Guru Inspiratif

Kalau engkau tidak yakin betul, lepaskan cita2mu untuk menjadi guru. Seorang guru adalah kurban, kurban untuk selama-lamanya. Dan kewajibannya terlampau berat, membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam)

Jika merujuk yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer tersebut maka membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam jiwa anak-anak bangsa memang sangatlah sulit. Guru bukanlah sosok biasa yang tugasnya hanya mengajar. Guru juga harus menginspirasi, memberikan semangat kepada para peserta didiknya bahwa mereka adalah generasi hebat. Guru yang hanya sekedar memberi ilmu yang diketahuinya saja tentu belum dapat dikategorikan sebagai guru yang menginspirasi.

Untuk mencapai maqam guru yang mampu menginspirasi tentu tak mudah. Tolok ukurnya pun sulit dilihat. Jika suatu saat siswa yang pernah diajar datang kepada guru tersebut setelah mereka sukses di dunia pekerjaan atau kehidupannya kemudian bercerita bahwa salah satu yang membuat mereka sukses adalah karena mendapatkan pencerahan dari sang guru maka bisa dipastikan bahwa guru tersebut menginspirasi. Seringkali saya melihat guru-guru yang lebih senior kedatangan murid-murid yang sudah melampaui kesuksesan gurunya dan bercerita kondisi mereka saat ini dan bagaimana mereka berterima kasih telah diberikan bimbingan selama di sekolah. Bagi saya saat itulah guru dapat disebut sebagai guru yang menginspirasi. Siswa tak lupa pada apa yang disampaikan gurunya dan ingat bahwa kontribusi guru tidak sedikit dalam keberhasilan mereka.

Yang jelas sebagai guru kita harus menyadari bahwa setiap perkataan maupun tindakan yang dilakukan akan selalu terkenang di hati para peserta didik. Maka jika guru hanya terjebak pada rutinitas “sudah selesai memberikan materi” dan tugasnya selesai maka guru tersebut jauh dari kata menginspirasi. Bukankah William Arthur menyatakan bahwa guru biasa mengatakan, guru baik menjelaskan, guru superior mendemonstrasikan, dan guru luar biasa menginspirasi. Maka untuk mencapai jenjang menginspirasi setiap langkah harus dipersiapkan. Jika kita ingin para peserta didik yang memiliki minat membaca yang tinggi maka guru harus memberikan contoh yang baik bagaimana menjadi guru yang memiliki minat baca yang baik. Peserta didik harus dikenalkan kepada buku-buku baik dan berkualitas.

Guru yang menginspirasi juga tak henti-hentinya belajar sehingga menginspirasi peserta didik menjadi pembelajar setiap saat. Guru yang memberikan inspirasi tentu tidak akan tersertifikasi, karena yang layak memberikan gelar guru inspiratif bukan lembaga manapun, tapi para peserta didik yang sudah tersentuh hatinya dan ingin berubahlah yang berhak menyatakan bahwa sang guru sangat inspiratif. Guru yang dapat membuka kebajikan-kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa.

Rawamangun, 30 Oktober 2014

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: