Belajar Dari Nenek Penjual Koran

Seorang nenek setiap pagi selalu ada di tempat yang sama, di perempatan wilayah Dapsus Fatmawati. Nenek ini adalah seorang penjual koran. Setiap pagi ia setia duduk di tempatnya berjualan. Saya pernah bertanya sampai jam berapa biasanya dia berjualan, dia menjawab jam 9 sudah selesai.

Nenek ini seperti nenek-nenek kebanyakan, sudah tua dan agak bongkok, tapi yang membedakan dari nenek-nenek lainnya adalah si nenek harus bekerja setiap pagi. Nenek ini begitu bersemangat menunggu dagangannya setiap pagi. Di saat nenek lain sedang asik menikmati hari tuanya dengan duduk manis di rumah dengan anak dan cucunya si nenek malah berada di sisi jalan setiap pagi.

Kalaupun hujan, si nenek tetap setia di tempat jualannya yang hanya satu meja kecil yg terdiri dari beberapa koran saja. Tak ada majalah ini dan itu, hanya koran dan itupun hanya beberapa saja. Jika hujan turun, koran dagangannya hanya dilapisi plastik saja. Si nenek berteduh dengan payungnya supaya tidak kehujanan. Beberapa kali saya melihat ia ditemani cucunya. Pakaian si nenek sudah sangat lusuh demikian jilbabnya. Akan tetapi ia memakai jilbab dan pakaiannya dengan rapi.

Saya belajar banyak hal dari si nenek. Pertama, usia tua tidak berarti kita berhenti berbuat sesuatu. Nenek tersebut pasti tak punya pilihan lain selain berjualan koran. Jika bisa memilih tentu dia akan tinggal si rumah melakukan kesenangan-kesenangan yang biasa dilakukan oleh orang di usianya. Tapi ia memilih profesi yg mulia menjual koran yang berarti membuka ruang bagi orang lain untuk mendapatkan informasi. Nenek tersebut tidak memilih duduk diam dan menengadahkan tangannya sambil meminta-minta. Kita tentu sering melihat banyak orang di jalanan yang masih sehat bugar justru hanya menengadahkan tangannya sambil meminta-minta. Mereka harus lihat si nenek yg tak pernah menaruh tangannya di bawah.

Kedua, sekecil apapun usaha yg kita lakukan harus dilakukan dengan konsisten. Selama saya bekerja dua tahun dan melewati tempat si nenek berjualan, hanya beberapa kali saja saya tidak melihatnya duduk di tempatnya berjualan. Si nenek setiap pagi berjualan dari sehabis subuh sampai jam 9.

Ketiga, jangan menjadi benalu bagi kehidupan orang lain. Si nenek mengajarkan kepada kita bahwa janganlah bergantung pada orang lain bahkan jangan sampai menyusahkan orang lain. Di usianya yang tidak lagi muda si menek tetap berusaha sendiri mencari penghasilan bagi dirinya dan mungkin keluarganya. Saya memang tidak pernah bertanya dia tinggal di mana dan dengan siapa tapi dengan melihat yg dia lakukan setiap hari menandakan bahwa ia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan berusaha tidak bergantung pada orang lain.

Keempat, ia mengajarkan bagaimana cara bersyukur. Pernah suatu kali saya membeli koran Kompas dan saya berikan kembaliannya yg sangat kecil untuk si nenek. Dia membalas dengan sangat baik dan mengatakan terima kasih yang panjang dan iringan doa. Padahal sisa kembaliannya hanya lima ratus rupiah. Lima ratus rupiah yang seringkali kita sia-siakan bagi nenek tersebut sangatlah berarti. Seringkali kita mendapatkan rezeki yang baik justru tidak pernah mau bersyukur.

Bagi siapa saja yang sering melintas perempatan Dapsus arah Giant diharapkan sesekali bisa mampir dan membeli koran dari si nenek. Sudah lebih dari sebulan saya tak pernah lewat tempat itu lagi karena harus pindah bekerja. Doa dari saya semoga nenek sehat selalu dan mendapat keberkahan dari Allah yang Maha Pemurah. Terima kasih Nek!

Cibuntu, 28Ramadhan1435H.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s