Tiga Belas, Sebuah Refleksi Singkat

13 bagi saya bukanlah angka keramat. 13 adalah momen penentuan. 13 Januari 2015, satu tahun yang lalu saya mengakhiri masa petualangan sebagai seseorang yang mudah berpindah pekerjaan. Karena biasanya saya hanya bertahan sebentar di tempat saya bekerja. Paling lama ketika mengajar di Al Izhar, 2 tahun. 13 Januari, satu tahun yang lalu saya dinyatakan lulus seleksi penerimaan CPNS di Lembaga  Ilmu Pengetahuan Indonesia. Momen istimewa di tengah kehamilan istri saya. Saat itu usia kandungannya 6 bulan.

Nekat. Satu kata yang disematkan oleh beberapa teman ketika saya memutuskan untuk resign dari SMAI Al Izhar. Setelah menyelesaikan studi S2 saya mulai mempertanyakan, apakah selamanya saya akan mengajar dan mengabdi di Al Izhar. Setelah berdialog dengan istri akhirnya saya memutuskan untuk resign. Resign tanpa tahu akan berlabuh di mana merupakan salah satu keputusan paling berani dalam hidup saya. Tak salah teman-teman menyatakan keputusan saya terlalu berani. Satu hal yang pasti, saya hanya khawatir terjebak di zona nyaman.

Jujur saya tak tahu akan ke mana setelah resign dari Al Izhar. Yang saya tahu, keinginan saya mengajar di universitas ketika itu masih kuat. Mulailah saya menyiapkan beberapa aplikasi lamaran untuk ditujukan ke beberapa kampus swasta di Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Juga mulai menjalin hubungan dengan teman-teman di kampus dan kembali mengontak mereka apakah ada peluang untuk mengajar. Dalam rentang waktu tersebut saya ditawari salah satu teman terbaik saya, Satriwan (semoga Allah selalu memberkahi) untuk mengajar di UNJ. Di awal pembicaraan dia bilang, honornya tidak terlalu membahagiakan (baca: kecil). Dia meminta saya menemui Pak Rahman, Kepala MKU UNJ ketika itu. Setelah bertemu dengan beliau saya tinggal menunggu jadwal perkuliahan yang akan diselenggarakan September.  September artinya saya masih harus menunggu kurang lebih dua bulan lagi (baca: menganggur).

Saya membayangkan dua bulan tanpa pekerjaan tetap, menyenangkan sekaligus menakutkan. Menyenangkan karena saya tak harus mengikuti rutinitas kaku harian selama beberapa tahun ini. Menakutkan karena saya sudah punya istri, dan saya harus berkontribusi menghidupi kehidupannya. Tapi jika niatannya  untuk kebaikan tentu selalu ada jalan. Rezeki yang dianugerahkan kepada saya tak selalu pas jika menggunakan kacamata matematis. Selalu ada saja rezeki “min haisu laa yahtasib”, dari sudut yang tidak disangka-sangka. Walaupun tabungan menipis, selalu ada amplop yang mampir ataupun kiriman transferan untuk menghidupi kehidupan harian, cek kehamilan istri, membeli buku dan lainnya.  Allah Mahabaik.

Tapi hidup harus tetap dihadapi dengan berani. Ternyata resign membuka saya ke pintu yang tak pernah saya sangka-sangka. Beberapa saat setelah resign saya ditawai oleh Pak Tjipto, dosen saya di UNJ untuk terlibat dua penelitian di Kemendikbud. Juga ia menawari saya menjadi salah satu stafnya di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Ketika itu, saya  masih ragu-ragu untuk ikut bergabung di UIK, apalagi harus bekerja setiap hari yang artinya berhadapan kembali dengan rutinitas. Ikut penelitian mengenai pusat kebudayaan asing yang ada di Indonesia kembali membuat saya berkesempatan mengunjungi tiga daerah, Bali, Bandung, dan Yogyakarta. Akhirnya di bulan-bulan kosong mengajar, saya terlibat penelitian tersebut. Tawaran untuk menjadi staf UIK pun perlahan mulai terlupakan. Hingga pada momen liburan lebaran, di tengah perjalan saya di telepon Pak Tjip (semoga Allah selalu memberkahi) untuk segera bergabung di UIK, yang pada akhirnya saya iyakan. Dan selama beberapa bulan saya aktif di UIK sebagai pengelola klinik pembelajaran mengenai Kurikulum 2013. Saya beruntung memiliki kesempatan untuk tetap mengajar di beberapa kampus UNJ, STKIP Kusuma Negara, dan Universitas Terbuka. Selain itu ada kesempatan untuk mendaftar CPNS. Mulailah saya mencari formasi yang sesuai dengan Ijazah yang saya miliki.

Menjadi dosen adalah salah satu harapan saya ketika itu. Tapi selalu saja terbentur dengan Ijazah S1 dan S2 saya yang yang tak linear. Ijazah S1 saya Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan dan Ijazah S2 saya Sosiologi. Sulit rasanya untuk menjadi dosen, baik di jurusan Program Studi PPKn maupun Sosiologi. Untuk hal ini saya banyak berdiskusi dengan dosen saya Pak Rakhmat. Setelah berdiskusi panjang di WA juga mendiskusikan dengan istri saya memutuskan untuk memilih LIPI yang menyediakan formasi Peneliti Sosiologi Pendidikan. Jujur, pengalaman penelitian yang minim, tulisan yang sangat jauh dari bagus sempat membuat saya ragu. Sanggupkah saya menjadi peneliti yang baik? Tapi dilandasi semangat untuk kehidupan yang lebih baik, tabungan yang semakin menipis, istri yang sedang hamil saya memutuskan melamar formasi tersebut. Di tengah ketidakpastian saya mengikuti setiap tahapan tes. Sembari berharap hasil yang terbaik.

Dan di tengah ketidakpastian jadwal pengumuman tahap akhir saya menikmati hari-hari saya sebagai freelancer. Setiap pagi dan sore mengantar istri. Jika bosan main-main ke Gramedia untuk sekedar membaca buku-buku. Ke kampus hanya pada saat jam mengajar memang sangat menyenangkan. Yang tidak menyenangkan tabungan yang kian menipis. Perlu lebih banyak strategi bertahan hidup agar bisa terus menghidupi kehidupan.

Akhirnya setelah menunggu, tanggal tiga belas januari 2015, saya ingat sekali, pada moment adzan Ashar sehabis pulang dari UNJ. Ketika membuka SIPC LIPI, alhamdulillah saya diterima sebagai peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan. Di tempat ini saya bertemu dengan orang-orang yang berdedikasi pada dunia penelitian. Saya banyak belajar tentang pekerjaan, tentang hubungan kemanusiaan, tentang hidup dari beragam individu yang saya temui. Walaupun baru satu tahun di sini, beragam dinamika sudah saya hadapi, susah dan senang. Yang penting tetap bahagia. Anak terkasih saya Muhammad Rajendra Nusantara lahir juga di tahun yang sama ketika Bapaknya diterima di LIPI. Dan dia (sepertinya) mengerti, lahir setelah menunggu Bapaknya yang kembali pulang setelah berkejaran dengan jadwal pesawat dari Batam dengan harap-harap cemas. Menunggu kehadiran Bapaknya untuk saling menatap dan mengeluarkan tangisan pertamanya yang luar biasa syahdu. Setelah menunggu tiga tahun, seorang  lelaki kecil kebanggaan lahir ke dunia.

Memang tak semuanya senang, tapi tak semuanya juga menyedihkan. Saya bertemu sahabat-sahabat CPNS satu angkatan baik dari satu satuan kerja (Mas Puguh dan Mba Lengga yang luar biasa) juga sahabat kedeputian IPSK (yang masih sangat muda, muda, setengah muda, agak muda, setengah senior, dan senior) dengan beragam latar belakang keilmuan dan pengalaman kerja yang luar biasa cerdas dan baik hati serta memiliki karya yang sudah diterbitkan di berbagai media (sedangkan saya masih jauh dari produktif dan harus berusaha keras). Mereka adalah masa depan LIPI. Saya Juga bertemu dengan teman-teman LIPI di momen prajabatan (terutama di Kelas B) yang luar biasa atraktif, pintar, tapi tak pernah melupakan humor. Juga bertemu dengan para peneliti senior yang memberikan pembelajaran dengan caranya yang berbeda-beda. Perjalanan panjang masih harus ditempuh. Karena semua ini bukanlah akhir, tapi sebuah awal. Semoga saya awet dan mampu berkontribusi di sini.

Gatot Subroto, 13 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s