaan-pertanyanya saya berikan sebagai panduan dan dapat mereka tambah jika mereka merasa pertanyaan yang perlu ditambahkan. Pertanyaan tersebut disusun mulai dari konsep orientasi politik yang disampaikan oleh Gabriel Almond dan Sidney Verba:

Orientasi Politik

Pengertian Pertanyaan
Kognitif merupakan pengetahuan masyarakat tentang sistem politik, peran dan segala kewajibannya. Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan mengenai kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
  • Pada tanggal berapa Indonesia Merdeka?
  • Siapa Presiden Pertama Indonesia?
  • Siapa Presiden Indonesia Saat Ini?
  • Ada berapa Partai Politik yang mengikuti Pemilu tahun 2009? Sebutkan tiga diantaranya?
  • Siapa Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Saat ini?
Afektif perasaan masyarakat terhadap sistem masyarakat dan peranannya, serta para aktor dan penampilannya. Perasaan masyarakat ini bisa saja merupakan perasaan untuk menolak atau menerima sistem politik atau kebijakan yang dibuat.
  • Apa Pendapat Anda tentang Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini?
  • Harapan untuk Presiden Periode 2014-2019?

 

Evaluatif keputusan dan pendapat masyarakat mengenai objek-objek politik yang secara tipikal melibatkan nilai moral yang ada dalam masyarakat dengan kriteria informasi dan perasaan yang mereka miliki.
  • Bagaimana menurut anda kinerja Presiden dan Wakil Presiden saat ini?
  • Bagaimana menurut anda kinerja anggota DPR saat ini?

Dari bahan tersebut para peserta didik saya minta mencari informan dari beragam jenis profesi. Di sekitar sekolah kemungkinan besar didapat informan dari beragam kalangan. Saya mengharapkan dengan ragam profesi yang mereka wawancarai akan mendapatkan ragam bahasa dan pada akhinya dapat memetakan di mana posisi informan dalam budaya politik atau sudah sampai pada tahapan mana orientasi politik seseorang berdasarkan orientasi yang disampaikan oleh Almond dan Verba.

Dari hasil beberapa wawancara peserta didik ada beberapa profesi yang berhasil diwawancarai antara lain: guru, supir, pengantar, petugas kebun, petugas resik, penjaga kantin, tukang warung, dan satpam. Profesi tersebut yang terdapat di sekitar sekolah. Kemudian setelah melakukan wawancara para peserta didik diminta mempresentasikan apa yang mereka dapatkan dari hasil wawancara tersebut. Dari hasil presentasi tersebut saya meminta ada diskusi terkait temuan-temuan dari hasil wawancara mereka dengan masing-masing informan. Dengan begitu maka masing-masing peserta didik dapat memberikan informasi yang beragam dan pada tipe dan orientasi apa informan yang telah mereka wawancarai. Dari temuan mereka di lapangan maka para peserta didik dapat mengaitkan dengan konsep yang telah mereka dapatkan dari pembelajaran sebelumnya.

Untuk memperkuat pemahaman mereka dengan mendasarkan pada hasil temuan wawancara, kemudian saya memberikan arahan agar mereka mencari contoh masing-masing tipe budaya politik dari beragam sumber terutama internet agar hasil temuan lapangan mereka dapat mereka kaitkan dengan konsep budaya politik. Penyesuaian temuan di lapangan dengan konsep dan contoh yang mereka cari dari internet memberikan penguatan bagi pemahaman konsep mereka.

Wawancara yang dilakukan oleh para peserta didik dalam hal ini untuk saling melihat apakah teori yang ada sesuai dengan temuan mereka di lapangan dan sebaliknya dengan melakukan pencarian informasi di internet berdasarkan contoh-contoh juga memperkuat pemahaman konseptual mereka tentang temuan di lapangan. Wawancara tersebut adalah bentuk praktek dari model evidence based practice, ketika para peserta didik memperkuat pemahaman konseptualnya pada materi budaya politik dengan melakukan wawancara ke beragam profesi yang ada di lingkungan sekolah.

Pondok Labu, 23 April 2014

Advertisements

2 thoughts on “Pengalaman Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berdasarkan Model Inquiry Based Learning dan Evidence Based Practise”

  1. Posting yang menarik, Mas Anggi. Bolehkah saya minta email anda. Saya ingin diskusi lebih lanjut tentang guru PKn. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s