pendidikan

Strategi Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Baru saja saya membaca Buku Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan yang ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Aziz Wahab dan Prof Dr. Sapriya. Keduanya adalah Dosen Universitas Pendidikan Indonesia atau biasa disebut UPI Bandung. Pada bab XVII dibahas mengenai Pendekatan, Metode, dan Penilaian Pendidikan Kewaganegaraan di Indonesia. Sebagai pendidik tentu saja hal ini sangat menarik. Selanjutnya secara spesifik saya akan berusaha untuk menuliskan apa saja strategi dan metode pembelajaran PKn yang ditampilkan di dalam buku ini dan juga akan saya lengkapi dengan pengalaman saya selama dua tahun ini mengajar PKn di SMAI Al Izhar.

Menurut kedua penulis inovasi dalam pembelajaran PKn harus selalu dilakukan. Melalui pembelajaran PKn diharapkan peserta didik dapat menjadi lebih mandiri dalam memahami dan mencari solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi serta dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi penyelesaian masalah tersebut. Sasarannya menurut kedua penulis adalah membentuk warga negara yang baik dan cerdas (good and smart citizens), partisipatif (participative citizen) dan bertanggung jawab (responsible citizen). Saat ini pada Kurikulum 2013 proses pembelajaran harus mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba [observation based learning] untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Di samping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning. Maka jika merujuk pembelajaran memokuskan pada peserta didik (student centered learning) dan memberikan ruang yang luas kepada peserta didik untuk mengembangkan seluruh potensinya. Hal tersebut dikarenakan setiap peserta didik mendapatkan pengalaman yang optimal dalam proses pembelajarannya tidak hanya menunggu dan mendengarkan materi dari guru semata.

Dalam  buku ini kedua penulis menyajikan pendekatan pembelajaran PKn dengan merujuk pada pendapat Turner dkk (1900). Menurut Turner dkk (1990) pendekatan pembelajaran PKn adalah sebagai berikut: Audio visual materials, case studies, community resources person, cooperative learning, debate polls. interviews, survei, mock trials, role plays and simulations writing letters to public officials. Secara detil definisi tiap pendekatan adalah sebagai berikut:

  1. Audio visual materials (Pendekatan Sumber Belajar Audio Visual)

Bahan dalam pembelajaran audiovisual antara lain: film, filmstrips, videotape, slide, video camera, cassette recording, compact disk, DVD dan lain-lain. Tentu saja saat ini guru lebih mudah menggunakan bahan audiovisual. Jika guru dapat mengakses internet dengan baik maka lewat internet beragam media yang dapat memberikan pengayaan bagi para peserta didik dapat ditampilkan. Misalnya dengan mengunduh di youtube beragam materi dapat disajikan kepada peserta didik. Selain supaya tidak bosan, para peserta didik mendapatkan informasi beragam dari video yang ditampilkan oleh guru. Seringkali saya menggunakan video yang berkaitan dengan materi pembelajaran agar peserta didik dapat banyak informasi. Peserta didik dapat menganalisis video yang sudah disampaikan dan menyampaikan pendapatnya kepada forum di kelas. Seringkali saya menampilkan cuplikan dialog yang ada di televisi. Misalnya saya menampilkan wawancara Najwa Shihab dalam Matanajwa ataupun potongan talkshow Kick Andy. Banyak isu aktual yang dibahas yang sejalan dengan materi pembelajaran PKn yang kemudian dapat ditampilkan kepada peserta didik. Beberapa kali juga saya menampilkan film dokumenter. Film dokumenter seringkali mengulas tema-tema tertentu yang disajikan dengan perspektif tertentu. Hal tersebut juga akan menimbulkan rasa ingin tahu peserta didik. Guru tinggal mengulas dan memberikan pandangan mengenai isu yang dibahas dikaitkan dengan materi pembelajaran.

 2.Pendekatan Studi Kasus

Pendekatan studi kasus merupakan pendekatan yang menyajikan kejadian situasi konflik atau dilema. Peserta didik menganalisis masalah berdasarkan fakta kasus untuk menghasilkan keputusan menurut langkah-langkah secara bertahap serta mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan yang diambil tersebut. Studi kasus mendorong peserta didik untuk mengajukan pertanyaan, menetapkan komponen-komponen yang dianggap penting dalam situasi, menganalisis, menyimpulkan dan membandingkan serta mempertentangkan komponen-komponen tersebut, dan membuat penilaian dari kasus tersebut. Yang saya lakukan dengan metode ini adalah mengambil sumber dari media massa atau internet dan kemudian para peserta didik diminta mendeskripsikan dan kemudian menganalisis permasalahan yang mereka dapat. Setelah mereka berdiskusi, hasil diskusi tersebut dipresentasikan di depan teman-temannya. Kemudian saya memberikan kesempatan kelompok lain untuk bertanya. Alokasi waktu dari proses pembelajaran dengan metode studi kasus ini biasanya sebagai berikut:

