Diskursus Kekuasaan dan Reproduksi Pengetahuan Sosiologi

sosiologi-indonesia

Judul : Sosiologi Indonesia, Diskursus Kekuasaan dan Reproduksi Pengetahuan

Penulis : Hamzah Fansuri

Penerbit : LP3ES Jakarta

Terbit : 2015

Tebal : xviii + 210 halaman

ISBN : 078-602-7984-10-3

Karya ini merupakan tesis  Program Pascasarjana Sosiologi di UGM yang dibukukan untuk menggambarkan diskursus kekuasaan dan reproduksi pengetahuan dalam konteks perkembangan sosiologi Indonesia.   Guru Besar Masyarakat dan Politik Asia di Murdoch University Australia, Vedi R Hadiz mengatakan,  karya  ini  sebagai upaya baru  menelaah perkembangan ilmu sosial  (hlm xi).

Buku  mencoba menelusuri perkembangan ilmu sosial  (sosiologi) dari masa kolonial sampai Orde Baru ditinjau dari konteks sosial kesejarahan  meliputi aspek ekonomi, politik, dan pengaruh dominasi keilmuan Amerika Serikat pasca-Perang Dunia II. Ini  bermaksud mengidentifikasi peta perkembangan sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu sosial dikaitkan  realitas sosial, ekonomi, dan politik  Indonesia (hlm 7).

Buku  menggunakan terminologi genealogi dan kekuasaan dari Michel Foucault, sosiolog  Prancis. Genealogi  Foucault mau  memperhatikan dinamika, proses transformasi, dan diskontinuitas  tiap perkembangan historis Sosiologi Indonesia. Fokusnya  pada diskursus kerakyatan  Sosiologi UGM sebagai pintu masuk pelacakan (hlm 10).

Individu yang mewacanakan (discourse)  sosiologi baik secara keilmuan maupun praksis. Maka tidak menutup kemungkinan  bahwa Sosiolog mengendalikan pengetahuan seperti yang dikatakan Foucault pada hubungan kekuasaan dan pengetahuan (hlm 12),  tak terpisahkan dari kekuasaan memberi wawasan bagi studi ini. Kerja intelektual  sosiolog bisa jadi tidak semata-mata demi  keilmuan atau reproduksi pengetahuan, tetapi juga untuk  kepentingan kekuasaan (hlm 13).

Referensi lain, buku  Hanneman Samuel mengenai Genealogi Kekuasaan Ilmu Sosial di Indonesia: Dari Kolonialisme hingga Modernisme Amerika. Kemudian  karya  Daniel Dhakidae mengenai Cendikiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru dan banyak lagi.

Studi  menggunakan metode analisisi wacana kritis atau critical discourse analysis (CDA)  berdasarkan  hubungan dengan penyalahgunaan kekuasaan,  ketidakadilan, dan dominasi  dalam teks, tuturan, atau gambar dalam konteks sosial  politik. CDA dikenalkan  Norman Fairlough yang menempatkan praktik pewacanaan sebagai pilar utama  memproduksi pengetahuan melalui sebuah teks (hlm 19).

Diskursus ilmu sosial Indonesia disajikan dalam makna kekuasaan atau reproduksi pengetahuan terkait dengan konteks kolonialisme dan bagaimana konteks ilmuwan pribumi dalam semangat kebangsaan. Digambarkan  juga  diskursus pembanguan  Orde Baru dengan pengembangan teori-teori modernisasi serta  paradigma kritis di kalangan ilmu sosial. Fokusnya,  menjelang  Orde Baru tumbang (hlm 30).

Di era kolonial, sosiologi sudah menjadi bagian  kuliah  hukum.  Pada Orde Baru seperti  ilmu-ilmu sosial lain memiliki kecenderungan pada teori fungsionalisme Talcot Parsons (hlm 77). Perkembangan diskursus  kerakyatan   merupakan upaya kritis  pembangunanisme  Orde Baru (hlm 133).

Perkembangan historis Sosiologi Indonesia telah menunjukan diskontinuitas sejak era kolonial hingga saat ini. Bahwa beragam pemikiran yang ada pada masa lalu tidak serta merta memberi pengaruh pada beragam pemikiran yang ada saat ini (hlm 194). Perkembangan Sosiologi Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana kekuasaan bekerja dalam memproduksi wacana melalui hubungan antara praktik-praktik diskursif yang berlangsung di masyarakat atau pada suatu lembaga (hlm 197).

Buku  terdiri dari empat bab dibuka dengan Pendahuluan, Ilmu Sosial Indonesia: Telaah Historis. Kemudian Sosiologi Indonesia: Orde Baru, Pasca Orde Baru, dan Globalisasi.  Diskursus Kerakyatan dalam Sosiologi Indonesia dan ditutup dengan kesimpulan.

Diresensi  Anggi Afriansyah, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan, LIPI. Dimuat di Perada Koran Jakarta, Senin, 11 Mei 2015.

Berikut  versi yang belum diedit oleh redaksi:

Mendiskusikan Sosiologi Indonesia

 Judul Buku      : Sosiologi Indonesia, Diskursus Kekuasaan dan Reproduksi Pengetahuan

Penulis             : Hamzah Fansuri

Penerbit           : LP3ES Jakarta

Terbit               : 2015

Halaman          : Tebal: xviii + 210 halaman

ISBN               : 078-602-7984-10-3

Buku karya Hamzah Fansuri ini merupakan hasil penelitian Tesis pada Program Pascasarjana Sosiologi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Buku ini sangat menarik karena berusaha melihat bagaimana terjadinya diskursus kekuasaan dan reproduksi pengetahuan dalam konteks perkembangan Sosiologi Indonesia.  Seperti yang diungkapkan oleh Vedi R. Hadiz, Guru Besar Masyarakat dan Politik Asia di Murdoch University Australia dalam pengantarnya, karya dari Hamzah Fansuri ini perlu disambut sebagai upaya baru untuk menelaah perkembangan ilmu sosial khususnya dalam bidang Sosiologi (hlm xi).

Penulis mencoba menelusuri perkembangan ilmu sosial khususnya Sosiologi Indonesia dari masa kolonial sampai Orde Baru ditinjau dari konteks sosial kesejarahan yang meliputi aspek ekonomi, politik, dan pengaruh dominasi keilmuan Amerika Serikat pasca Perang Dunia II. Penulis menjelaskan bahwa melalui penelitian ini ia bermaksud mengidentifikasi peta perkembangan sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu sosial dalam kaitannya dengan realitas sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia (hlm 7).

Penulis menggunakan terminologi genealogi dan kekuasaan dari Michel Foucault, sosiolog asal Perancis. Genealogi tidak bermaksud untuk kembali ke masa lalu dan juga tidak menyorot cerita kebesaran dari tokoh-tokoh sosiologi di masa lalu. Konsep genealogi dari Foucault berfungsi untuk memperhatikan dinamika, proses transformasi, dan diskontinuitas di tiap perkembangan historis Sosiologi Indonesia dengan memfokuskan pada diskursus kerakyatan (discourse of populism) di Sosiologi UGM sebagai pintu masuk pelacakannya (hlm 10). Sosiolog dalam studi ini adalah individu yang menguasai wacana (discourse) seputar sosiologi baik secara keilmuan maupun praksis. Maka tidak menutup kemungkinan  bahwa Sosiolog mengendalikan pengetahuan seperti yang dikatakan Foucault pada hubungan kekuasaan dan pengetahuan (hlm 12). Pengetahuan sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dari kekuasaan memberi wawasan bagi studi ini. Kerja intelektual dari para sosiolog bisa jadi tidak semata-mata berorientasi pada keilmuan atau reproduksi pengetahuan, tetapi juga demi kepentingan kekuasaan (hlm 13).

Studi sebelumnya yang juga menjadi rujukan dari penulis adalah buku dari Hanneman Samuel mengenai Genealogi Kekuasaan Ilmu Sosial di Indonesia: Dari Kolonialisme hingga Modernisme Amerika, buku Daniel Dhakidae mengenai Cendikiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, Buku Vedi R. Hadiz dan Daniel Dhakidae (ed) mengenai Social Science and Power in Indonesia, tulisan PM Laksono mengenai kinerja asosiasi ilmu-ilmu sosial di Indonesia, Buku Munawar Ahmad Mengeni Ijtihad Politik Gusdur: Analisis Wacana Kritis (hlm 15). Buku ini menawarkan apa yang belum dikaji oleh studi-studi sebelumnya yaitu bagaimana peran dan posisi dari para sosiolog serta kajian spesifik tentang sosiologi dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan (sociology of sociology) dan sepak terjang sosiolog (sociology of sociologist) di Perguruan Tinggi. Fokus studi ini adalah perkembangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan dan sosiologi dalam makna sosiolog-sosiolog di UGM (hlm 16).

Studi ini menggunakan metode analisa wacana kritis atau critical discourse analysis (CDA) dengan didasarkan pada wacana dalam hubungannya dengan kekuasaan yang disalahgunakan, serta ketidakadilan dan dominasi yang terdapat di dalam teks, tuturan atau gambar dalam konteks sosial dan politik. CDA dikenalkan oleh Norman Fairlough yang menempatkan praktik pewacanaan sebagai pilar utama dalam memproduksi pengetahuan melalui sebuah teks (hlm 19).

Secara menarik penulis menyajikan diskursus ilmu sosial Indonesia dalam makna kekuasaan atau reproduksi pengetahuan terkait dengan konteks kolonialisme dan bagaimana konteks ilmuan pribumi dalam semangat kebangsaan. Penulis juga menggambarkan secara rinci bagaimana diskursus pembanguan era Orde Baru dengan pengembangan teori-teori modernisasi serta perkembangan paradigma kritis di kalangan ilmu sosial Indonesia khususnya menjelangan berakhirnya kekuasaan Orde Baru (hlm 30). Sosiologi sudah menjadi bagian dari perkuliahan ilmu hukum di era kolonial. Sosiologi Indonesia pada era Orde baru seperti halnya ilmu-ilmu sosial lain memiliki kecenderungan pada teori fungsionalisme Talcot Parsons (hlm 77). Menurut penulis diskursus (discourse) kerakyatan (populist) berkembang di sosiologi UGM merupakan upaya kritik atas ideologi pembangunanisme semasa Orde Baru (hlm 133).

Perkembangan historis Sosiologi Indonesia telah menunjukan diskontinuitas sejak era kolonial hingga saat ini. Bahwa beragam pemikiran yang ada pada masa lalu tidak serta merta memberi pengaruh pada beragam pemikiran yang ada saat ini (hlm 194). Perkembangan Sosiologi Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana kekuasaan bekerja dalam memproduksi wacana melalui hubungan antara praktik-praktik diskursif yang berlangsung di masyarakat atau pada suatu lembaga (hlm 197).

Buku ini terdiri dari empat bab dimulai dari Pendahuluan; Ilmu Sosial Indonesia: Telaah Historis; Sosiologi Indonesia: Orde Baru, Pasca Orde Baru, dan Globalisasi; Diskursus Kerakyatan dalam Sosiologi Indonesia; dan ditutup dengan kesimpulan. Buku Hamzah Fansuri menjadi sangat penting karena berusaha membuka kembali peluang bagi perdebatan dan diskusi mengenai Sosiologi Indonesia. Penelusuran mendalam penulis mengenai bagaimana  diskursus kekuasaan dan reproduksi pengetahuan dalam Sosiologi Indonesia perlu mendapat apresiasi. Diskusi mendalam mengenai topik ini tentu akan menjadi semakin menarik. Mahasiswa, akademisi, peneliti, maupun pemerhati ilmu-ilmu sosial perlu membaca buku ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s