Bekerja untuk Kemerdekaan

Setiap orang tentu punya cita-cita dan impian. Setiap orang pasti ingin bahagia. Founding Fathers dan Mothers republik ini pun demikian. Membayangkan suasana kebatinan menjelang proklamasi tahun 45 pasti sangat jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Setiap 17 Agustus tiap orang dengan cara yang berbeda berusaha merayakan kemerdekaan Indonesia. Jika membaca kembali sejarah kemerdekaan suasana kebatinan ketika itu sangat mencekam karena Jepang masih belum rela Indonesia merdeka dan ancaman Belanda yg masih menganggap Indonesia wilayah kekuasaannya yg sah dan sewaktu-waktu dapat datang ke Indonesia. Terbukti di tahun-tahun berikutnya agresi militer Belanda dilancarkan.

Indonesia merdeka adalah idaman para pejuang saat itu. Berbagai golongan berusaha mewujudkan kemerdekaan tersebut. Perdebatan panjang mengenai dasar negara Indonesia pun dalam rangka mencari format ideal kebangsaan di masa depan. Masing-masing berupaya berkontribusi bagi kemerdekaan tersebut. Golongan tua muda yang berdebat keras tentang kapan proklamasi kemerdekaan harus dilaksanakan pun menyambut suka cita pada saat akhirnya diputuskan 17 Agustus tahun 1945. Bendera pusaka yang dijahit oleh Ibu Fatmawati pun dapat dikibarkan dengan gagah setelah pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno didampingi Bung Hatta. Tak ada seremonial yg panjang, semua diadakan secara cepat dan sederhana. Suara teks proklamasi yang kita dengar saat ini pun baru direkam tahun 1950. Beruntung ada Laksama Maeda pejabat Jepang yang bermurah hati menyediakan rumahnya untuk proses perumusan teks proklamasi.

Berita kemerdekaan pada saat itu pun disebarkan melalui RRI dengan penuh hati-hati. Itupun dengan sembunyi-sembunyi. Seperti yg dijelaskan dalam website Antara, ketika itu pemimpin Domei Indonesia Adam Malik dari tempat persembunyiannya di Bungur Besar menelepon Asa Bafagih dan mendiktekan bunyi teks proklamasi. Adam Malik minta agar berita tersebut diteruskan kepada Pangulu Lubis untuk segera disiarkan tanpa izin Hodohan (sensor Jepang) sebagaimana biasanya. Perintah Adam Malik itu dilaksanakan Pangulu Lubis dengan menyelipkan berita proklamasi diantara berita-berita yang telah disetujui Hodohan yang kemudian disiarkan melalui kawat (morce cast) oleh teknisi Indonesia, Markonis Wua, dengan diawasi Markonis Soegiarin. Berita tersebut segera menyebar, dapat ditangkap di San Fransisco (AS) maupun di Australia.Pemerintah pendudukan Jepang gempar setelah mengetahui tersiarnya berita kemerdekaan RI. Butuh keberanian ekstra keras untuk melakukan hal tersebut. Keinginan untuk merdeka mengalahkan itu semua. Kemerdekaan adalah kebahagiaam tertinggi yang ingin diraih ketika itu. Semua proses dijalani dan diperjuangkan oleh semua pejung yang bekerja siang malam untuk kemerdekaan, untuk negara yang mereka idamkan.

Sekarang kita meneruskan keriangan kemerdekaan dengan beragam cara. Upacara kemerdekaan dan aneka perlombaan yang meriah. Semua kegiatan disambut dengan suka cita. Keriangan ada di setiap tempat. Anak kecil dan orang dewasa berbahagia. Hampir di setiap tempat bendera merah putih dikibarkan dengan gagah. Ada beberapa orang berseragam seperti pejung kemerdekaan lengkap dengan senjatanya berparade keliling kampung juga jenis arak-arakan lainnya sesuai kreativitas masing-masing.

Jika rujukannya perayaannya Bangsa kita memang jagoan. Setiap jenis perayaan ada dinegeri ini. Ada banyak prosesi dan simbol-simbol di negeri ini. Sayangnya  kita terkadang lebih mengedepankan simbol dibanding hal yg substansial. Setelah perayaan lupa hal yg lebih mendasar bahwa kemerdekaan yg sudah diperjuangkan harus dilanjutkan dan terus diperjuangkan. Indonesia yang adil dan berdaulat dan ramah bagi warganya sendiri tak boleh dilupakan. Semua harus berjuang untuk itu. Bekerja untuk kemerdekaan, bekerja untuk kemanusiaan. Setiap warga negara wajib diperlakukan secara baik, secara manusiawi. Apapun bidang pekerjaan yg saat ini ditekuni pasti punya kontribusi bagi Indonesia yang lebih baik. Jika melihat banyak permasalahan selalu muncul rasa pesimis. Tapi bukankah cita-cita kemerdekaan pejuang dahulu dimulai oleh rasa optimis? Maka tak ada salahnya kita pun selalu optimis akan adanya perubahan kehidupan yang lebih baik bagi Indonesia. Di mana pada suatu saat anak cucu kita akan hidup dengan suasana kehidupan yang lebih baik. Suasana kehidupan tanpa diskriminasi. Mari kita mulai kembali, bekerja untuk kemerdekaan, untuk Indonesia lebih baik. Merdeka!

Cibuntu, 17 Agustus 2014

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: