Kisah Guru

Selalu banyak kisah mengenai guru. Di Indonesia, setiap tahun tanggal 25 November diperingati sebagai hari guru. Jika secara formal guru adalah sosok yang mendidik kita di sekolah, dalam arti yang lebih luas, guru adalah sosok yang dapat memberikan pencerahan kepada kita, siapapun itu. Tentu setiap orang akan punya sosok yang langsung teringat di benaknya jika ditanya siapa guru yang telah memberikan pencerahan kepadanya. Ada banyak nama yang melintas di pikiran saya. Hampir semua guru yang mendidik saya secara formal di lingkungan SD, SMP, SMA, Pesantren, dan Perguruan Tinggi. Sosok tersebut yang membentuk saya sampai tahap saat ini. Didikan ikhlas merekalah yang membuat kita sampai tahap seperti sekarang ini.

Menjadi guru yang menginspirasi itu bukan pekerjaan mudah. Guru sebagai profesi dapat diraih melalui proses pendidikan di perguruan tinggi. Lulusan perguruan tinggi dapat menjadi seorang guru setelah mereka melalui pendidikan yang dipersyaratkan. Setelah mengajar di sekolah tak semua guru menjadi guru yang menginspirasi. Inspirasi yang tak hanya diingat selama satu dua hari tapi selamanya. Murid dapat terinspirasi dari berbagai hal yang dilakukan oleh gurunya. Oleh karena itu guru tak bisa sembarangan mengeluarkan kata atau menampilkan tindakan. Setiap kata dan tindakan akan diingat oleh murid yang diajar.

Mengutip dari wikipedia, guru memiliki banyak arti dalam berbagai ajaran agama. Dalam agama Hindu guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi  (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual atau kejiwaan murid-muridnya. Dalam agama Budha, guru adalah orang yang memandu muridnya dalam jalan menuju kebenaran. Murid seorang guru memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva. Dalam agama Sikh, guru mempunyai makna yang mirip dengan agama Hindu dan Buddha, namun posisinya lebih penting lagi dikarenakan salah satu inti ajaran agama Sikh adalah kepercayaan terhadap ajaran sepuluh guru Sikh. Orang India, China, Mesir, dan Israel menerima pengajaran dari guru yang merupakan seorang imam atau nabi. Oleh sebab itu, seorang guru sangat dihormati dan terkenal di masyarakat serta menganggap guru sebagai pembimbing untuk mendapat keselamatan dan dihormati bahkan lebih dari orang tua mereka. Imam Ali Karamallahuwajhah menyatakan bahwa: Aku adalah hamba dari seorang yg mengajari satu huruf sekalipun.

Jika merujuk pengertian guru di tiap perspektif keagamaan tersebut peran guru sangatlah besar dan mulia. Sebagai pemandu spiritual yang membawa murid kepada jalan kebenaran tentu bukan pekerjaan mudah. Guru adalah seseorang yang memberikan jiwanya untuk mendidik anak-anak muda yang ingin dicerahkan jiwanya. Tak semua orang yang memiliki profesi sebagai pengajar di sekolah formal dapat menjadi “guru” dalam perspektif yang diisyaratkan pada definisi guru dalam berbagai perspektif keagamaan tersebut. Hanya guru yang inspiratif yang layak menempati posisi-posisi tersebut.

Jika mendengar pernyataan Pak Anies Baswedan pada saat silaturahmi dengan jajaran Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah beberapa saat yang lalu yang menganjurkan agar kita semua mendatangi guru-guru dan mencium tangannya serta sampaikan terima kasih kepada jasa dan pengabdian mereka. Pernyataan tersebut mengingatkan sekaligus menyentil kita yang seringkali lupa terhadap guru-guru yang pernah mendidik waktu di sekolah. Sudahkah setelah lulus dari tiap jenjang pendidikan kita mendatangi guru-guru yang mendidik selama beberapa tahun? Saya sendiri merasa tidak secara optimal mendatangi guru-guru saya dan mengucapkan terima kasih. Kita seringkali melupakan orang-orang yang telah berjasa besar dalam proses pendidikan selama di sekolah. Setelah saya menjadi guru beberapa saat ini sangatlah terasa jika ada siswa yang mengapresiasi apa yang sudah disampaikan kepada mereka. Guru-guru yang sudah mengajar kita juga akan sangat bahagia apabila kita kunjungi. Tentu kunjungannya tidak hanya harus tatap muka mengingat jauhnya jarak kita saat ini dengan guru-guru di masing-masign sekolah. Beberapa guru dapat kita lacak di media sosial ataupun dicari nomor telponnya. Lalu kita bisa sampaikan terima kasih atas keikhlasan mereka dalam membimbing kita. Tak ada yang dapat kita berikan selain ucapan terima kasih setulus hati. Saya yakin itu akan sangat menyenangkan hati mereka. Mari kita sempatkan ucapkan terima kasih kepada guru yang telah berjasa mendidik kita, lewat tatap muka maupun melalui media lainnya. Terima kasih guruku. Jasamu tiada tara.

Rawamangun, 24 November 2014

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

One thought on “Kisah Guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: