Mari Menghidupkan Imajinasi

Beberapa waktu yang lalu Perguruan Al Izhar kedatangan Butet Manurung penulis buku Sokola Rimba. Saya termasuk yang menantikan kedatangan Butet, karena saya sudah membaca buku dan menonton filmnya. Dua-duanya bagi saya sangat inspiratif dan memberikan cakrawala baru tentang dunia pendidikan. Film dan bukunya menurut saya perlu dibaca oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Mengapa? Karena menurut penilaian saya dalam buku maupun filmnya terdapat banyak pelajaran dan inspirasi yang sangat luar biasa bagi seorang pendidik.

Film Sokola Rimba merupakan pengembangan lebih lanjut dari Buku Sokola Rimba yang ditulis oleh Butet berdasarkan pengalamannya selama menjadi fasilitator dari lembaga konservasi yang salah satu tugasnya adalah mendampingi Orang Rimba di hutan di daerah Jambi. Film ini diproduseri oleh Mira Lesmana dan disutradarai oleh Riri Riza, dua orang yang sangat serius apabila memproduksi film. Film-film karya mereka selalu memiliki pesan bagi para penonton agar dapat lebih menikmati hidup dan mensyukurinya. Saya ingat ketika beberapa tahun yang lalu menjadi panitia dari sebuah seminar yang mengundang Riri Riza untuk berbicara pendidikan karakter dari aspek sineas, Riri selalu menyatakan bahwa Film punya kontribusi besar bagi penyebaran pesan positif bagi para penontonnya. Beberapa produksi kolaborasi keduanya seperti Soe Hok Gie dan Laskar Pelangi tidak hanya enak dinikmati sebagai sebuah film tetapi juga memiliki pesan mendalam. Orang sebelumnya tidak mengenal sosok Soe Hok Gie, melalui film ini secara singkat Kedua sineas ini menampilkan sosok Soe Hok Gie merujuk pada catatan-catatan Soe Hok Gie ketika hidup. Maka setelah menonton filmnya generasi saat ini mengenal salah satu intelektual muda yang mati di usia mudanya dan berusaha mencari informasi mengenai Soe Hok Gie. Setelah menonton Laskar Pelangi maka banyak orang yang semakin bersyukur karena mendapatkan pendidikan yang lebih baik dibanding nasib Ikal, Arai dan kawan-kawannya di sekolah Muhammadiyah dalam film tersebut.

Sokola rimba pun memberikan penyadaran bahwa kita terkadang tak pernah mensyukuri nikmat mendapat pendidikan yang baik. Saya termasuk yang lebih awal menonton filmnya dibanding membaca bukunya. Kami guru-guru di Al Izhar beruntung karena dalam salah satu kegiatan forum guru yang diselenggarakan secara rutin sebulan sekali semua guru mendapat kesempatan nonton gratis di Bioskop Cinere Mall. Salah satu studio bioskop khusus disewa oleh Perguruan Al Izhar untuk acara “nonton bareng”. Acara yang bagi saya sangat seru karena disamping gratis juga mendapat pencerahan dan inspirasi. Karena penasaran saya kemudian mulai membaca bukunya, saya beruntung kembali mendapat pinjaman dari salah satu rekan guru Pak Ken Kumbara. Setelah membaca saya semakin merasa peran saya sebagai guru tidak ada apa-apanya dibandingkan upaya yang dilakukan oleh Butet selama menjadi guru bagi anak-anak Orang Rimba selama beberapa tahun.

Mencoba Menghidupkan Imajinasi

Saat mendengarkan Butet bercerita pengalamannya selama menjadi guru bagi anak-anak Orang Rimba saya sempat berdiskusi dengan Pak Ken. Ia kemudian menyatakan satu kalimat yang tidak akan pernah saya lupa, “hidup adalah upaya untuk menghidupkan imajinasi”. Dia berkata seperti itu setelah mendengar Butet menyatakan bahwa kenapa ia bersedia menjadi fasilitator di LSM konservasi tersebut karena memang suka dengan hutan dan hewan yang ada di dalamnya. Butet merupakan lulusan Antropologi Universitas Padjajaran dan kemudian punya kesempatan melanjutkannya ke S2 pada jurusan Applied Anthropology and Participatory Development di Australian National University dankemudian pada tahun2012 mendapat kesempatan untuk kursuspada bidang  Leadership and Public Policy di  the Harvard Kennedy School, Boston. Butet menurut Pak Ken adalah orang beruntung karena berhasil menghidupkan imajinasi masa kecilnya. Dan saya mengamini apa yang dinyatakan oleh Pak Ken, Butet sangat beruntung karena ia melakukan pekerjaan saat ini sebagai upayanya menghidupkan imajinasi dan keinginan masa kecil. Menarik misalnya ketika awal Butet ditawari pekerjaan sebagai fasilitator di LSM konservasi dia langsung mengiyakan tanpa melihat dan mempertimbangkan berapa gaji yang akan diperolehnya. Atau ketika pertama kali ia bertemu beruang di hutan bukannya lari tapi ia malah takjub dan mengatakan “wah lucunya” sebelum kemudian harus lari dari kejaran beruang tersebut. Kenapa seperti itu? Butet menyatakan bahwa ia menganggap semua hewan itu lucu dan baik seperti yang ditampilkan oleh film kartun yang biasa ia saksikan ketika masih kecil.

Segala upanya menghidupkan imajinasi berbuah manis, walaupun di awal memulai pekerjaannya ia tidak mengaharapkan apa-apa kecuali kepuasan batinnya pada akhirnya setelah beberapa tahun terjun dalam bidang ini Butet mendapat banyak penghargaan seperti yang tencantum pada website Sokola Rimba. Beberapa penghargaannya antara lain: UNESCO’s “Man and Biosphere Award” pada tahun 2001, TIME Magazine’s “Hero of Asia” pada tahun 2004, “Ashoka Fellow” pada tahun 2006, “Asia Young Leader” pada tahun 2007, “Young Global Leader” pada tahun 2009 dan penghargaan Ernst and Young Indonesian Social Entrepreneur of the Year 2012. Penghargaan-penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap pekerjaan yang sudah dilakukukan oleh Butet. Tentu awalnya ketika ia mulai bekerja dan mengajar anak  Orang Rimba Butet tak pernah menyangka bahwa segala usahanya untuk mengadvokasi anak rimba mendapatkan apresiasi begitu luar biasa dari beragam kalangan. Tak semua orang seberuntung Butet yang hidup untuk menghidupkan imajinasi-imajinasinya.

Butet menyatakan bahwa ia bukan mahasiswa yang pandai karena untuk lulus dari Antropologi UNPAD pun ia membutuhkan waktu lama. Ia memang lebih banyak di hutan dan mendaki gunung. Kesenangannya akan alam bebas merupakan passionsnya sehingga ia langsung mengiyakan ketika ditawari menjadi fasilitator LSM konservasi tanpa melihat berapa nominal gajinya. Pada saat ia datang ke Al Izhar Butet bersama ibu dan teman-temannya yang mengelola Sokola Rimba yang saat ini menjadi salah satu lembaga yang memiliki concern di bidang pendidikan bagi masyarakat yang masih belum mendapatkan akses yang baik terhadap pendidikan. Sang ibu yang juga lulusan jurusan antropolog awalnya seringkali merasa waswas akan pilihan anaknya. Sang ibu juga pada awal Butet bekerja pernah datang dan ikut tidur di hutan juga ikut beberapa hari mengajar anak-anak Orang Rimba. Butet menyadari bahwa ia awalnya kesulitan ketika mengajarkan baca tulis kepada anak-anak tersebut karena tidak punya basic sebagai seorang pendidik. Hanya keinginan keras dan upaya untuk terus belajar yang membuat ia menemukan pola dan metode tersendiri bagi proses pembelajaran. Uniknya waktu belajar anak-anak tersebut tidak mengenal waktu. Kapanpun anak-anak tersebut merasa ingin diajari maka Butet harus siap walaupun itu tengah malam. Banyak sekali hal menarik yang akan didapat ketika membaca buku dan menonton film Sokola Rimba. Ada kata-kata yang menarik yang disampaikan oleh Butet dalam website Sokola Rimba (http://www.sokola.org), begini kata-katanya,

”Pendidikan bukanlah proses alienasi seseorang dari lingkungannya, atau dari potensi alamiah dan bakat bawaannya, melainkan proses pemberdayaan potensi dasar yang alamiah bawaan untuk menjadi benar-benar aktual secara positif bagi dirinya dan sesamanya.”

Maka dapat dimengerti ketika mengajar ia tidak memaksakan para anak didiknya menjadi seperti anak-anak di kota besar tetapi ia memfokuskan pada bagaimana anak-anak itu terbuka dan mampu menghadapi apa yang sehari-hari mereka temui seperti illegal logging yang marak terjadi di daerah yang orang rimba tempati. Butet kemudian mengajarkan ilmu-ilmu praktis yang harus dimiliki seperti membaca, menulis dan menghitung. Hal tersebut agar orang rimba mudah dalam transaksi ekonomi di pasar dan juga tidak mudah ditipu oleh para penebang pohon liar ataupun apabila ada keperluan membaca dan menegosiasikan perjanjian-perjanjian yang menyangkut hak-hak orang rimba.

Manusia seperti Butet adalah manusia langka yang jarang ditemui. Melalui aktivitasnya ia memberikan inspirasi bagi siapa saja yang mau membaca kisah dan mengikuti langkahnya. Manusia seperti Butet selalu hadir untuk mencerahkan orang lain dengan jejak langkahnya yang luar biasa. Butet dan teman-temannya masih terus mengupayakan agar masyarakat yang belum mendapat perhatian dari pemerintah perlu mendapatkan perhatian dari kita semua. Anak-anak bangsa yang sesungguhnya dijamin pendidikannya oleh negara lewat amanat pembukaan UUD 1945, “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Jika Butet mampu dan mau, maka kita harus berusa maksimal memerankan posisi kita dengan baik, dan terus berupaya menghidupkan imajinasi-imajinasi.

Rawamangun, 3 Juni 2014

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: