Sosiologi

Ilmu Sosial di Asia

Syed Farid Alatas Associate Profesor di Departemen Sosiologi National University of Singapore memaparkan bahwa perkembangan berbagai disiplin dan institusi ilmu sosial yang banyak diajarkan di berbagai wilayah Asia dirintis dan dilanggengkan oleh para ilmuan dan pemerintahan kolonial sejak abad ke 18. Sementara itu, orang-orang Eropa lainnya juga berkontribusi bagi perkembangannya baik secara langsung maupun tidak langsung di wilayah kolonial.

Alatas kemudian mencontohkan di Afganistan sudah diberikan pengajaran mengenai ekonomi politik, sosiologi, sejarah politik sejak tahun 1939 di Universitas Kabul. Walaupun pengajarnya orang Turki, tetapi pengajar tersebut banyak dipengaruhi tradisi Jerman dan Perancis. Di Universitas Dhaka Bangladesh kuliah yang pertama kali dilaksanakan adalah ekonomi, politik, sosiologi, antropologi dan geografi. Universitas Rangoon di Burma mengikuti model Universitas Oxford dan Cambridge mengajarkan kuliah ekonomi, sosiologi, sejarah, ilmu politik, psikologi, dan sosiologi sejak tahun 1912. Di Hindia Belanda, orang-orang Belanda dan Indonesia didikan Belanda belajar ilmu-ilmu sosial sejak tahun 1920an. Demikian pula Malaysia dan Singapura yang berkenalan dengan ilmu sosial secara formal melalui Raffles College pada tahun 1929. Filipina yang sangat mencontoh Amerika dalam bidang pendidikan bahkan mengenal ilmu-ilmu sosial sejak abad ketujuh belas.

Fakta bahwa sebagian besar ilmu-ilmu sosial dan humaniora di begara berkembang datang dari barat telah memunculkan masalah relevansi ilmu-ilmu tersebut bagi kebutuhan dan masalah dunia ketiga. Orang-orang non barat terkadang diakui sebagai perintis berbagai disiplin humaniora, yang tahapan formatifnya berlangsung di barat, dan kemudian ditanamkan di masyarakat non barat. Contoh perintis non barat adalah Ibn Haldun.

Alatas berpendapat bahwa ada beberapa persoalan dalam perkembangan ilmu-ilmu sosial di Asia, yaitu:

  1. Ada bias Eurosentris sehingga ide, model, masalah, metodologi, teknik bahkan prioritas riset cenderung semata-mata dari karya Amerika, Inggris dan hingga tingkatan tertentu Prancis dan Jerman.
  2. Ada pengabaian umum terhadap tradisi filsafat dan sastra lokal. Meskipun mungki ada telaah-telaah mengenai literature atau filsafat lokal, tradisi semacam itu tetap menjadi objek telaah, tidak dianggap sebagai sumber konsep ilmu sosial.
  3. Kurangnya kreatifitas atau ketidakmampuan para ilmuan sosial di luar arena budaya Euro-Amerika untuk mengeluarkan teori dan metode yang orisinal.
  4. Terjadinya memesis (peniruan), terlihat pada pengadopsian atau peniruan yang tidak kritis terhap model ilmu barat.
  5. Diskursus Eropa mengenai masyarakat non barat cenderung mengarah pada konstruksi esensialis yang mengonfirmasi bahwa dirinya adalah kebalikan dari Eropa: barbar, terbelakang dan irasional.
  6. Tiadanya sudut pandan minoritas. Kelompok minoritas bukan hanya dalam arti minoritas etnik, tetapi juga semua kelompom yang tak beruntung dan terpiggirkan, dapat ditegaskan bahwa ilmu-ilmu sosial terdominasi oleh perspektif elitis.
  7. Persekutuan dengan negara. Peran yang dimainkan disiplin-disiplin seperti antropologi dan geografi pada masa kolonial terus berlanjut sampai sekaran. Seperti misalnya antropologi dipakai negara untuk mempromosikan integrasi, kontrol atas kebijakan negara dan penciptaan suatu budaya nasional
  8. Persoalan-persoalan tersebut tampak eksis dalam konteks imperealisme akademis atau intelektual, yakni dominasi intelektual dunia ketiga oleh kekuatan-kekuatan ilmu-ilmu sosial AS, Inggris dan Perancis.

Referensi

Alatas, Syed Farid. 2010. Diskursus Alternatif dalam Ilmu Sosial Asia, Tanggapan terhadap Eurosentrisme. Jakarta: Mizan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s