Uncategorized

Belajar dari Pak Gunawan Wiradi

IMG_20150307_100005[1]Dr. Hc. Ir. Gunawan Wiradi, M.Sc.

Jumat, 6 Mei 2015 kemarin saya mengikuti kegiatan seminar Research Design (RD) mengenai Pemuda dan Pertanian dalam Keberlanjutan Ketahanan Pangan. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh salah satu tim di cluster ketenagakerjaan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI. Dua orang yang hadir sebagai pembahas adalah Dr. Hc. Ir. Gunawan Wiradi, M.Sc. dan Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto. Bapak Gunawan Wiradi merupakan seorang yang sangat peduli dengan masalah agraria di Indonesia. Sedangkan Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto adalah Ekonom yang merupakan pakar demografi dan kependudukan yang punya perhatian pada bidang ekonomi kesehatan, pemberantasan kemiskinan, dan pemberdayaan sumber daya manusia.

Bertemu dengan tokoh yang punya kepakaran yang mumpuni tentu sangat menyenangkan. Mengapa menyenangkan? Karena saya secara langsung dapat menyerap ilmu yang disampaikan secara langsung. Kedua tokoh tersebut memiliki segudang pengalaman dan prestasinya di masing-masing bidang. Bagi saya keduanya sangat menginspirasi. Dalam tulisan ini saya akan lebih memfokuskan pada Pak Gunawan Wiradi.

Saat ini Pak Gunawan berusia 83 tahun. Walaupun sudah sepuh, ingatan beliau masih baik, semangatnya luar biasa, dan idealismenya masih terjaga. Jika teman-teman mencari di google nama beliau maka akan muncul banyak cerita tentang bagaimana beliau di usianya yang tak lagi muda tetap konsisten memperjuangkan reforma agraria. Ya, bidang agraria merupakan bidang yang beliau tekuni dan seriusi selama puluhan tahun. Beliau adalah orang yang sangat dekat dengan Prof. Dr. Sajogyo ahli Sosiologi Pedesaan dari IPB. Bahkan dalam tulisannya di sini mengenai Prof. Dr. Sajogyo, ia mengatakan bahwa Prof. Dr. Sajogyo sebagai sahabat, murid, dan bapak. Jika teman-teman mencari di google maka akan ditemukan beberapa berita tentang aktifitas dan track record beliau dalam memperjuangkan reforma agraria.

Pak Gunawan WiradiPak Gunawan di Google

Jika teman-teman membuka situs goodreads.com maka akan muncul beberapa karya beliau di bidang agraria baik sebagai penulis, editor, maupun mengantar tulisan. Karya-karyanya menunjukan bahwa beliau adalah akademisi yang produktif. Selain akademisi yang produktif beliau juga sangat aktif turun ke bawah dan berdiskusi dengan berbagai kalangan. Sering kali ia diminta untuk menjabarkan masalah-masalah agraria yang ada di Indonesia.

karya pak gunawanBuku Pak Gunawan

Pertemuan Jumat lalu adalah pertemuan pertama saya dengan beliau. Sebagai pembahas beliau diminta untuk memberikan masukan dan kritik mengenai rencana riset desain yang akan dilakukan oleh tim di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI. Di awal, ia mengatan bahwa ia mohon maaf jika ilmu yang disampaikannya tidak update sesuai perkembangan jaman. Akan tetapi ketika ia mulai menyampaikan masukannya tak ada satupun yang tidak terupdate. Selain serius dan kritis, beliau juga sangat hobi guyon. Sesekali ia menyampaikan guyonan-guyonan yang membuat semua yang hadir tertawa lepas. Saya melihat bagaimana ia menuliskan masukan untuk bahan RD yang sudah dikirim oleh tim lebih awal. Ia juga memohon maaf jika ia tidak mengetik masukan untuk tim, tetapi menulis dengan tulisan tangannya. Dan jika teman-teman lihat, tulisan tangannya sangat rapi dan bahasanya sistematis. Sangat luar biasa sekali. Generasi sekarang yang terbiasa mengetik dan jarang menulis pasti kesulitan jika harus menulis seperti tulisan Pak Gunawan. Ia mengatakan zaman selalu berubah, tetapi satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan.

IMG_20150306_221739[1] Tulisan Pak Gunawan

Dalam konteks Knowledge Management terdapat yang disebut Explicit Knowledge dan Tacit Knowledge. Merujuk pada Polanyi (1962) dan Tsoukas (2003) dalam Kazuo Ichijo & Ikujiro Nonaka (2007) pada bukunya Knowledge Creation and Management New Challenges for Managers keduanya didefinisikan sebagai: “Explicit knowledge is knowledge that can be codified, for example, in a manual, a patent, a description, or a set of instructions. It is sometimes called ‘‘know what.’’ Tacit knowledge is the contextually based, interdependent, and noncodified knowledge that must be built in its own context. Tacit knowledge, or ‘‘know how,’’ puts explicit knowledge to Work”. Jika explicit knowledge diartikan sebagai pengetahuan yang dapat dikodifikasi, memiliki manual, paten, dideskripsikan, ataupun dapat berbentuk instruksi-instruksi, maka tacit knowledge lebih kontekstual, interdependen, tidak dikodifikasikan dan harus dikonstruksi berdasarkan konteks tersendiri. Jadi tacit knowledge sebagai sesuatu yang seringkali terdiri dari kebiasaan-kebiasaan dan seringkali dipindahkan dari satu orang ke orang lain melalui penyampaian pengalaman karena menyatu dengan pengalaman orang tertentu. Berbeda dengan explicit knowledge yang dapat diakses, telah didokumentasikan dalam sumber pengetahuan formal yang telah diorganisasi dengan baik. Maka ketika saya mendapatkan cerita dari beliau mengenai apa saja yang sudah dilakukan olehnya dalam perjuangan reforma agraria hal tersebut merupakan tacit knowledge karena ada sharing value di situ.Pengalaman-pengalamannya selama ia berjuang disampaikan dengan runut dan sistematis. Bagaimana dedikasinya terhadap reforma agraria sudah teruji zaman dan tak perlu diragukan lagi. Apalagi ia adalah saksi sejarah dalam beragam perubahan zaman. Di usianya yang sudah lanjut ia tetap memperjuangkan apa yang diyakininya. Penguasaannya terhadap masalah agraria sangat luar biasa. Saya sebagai anak muda merasa malu karena apa yang saya lakukan masih jauh dari apa yang beliau lakukan. Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan dan lebih banyak orang yang mendapatkan inspirasi dari beliau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s