Sosiologi

Berger dan Luckmann: Pemikiran Modern Tentang Pengetahuan

Definisi mengenai apa itu “pengetahuan” dan “kenyataan” tentu berbeda-beda tergantung siapa yang memandang dan memaknainya. Definisi dari “pengetahuan”, “kenyataan” dari orang awam, filsuf sampai sosiolog tentu saja berbeda.  Pemahaman sosiologis mengenai “kenyataan” dan pengetahuan kira-kira terletak di tengah-tengah pemahaman orang awam dan filsuf. Filsuf terbiasa untuk tidak menerima apa saja sebagai sesuatu yang taken for granted, sedangkan orang awam dengan begitu saja menerima apa itu “kenyataan” dan “pengetahuan sebagai sesuatu yang taken for granted, yang lazim terjadi dan memang semestinya itu terjadi tanpa perlu mempertanyakan lagi, seperti yang dilakukan oleh seorang filsuf. Seorang sosiolog kemudian dapat mengambil jalan tengah dari pemahaman orang awam dan filsuf. Seorang sosiolog mesti memiliki kesadaran yang sistematis mengenai fakta bahwa ada kelompok tertentu yang menerima pengetahuan dan kenyataan sebagai sesuatu yang biasa saja dan pada kelompok lain yang memiliki pemahaman yang berbeda.

Sosiologi memiliki perhatian terhadap “kenyataan” dan “pengetahuan” dalam kaitannya dengan suatu konteks sosial yang spesifik. Misalnya sesuatu yang “nyata” yang difahami oleh seorang biarawan di Tebet berbeda dengan yang “nyata” yang difahami oleh seorang pengusaha di Amerika Serikat. Kumpulan spesifik dari “kenyataan” dan “pengetahuan” berkaitan dengan konteks-konteks sosial yang spesifik, bahwa hubungan-hubungan itu harus dimasukan ke dalam suatu analisis sosiologis yang memadai mengenai konteks-konteks tersebut.

Oleh karena itu munculah kebutuhan akan sosiologi pengetahuan, sosiologi pengetahuan menurut Berger dan Luckmann harus memfokuskan diri pada apa saja yang dianggap sebagai “pengetahuan” dalam suatu masyarakat, terlepas dari persoalan, kesahihan atau ketidaksahihan yang paling dasar. Dari “pengetahuan tersebut”. Oleh karena itu sejauh mana “pengetahuan” manusia dikembangkan maka sejauh itulah sosiologi pengetahuan harus berusaha memahami bagaimana proses-proses tersebut dilakukan sampai hal tersebut dianggap sebagai suatu “kenyataan” yang dianggap biasa oleh orang awam. Berger dan Luckman berpendapat bahwa sosiologi pengetahuan memfokuskan diri pada analisa pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality).

 Istilah sosiologi pengetahuan diciptakan oleh Max Scheler pada tahun 1920an. Sosiologi pengetahuan lahir dalam situasi khusus dalam sejarah intelektual Jerman. Sosiologi pengetahuan kemudian menyebar kepada tradisi sosiologi yang menggunakan bahasa Inggris seperti Amerika. Akan tetapi posisi dari sosiologi pengetahuan dipandang sebelah mata. Bahkan ada yang menganggap bahwa sosiologi pengetahuan adalah semacam catatan sosiologis mengenai sejarah pemikiran saja.

Ada beberapa definisi mengenai hakikat dan cakupan dari sosiologi pegetahuan. Akan tetapi ada suatu kesepakatan umum bahwa sosiologi pengetahuan memfokuskan pada hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial di mana pemikiran itu timbul. Dapat dikatakan bahwa sosiologi pengetahuan merupakan fokus sosiologis dari suatu masalah yang jauh lebih umum, yaitu masalah dari determinisme eksistensial.

Sosiologi pengetahuan memperoleh proposisi akarnya dari Marx. Marx menyatakan bahwa kesadaran manusia ditentukan oleh keberadaan sosialnya. Salah satu konsepnya adalah mengenai kesadaran palsu. Marx menyatakan bahwa yang dimaksud pengetahuan adalah suatu kesadaran manusia secara praksis, bahwa kesadaran dan pengetahuan yang dimiliki oleh sesorang ditentukan oleh kepentingan. Yang menjadi pokok pemikiran Marx adalah pemikiran manusia selalu didasarkan atas kegiatan manusia dan atas hubungan-hubungan sosial yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut.

Tokoh yang selalu menjadi referensi dalam sosiologi pengetahuan adalah Karl Mannheim. Mannheim lebih banyak dijadikan rujukan  apabila orang berbicara mengenai sosiologi pengetahuan. Dibandingkan dengan Scheler, Mannheim lebih dekenal, hal ini dimungkinkan karena banyak karya Mannheim yang sudah diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dibandingkan dengan karya-karya Scheler. Pemahaman Mannheim mengenai sosiologi pengetahuan jauh lebih besar jangkauannya debgandingkan dengan pemahaman Scheler. Hal ini dimungkinkan karena Mannheim lebih menonjolkan konfrontasinya dengan Marx.

Menurut Mannheim sosiologi pengetahuan menjadi suatu metode yang positif bagi penelaahan hampir setiap fase pemikiran sosial. Kemudian Mannheim memiliki ketertarikan kepada gejala ideologi. Ia membedakan antara konsep-konsep ideologi yang partikular, yang total dan yang umum. Ideologi sebagai karakteristik tidak hanya dari pemikiran lawan melainkan juga dari pemikiran sendiri. Dengan konsep ideologi yang umum, dicapailah tingkat sosiologi pengetahuan. Mannheim berpendapat bahwa pengaruh-pengaruh ideologisasi, meski tidak bisa dihilangkan sama sekali, dapat diperlunak melalui analisa yang sistematis dari sebanyak mungkin posisi yang berbeda dan yang mempunyai landasan sosial. Dengan kata lain, objek pemikiran secara berangsur-angsur menjadi lebih jelas dengan adanya akumulasi berbagai perspektif mengenainya. Sosiologi pengetahuan bertugas  sebagai alat pembantu yang penting dalam upaya memperoleh pemahaman yang benar tentang peristiwa-peristiwa manusia.

 Kritik terhadap Mannheim

Rumusan Mannheim mengenai sosiologi pengetahuan masih menjadi kerangka acuan bagi disiplin sosiologi pengetahuan. Tokoh sosiologi Amerika yang memberikan perhatian pada sosiologi pengetahuan adalah Robert K. Merton. Merton telah menyusun sebuah paradigma bagi sosiologi pengetahuan, dengan merumuskan kembali tema-tema utamanya dalam bentuk yang padat dan koheren. Merton melakukan upaya untuk mengintegrasikan cara pendekatan sosiologi pengetahuan dengan cara pendekatan teori struktural-fungsional. Konsep-konsep Merton sendiri mengenai fungsi-fungsi yang “manifes” dan yang “laten” diterapkan pada bidang ideasi, di mana diadakan pembedaan antara fungsi-gungsi ide yang sengaja dan disadari dari dan fungsi-fungsinya yang tidak disengaja dan yang tidak disadari. Sementara Merton memusatkan perhatiannya kepada karya Mannheim, yang baginya merupakan ahli sosiologi pengetahuan par excellence, ia juga semakin memantapkan bahwa pemikiran Durkheim dan karya Piritim Sorokin juga penting dalam memahami sosiologi pengetahuan -Durkheim berpendapat bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang memiliki kemampuan untuk memaksa individu, berlaku umum dan keberadaanya tidak bergantung pada kesadaran individu, pengetahuan dalam pandangan Durkheim adalah fakta sosial -.

Selain Merton, Talcott Parsons juga memberikan komentarnya terhadap sosiologi pengetahuan. Namun komentarnya itu hanya terbatas kepada suatu kritik terhadap Mannheim dan tidak berusaha mengintegrasikan disiplin itu ke dalam sistem teori. Dalam sistem teori Parsons itu, “masalah peranan ide-ide” memang dianalisa secara panjang-lebar, tetapi dalam suatu kerangka referensi yang sangat berbeda dengan kerangka referensi sosiologi pengetahuan Scheler ataupun Mannheim.

Berger dan Luckmann menyatakan bahwa baik Merton ataupun Parsons tidak pernah melampaui sosiologi pengetahuan yang telah dirumuskan oleh Mannheim. Mills juga memberikan kritik terhadap sosiologi pengetahuan, akan tetapi kritik tersebut tidak memberikan sumbangan teoritis dalam pengembangan sosiologi pengetahuan. Kemudian ada Theodor Geiger yang mengintegrasikan sosiologi pengetahuan dengan suatu pendekatan neo-positivis. Kemudian pendekatan neo-positivis dilanjutkan oleh Ernst Topitsch dalam karyanya yang berbahasa Jerman.

Berger dan Luckman kemudian menjelaskan bahwa  upaya yang mempunyai jangkauan yang paling jauh untuk melampaui Mannheim dalam pembangunan sebuah sosiologi pengetahuan yang komprehensif, adalah yang dilakukan olerh Werner Stark, seorang sarjana lainnya yang beremigrasi dari Daratan Eropa dan pernah mengajar di Inggris dan di Amerika Serikat. Tugas sosiologi pengetahuan bukanlah untuk membersihkan dari prasangka atau menelanjangi distorsi-distorsi yang ditimbulkan secara sosial, melainkan untuk menelaah secara sistematis kondisi-kondisi sosial bagi pengetahuan sebagai pengetahuan. Secara sederhana, masalah sentral di sini adalah sosiologi kebenaran, bukan sosiologi kekeliruan. Meskipun cara pendekatannya berbeda, Stark barangkali lebih dekat ke Scheler daripada ke Mannheim dalam pemahamannya mengenai hubungan antara gagasan-gagasan dan konteks sosialnya.

Berger dan Luckmann berpendapat bahwa sosiologi pengetahuan ditujukan kepada persoalan-persoalan epistemologis pada tingkat teoritis, pada persoalan-persoalan sejarah intelektual pada tingkat empiris. Berger dan Luckmann juga  menyayangkan bahwa konstelasi yang khusus ini telah mendominasi sosiologi pengetahuan hingga kini. Mereka berpendapat bahwa, sebagai akibatnya, arti teoretis yang sepenuhnya dari sosiologi pengetahuan, telah menjadi kabur. Menurut mereka memasukkan persoalan-persoalan epistemologis mengenai kesahihan pengetahuan sosiologis ke dalam sosiologi pengetahuan, agaknya bagaikan usaha seseorang untuk mendorong sebuah bus sambil duduk di dalamnya. Memang benar bahwa sosiologi pengetahuan—seperti semua disiplin empiris yang menghimpun bukti-bukti tentang relativitas dan mendeterminasi pemikiran manusia—menuju ke arah persoalan-persoalan epistemologis mengenai sosiologi itu sendiri dan setiap perangkat pengetahuan ilmiah lainnya. Seperti telah kemukakan di atas, dalam hal ini sosiologi pengetahuan memainkan peran yang serupa dengan sejarah, psikologi dan biologi, untuk hanya menyebutkan tiga disiplin yang paling penting yang telah menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi epistemologi.

Referensi

Berger, Peter L. Dan Thomas Luckmann (1979): The Social Construction of Reality: a

Treatise in the Sociology of Knowledge. Middlesex: Penguin books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s