Politik dan Kebangsaan

Merdeka 

70 tahun sudah Indonesia merdeka. Jika puluhan tahun yang lalu, para pejuang bangsa ini berjuang dengan mengeluarkan segala daya upaya baik fisik, pikiran, maupun materi, maka tantangan perjuangan saat ini tentulah berbeda. Founding fathers dan mothers republik ini adalah orang-orang hebat yang berjuang dengan sepenuh hati. Cita-citanya adalah agar negeri ini menjadi negeri yang merdeka, tak dijajah lagi. Agar rakyat yang ada di nusantara ini dapat berdiri di atas kakinya sendiri, menentukan secara mandiri ke mana arah bangsa ini.

Mereka terdiri dari berbagai etnisitas, suku bangsa, agama, kelompok kepentingan, dan latar belakangan lainnya, tapi cita-citanya sama, Indonesia merdeka. Tak jarang mereka adalah kalangan para priyayi yang sebetulnya bisa memilih tak berjuang dan asik berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda dengan gaji dan kesejahteraan yang cukup. Orang-orang yang dapat mengenyam pendidikan tinggi baik di dalam maupun luar negeri, tapi memilih berjuang bagi rakyat yang dicintainya. Mereka rela diasingkan demi kemerdekaan bangsa ini. Soekarno, Hatta, Syahrir, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka dan sederet tokoh lainnya adalah tokoh-tokoh yang secara pendidikan luar biasa dan berasal dari keluarga terpandang. Kecerdasan mereka digunakan untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Dipenjara, diburu, dan dibuang ke pulau-pulau terpencil bahkan ke luar negeri bukan hal yang menakutkan bagi mereka. Perlakuan tidak adil dari penjajah tak menyurutkan langkah mereka untuk tetap tegar berjuang.

Cinta kepada bangsalah yang membuat seseorang rela berjuang mengorbankan apa yang dimilikinya. Mencintai bangsa ini memang bukan sesuatu yang mudah. Pada masa perjuangan tokoh-tokoh bangsa rela mengorbankan segalanya demi bangsa ini. Saat ini apa yang bisa kita lakukan? Sebetulnya banyak yang bisa dilakukan di era saat ini. Paling sederhana adalah berusaha sebaik mungkin di bidang yang kita kerjakan. Jika menjadi penulis maka tulislah sesuatu yang bermanfaat bagi sesama, menginspirasi, dan memberi pencerahan. Jika jadi guru maka berusahalah untuk menjadi guru yang tidak hanya memberikan pengajaran, transfer knowledge saja, tetapi jadi guru yang memberi ruang diskursus, memberi pencerahaan dan pencerdasan. Jika menjadi aparatur negara berusahalah melayani publik dengan baik, mereka harus menyadari bahwa gaji yang mereka terima berasal dari uang rakyat. Demikian pula dengan profesi lainnya. Jika menjadi tokoh agama, maka sebisa mungkin menjadi contoh bagi umat yang dibimbingnya. Demikian dengan beragam profesi lainnya. 

Indonesia memiliki potensi untuk maju jika kita bersatu. Bukan persatuan semu, tapi betul-betul bersatu. Perbedaan-perbedaan yang ada harus disadari sebagai sesuatu yang memang taken for granted. Perbedaan adalah anugerah yang harus disyukuri bukan diratapi. Beragamnya Indonesia harus menjadi kekuatan bukan justru melemahkan. Sayangnya ada saja pihak-pihak yang tidak senang dengan bersatunya bangsa ini. Kita harus kembali membuka ulang sejarah bangsa ini, bahwa bangsa ini berhasil merdeka karena bersatu, kesadaran untuk memperoleh kemerdekaan sebagai cita-cita bersama. Indonesia terlalu berharga untuk bercerai berai. Kita bersama tentu menginginkan negeri yang kita cintai bersama menjadi negara yang memberikan kemakmuran sebanyak-banyaknya bagi rakyatnya. Dirgahyu Indonesia. Merdeka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s