A. Pencarian bahan dan diskusi selama 30 menit

B. Presentasi dan tanya jawab 7-10 menit

Dalam prakteknya tentu tak selalu mudah, karena tidak semua peserta didik dapat bekerjasama dan mampu berdiskusi. Oleh karena itu peran guru dalam mengatur proses pembelajaran sangatlah penting. Jika di kelas yang memang aktif peserta didik dapat dibebaskan untuk memilih siapa saja yang akan menjadi kelompoknya. Tetapi untuk kelas yang tidak terlalu aktif saya biasanya memilihkan siapa saja yang akan menjadi anggota kelompok diskusi. Biasanya saya menempatkan minimal satu orang yang akan menjadi pemandu bagi teman-teman yang kurang aktif. Cara ini lumayan efektif karena peserta didik yang kurang aktif dapat terbawa suasana dan berusaha untuk aktif. Dan sebagai fasilitator guru harus bersedia kapan saja ditanya oleh tiap kelompok mengenai permasalahan yang belum difahami. Guru tak boleh duduk diam dan asik dengan dirinya sendiri ketika proses diskusi. Guru siap kapan saja ditanya dan siap memberi pengarahan dengan baik. Kasus-kasus dalam pelajaran Kewarganegaraan tentu saja sangat beragam dan dapat diambil sesuai tema. Tema-tema kontroversi biasanya akan lebih menarik. Tentu sebelum memulai pendekatan studi kasus guru harus memberikan pengantar dan poin penting apa yang diharapkan didapat oleh para peserta didik setelah pembelajaran usai. Jangan pernah membebaskan peserta didik tanpa memberikan guidline yang mereka harus lakukan dalam proses pembelajaran. Guru pun harus memberikan kalimat penutup di akhir pelajaran serta perspektif guru mengenai kasus atau permasalahan yang sedang dibahas. Terlepas guru juga memberikan keleluasaan bagi peserta didik mengenai pemahaman dan analisis yang telah mereka lakukan.

  1. Pendekatan Narasumber Masyarakat

Narasumber di sini adalah orang yang berpengetahuan dan memiliki pandangan luas yang akan memperkaya pengetahuan peserta didik. Di Kelas X saya pada materi mengenai Menghargai Persamaan Kedudukan Warga Negara dlm Berbagai Aspek kehidupan saya memberikan tugas kepada para peserta didik untuk mewawancarai Warga Negara Indonesia (WNI) yang menikah dengan Warga Negara Asing WNI. Tugas ini dimaksudkan agar para peserta didik dapat mendapatkan pembelajaran langsung dari orang-orang yang menikah dengan warga negara asing. Aspek yang di amati antara lain adalah: profil dari informan, status kewarganegaraan setelah menikah, status kewarganegaraan anak, proses pergantian kewarganegaraan (jika ada). Hal tersebut adalah pertanyaan minimal sehingga dapat dikembangkan oleh peserta didik. Diharapkan setelah melakukan wawancara wawasan peserta didik menjadi lebih baik. Selain itu peserta didik diharapkan gigih mencari siapa yang akan diwawancarai, karena tidak mudah mendapatkan orang yang bisa diwawacarai dan memahami konten yang ditanyakan. Saya juga meminta mereka untuk membuat transkrip wawancara dan menganalisis serta menyimpulkan hasil wawancara tersebut. Proses tersebut biasanya saya beri waktu lebih dari 1 bulan agar mereka mendapatkan hasil terbaik. Selain wawancara tersebut, pada materi sistem politik saya memberikan tugas untuk mewawancarai tokoh politik. Tokoh politik yang harus diwawancarai tidak harus yang memiliki jabatan tinggi atau terkenal. Minimal tokoh tersebut merupakan pimpinan partai di Dewan Perwakilan Cabang (DPC). Ada cukup banyak tokoh nasional yang diwawancarai oleh anak-anak antara lain Basuki Cahaya Purnama (Wakil Gubernur DKI dan sekarang Gubernur DKI), Aburizal Bakrie (Ketua Umum Golkar), Sidarto Danusubroto (Anggota DPR dari PDIP dan kemudian menjadi Ketua MPR), Lukman Hakim (anggota DPR dari PPP sekarang Menteri Agama), Hamdan Zoelva (Ketua MK). Memang yang memudahkan mereka untuk melakukan wawancara adalah tokoh-tokoh tersebut adalah teman ataupun saudara dari orang tua mereka. Karena yang terpenting bukan tokoh nasionalnya tetapi apa yang mereka dapat dari orang-orang tersebut. Politisi tersebut memberikan pemahaman mengenai bagaimana politik praktis yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di kelas dua dalam materi budaya demokrasi saya memberikan tugas agar para peserta didik mewawancarai beragam elemen masyarakat mengenai pandangan mereka tentang demokrasi. Siapa yang diwawancarai dibebaskan, yang paling penting adalah seteh melakukan wawancara mereka harus membandingkan pemahaman yang dimiliki informan. Misal apakah ada perbedaan pemahaman mengenai demokrasi antara masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dan tingkat pendidikan yang lebih rendah? Nah, di situlah mereka harus berupaya menjelaskan dan menganalisa variabel apa saja yang mempengaruhi pemahaman demokrasi di masyarakat. Penugasan  dengan pendekatan narasumber masyarakat dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah. Yang paling penting adalah mereka dihadapkan langsung dengan masyarakat dan diharapkan mendapatkan pemahaman dan perspektif yang kaya setelah melakukan wawancara tersebut.

4.Pendekatan Cooperative Learning

Pendekatan cooperative learning dimaksudkan untuk mendorong peserta didik untuk bekerja sama dalam sebuah tim sesuai dengan tujuan yang telah disepakati. Sebetulnya dalam diskusi kelompok dan studi kasus pendekatan cooperative learning dapat satu paket digunakan. Dalam pendekatan ini penilaian didasarkan pada hasil pekerjaan tim bukan pekerjaan individual, walaupun nilai individual tetap ada. Kesempatan belajar berkelompok diharapkan selain meningkatkan kemampuan akademik juga meningkatkan kemampuan sosial peserta didik seperti bekerja sama,melakukan negoisasi, berkomunikasi dan bertanggung jawab.

  1. Pendekatan Debat

Pendekatan debat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan argumentasi secara jelas dan logis  agar peserta didik lain dapat menerima argumentasi yang diberikan. Debat yang baik harus dilengkapi dengan data yang valid. Oleh karena itu penting sekali membekali dan memberikan pengarahan kepada para peserta didik agar memahami apa yang akan disampaikan pada saat berargumentasi. Dengan data yang baik maka argumentasi yang disampaikan akan lebih mudah diterima. Dalam pendekatan debat, para peserta didik pun dilatih untuk mengomunikasikan apa yang mereka pahami kepada teman-teman yang lain dengan baik sehingga pesan yang ingin disampaikan benar-benar sampai.

  1. Pendekatan pemungutan suara, wawancara, dan survei

Dalam pendekatan ini peserta didik didorong untuk mengumpulkan data primer dan informasi dari tangan pertama tentang pandangan atau pendapat kelompok masyarakat. Pendekatan ini saya gunakan sekaligus pada pendekatan narasumber masyarakat. Peserta didik dilatih melakukan wawancara dan berusaha mendapatkan data faktual dan setelah itu menganalisis apa yang mereka dapat. Peserta didik dapat mengumpulkan informasi, berkomunikasi, dan menilai data yang didapat dari hasil wawancaranya. Interaksi dengan lingkungan masyarakat pun sangat baik bagi pembentukan cara berpikir mereka.

  1. Pendekatan Pengadilan Tiruan (mock trials)

Merupakan simulasi peradilan yang diperankan oleh para peserta didik. Pendekatan ini cocok dilakukan pada materi sistem hukum. Saya belum pernah menggunakan pendekatan ini. Tapi akan sangat baik jika para peserta didik melakukan simulasi dimulai dari prose penuntutan oleh jaksa, proses pembelaan oleh penasihat hukum, pembuktian, mendengarkan keterangan saksi sampai keputusan hakim. Tujuan pendekatan ini adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan pertanyaan, pengambilan keputusan, berpikir kritis dan keterampilan berkomunikasi. Peserta didik pun secara langsung mendapatkan pengetahuan tentang hukum dan peranan dari masig-masing perangkat peradilan. Jika kesulitan melakukan simulasi, guru dapat menayangkan proses peradilan yang biasa terjadi di pengadilan.

  1. Pendekatan Bermain Peran dan Simulasi

Pendekatan ini berusaha memfasilitasi peserta didik untuk berperan dalam melakukan perbuatan atau perilaku orang lain. Peserta didik dapat mensimulasikan tentang rapat di DPR, proses dengar pendapat, rapat komisi, dan lain-lain. Saya belum pernah melakukan pendekatan ini, tapi menarik untuk dicoba.

  1. Pendekatan Menulis Surat kepada Pejabat Publik

Saya tidak pernah melakukan pendekatan ini, tetapi di era keterbukaan sekarang ini, peserta didik dapat diajak berpartisipasi menyampaikan aspirasi melalui media sosial. Misal peserta didik diminta untuk menyampaikan pendapatnya di page facebook pejabat publik ataupun menulis di twiternya. Tentu akan menarik apakah yang mereka tulis akan direspon oleh pejabat tersebut atau tidak. Tapi yang terpenting mereka harus diajarkan bagaimana menyampaikan aspirasi dengan kata-kata yang baik dan jelas.

 Maka, silahkan para guru menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan. Jika pendekatan-pendekatan tersebut dioptimalkan dengan baik maka tidaklah mustahil para peserta didik akan menjadi warga negara yang baik dan cerdas (good and smart citizens), partisipatif (participative citizen) dan bertanggung jawab (responsible citizen).

 Rawamangun, 27 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s