Belajar dari Seorang Sahabat

Hari minggu kemarin (28 Sept. 2014) saya kedatangan teman lama. Teman yang sama-sama merasakan kepayahan ketika belajar di Cipasung selama 3 tahun. Selama nyantri selalu kami menempati kamar yang sama, Kobong Ali, Kobong Walid dan Kobong Utsman. Kami hanya berbeda sekolah, saya di Aliyah dan dia di SMA. Dia datang menemui saya untuk mengundang acara pernikahannya yang akan diadakan dalam waktu dekat ini.

Ada beberapa hal yg saya pelajari darinya sejak dulu. Ia seorang pekerja keras dan tak pernah sekali pun mengeluh di hadapan saya. Padahal kisah hidupnya tak selalu mulus. Rasanya kalau mendengar ceritanya timbul rasa malu kenapa saya sering mengeluh dan kurang bersyukur.

Teman saya ini anaknya biasa saja. Di awal mesantren saya bertemu dan belajar banyak dari tiap orang khususnya di kobong (kamar) yang saya tempati termasuk dari dirinya. Ia berasal dari salah satu provinsi di Jawa Barat dari keluarga biasa saja. Ayah dan Ibunya merantau di Jakarta untuk berdagang. Dia sering bercerita tentang aktivitasnya jika liburan di Jakarta.

Di tahun kedua ternyata saya ditempatkan satu kobong lagi dengan dia. kami diberi tugas oleh Rois untuk membantu mengawasi adik-adik yg bersekolah di SMP. Ikatan saya dengan dia pun semakin erat. Hidup di pesantren yg jauh dari orang tua menjadikan kami lebih dari saudara. Ternyata di tahun ketiga saya pun sekamar dengan dia. Kami santri yg sudah kelas 3 ditempatkan di satu kamar. Di tahun ketiga ada peristiwa yang menurut saya menjadi titik balik teman saya tersebut, Ayahnya meninggal. Dahulu Handphone (HP) adalah barang eksklusif jadi hanya beberapa dari kami yang memiliki HP bahkan pada momen tertentu santri tak boleh memiliki HP karena khawatir mengganggu kegiatan mengaji dan belajar. Keluarganya menelpon Ibu asrama, Ia diberitahu oleh Ibu asrama bahwa ayahnya sakit dan ia diminta pulang. Saya tak tahu apakah ia sudah punya firasat atau belum, ternyata ketika dikabarkan sakit ayahnya sudah meninggal. Saya saja yang mendengar ceritanya sedih luar biasa. Di usianya yang sangat muda dia harus kehilangan ayah yg dicintainya. Ketika kembali ke Pesantren tak ada sikap sedih yang berlebih yang diperlihatkan. Malahan saya melihat dia semakin rajin dan memiliki motivasi untuk menjadi lebih baik. Apalagi jika mendengar ceritanya bahwa ia  adalah anak pertama dan pasti akan menjadi kepala keluarga.

Lulus dari Cipasung kami menempuh jalan berbeda, ia masuk ke UIN Syarif Hidayatullah dan saya masuk ke UNJ. Walaupun berpisah beberapa kali saya bertemu. Beberapa kali saya ke UIN atau bertemu di Matraman tempat ibunya berjualan atau dia menginap di rumah saya.

Jika bertemu tak pernah dia mengeluh kesulitan pembiyaan kuliah ataupun yang lainnya. Walaupun saya paham tak mudah menjalani hidup tanpa ayah dan harus tetap semangat belajar sambil bekerja. Dia juga tak pernah bercerita aktivitas di saat liburan kuliah. Saya tahu ia bekerja ekstra keras agar ia tetap bisa kuliah. Tapi tak pernah ia mengeluh kesulitan yang ia alami. Sejak di pesantren gayanya selalu begitu. Dan ini yg membuat saya salut.

Tahu  2009 kami sama-sama lulus. Saya beberapa tahun  aktif di Pusat kajian di Kampus dan dia pun aktif di salah satu lembaga pendidikan dan sering melakukan seminar. Saya masih sering bersilaturahmi. Seringnya sih dia menginap di rumah. Tapi dia tak pernah cerita kesulitan hidupnya.

Setelah 2009 praktis saya tak pernah bertemu dengan dia. Hanya via sms saja kami saling mengabari. Tahun 2012 saya menikah. Dia datang ke rumah dengan gayanya yang masih sama dengan beberapa tahun sebelumnya. Alhamdulillah dia sudah bekerja di salah satu Bank. Murtad dari jurusan Tarbiyah yg ia dalami. Semalam suntuk kami saling bercerita. Dia banyak cerita tentang kondisi keluarganya, termasuk sakit yg diderita adiknya dan usahanya agar adiknya tetap sehat. Di situ saya menyadari bahwa hidup tak terlalu ramah untuknya. Usaha ibunya tak seoptimal ketika ayahnya masih ada. Ia harus bekerja keras membiayai kuliah dan kebutuhan lainnya. Walaupun ia bercerita saudaranya banyak membantu. Saya sendiri kadang merasa bersalah karena tak punya kontribusi apa-apa. Padahal kalau dia bicara tentang kesulitannya, akan saya bantu semampu yg saya bisa. Tapi tak pernah ia katakan sedikitpun  rasa sulit yg dia rasakan selama kuliah sampai dia lulus. Setelah saya menikah kami tak pernah bertemu selama dua tahun lebih.

Baru kemarin saya bertemu dengan dia. Badannya makin  kurus tapi tatapan optimis memandang hidup masih sama seperti dahulu. Kami mengobrol lama sekali. Dia bercerita lebih detil tentang pengobatan adiknya. Bagaimana ia berusaha agar operasinya berjalan lancar. Adiknya sakit di saat dia harus menyelesaikan skripsi. Tak punya laptop atau komputer sehingga harus curi-curi waktu mengerjakan skripsi dan bimbingan sambil menjaga adiknya. Selama sebulan ia harus menunggu adiknya di rumah sakit sambil menyelesaikan skripsi dan bekerja. Beruntung biaya operasi dan pengobatan ditanggung pemerintah melalui program Jamkesmas. Itupun harus pulang pergi ke kampunya untuk mengurus administrasi dan rujukan. Kita paham bagaimana rumitnya mengurus administrasi di negeri ini. Semuanya dikerjakan sendiri dan berbarengan dengan pengerjaan skripsi. Hebatnya skripsinya selesai dan lulus dan alhamdulillah adiknya sehat kembali.

Mendengar ceritanya saya hanya bisa bersyukur. Terlalu banyak kemudahan dan anugerah yang saya dapatkan. Sedangkan sahabat saya sangat berdarah-darah untuk meraih segala cita-citanya. Kalau semangatnya tidak kuat mungkin sejak lama ia putus sekolah dan tak melanjutkan kuliah.  Saya banyak belajar dari kisah hidupnya. Biaya kuliah adiknya pun disuplai olehnya. Di tengah segala keterbatasannya ia tak pernah putus asa. Saya tak sebanding dengan apa yg telah dilakukannya.

Beberapa minggu lagi ia akan menikah. Saya hanya mampu mendoakan semoga pernikahannya ada dalam keberkahan Allah SWT. Saya juga mendoakan agar kebahagian selalu meliputi hari-harinya. Selamat menikah sahabat terbaik.

Rawamangun, 30 September 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s