pendidikan, Sosiologi

Konstruksi Keberagaman Kita

Manusia menafikan Tuhan
Melarang atas perbedaan
Persepsi dibelenggu tradisi
Riwayat keruh pun bersemi
(Kuning, Efek Rumah Kaca)

Lirik lagu yang dinyanyikan oleh grup band Efek Rumah Kaca tersebut rasanya pas untuk menggambarkan kondisi beberapa waktu belakangan ini. Kekerasan yang muncul atas nama perbedaan.

Peristiwa pengeboman yang terjadi Kamis (14/1) di dekat Sarinah berhasil ditangani dengan sangat baik oleh aparat keamanan. Apresiasi patut disampaikan kepada warga Jakarta yang tetap tenang dan waspada.

Peristiwa tersebut memang tak lepas dari konteks internasional. Klaim ISIS sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap peristiwa tersebut segera tersebar secara viral di media sosial. Meski, belum jelas pihak mana yang berada di belakangan peristiwa ini. Polisi masih terus mengejar para pelaku yang diduga bertanggung jawab.

Beragam pihak mengutuk peristiwa tersebut. Hashtag #kamitidaktakut berseliweran di media sosial. Beberapa warga berinisiatif untuk mengadakan kegiatan di lokasi terjadinya bom untuk mengumumkan bahwa warga tak takut akan ancamana terorisme.

Tak ketinggalan, Minggu (17/1) tokoh lintas agama melakukan deklarasi bersama melalui Apel Kebhinekaan Lintas Iman Bela Negara di Lapangan Banteng menyatakan komitmen untuk menjaga kebersamaan bangsa dan membendung radikalisme, terorisme, dan penyalahgunaan narkoba.

Terorisme adalah musuh segala bangsa. Atas nama apa pun pembunuhan tak boleh dilakukan. Agama apapun melarang hal tersebut. Kekerasan atas nama agama sampai saat ini memang tetap terus terjadi baik dalam skala kecil maupun skala yang besar.

Ada yang salah dalam konstruksi keberagaman kita, bangsa yang yang menyatakan sebagai Bhineka Tunggal Ika. Dan, dunia pendidikan merupakan salah satu ruang strategis dalam membangun konstruksi keberagaman di Indonesia.

Konstruksi Pemahaman Keberagaman di Sekolah
Narasi bahwa Indonesia adalah bangsa yang beragam baik dari agama, sosial budaya, maupun kelas sosial tentu sudah diperkenalkan kepada para siswa sejak di bangku sekolah. Mereka mendapatkan pemahaman tersebut baik melalui pembelajaran di kelas maupun aktivitas harian yang dirancang oleh sekolah.

Secara spesifik para peserta didik mendapatkan pemahaman keberagaman dari pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang didapatkannya dari sejak kelas 1 SD, juga melalui pelajaran lain seperti ilmu pengetahuan sosial. Pada pelajaran agama Islam juga dijelaskan dalam Ayat Al Quran yang bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, lita’arafu.

Narasi keberagaman dan jiwa nasionalisme juga diperkenalkan melalui beragam aktivitas di sekolah seperti kegiatan ekstrakurikuler pramuka, paskibra maupun kegiatan sekolah lainnya. Peserta didik dikenalkan kepada kehidupan sosial masyarakat di sekitar sekolah, kehidupan yang beragam.

Melalui pengenalan beragama pengetahuan kepada peserta didik dibangun konstruksi pengetahuan secara individu dan kesadaran bahwa mereka tinggal di negara yang memiliki keberagaman baik dari agama, sosial budaya, maupun kelas sosial.

Hidup berdampingan dengan yang masyarakat yang berbeda harus dikonstruksikan pada ruang kesadaran tiap peserta didik. Kesadaran bahwa mereka sesungguhnya berbeda tapi tidak untuk dibeda-bedakan harus mampu dikonstruksikan di sekolah.

Seperti yang diungkapkan Banks (2006) bahwa tujuan utama menyampaikan berbagai jenis pengetahuan adalah membantu peserta didik memahami proses konstruk pengetahuan. Yakni, pengetahuan  yang  mencerminkan  konteks sosial di mana peserta didik berasal.

Kesadaran di mana mereka berada menjadi penting agar para peserta didik mampu terus menjaga keharmonisan kehidupan. Merawat keberagaman berarti memelihara kehidupan keindonesiaan.

Sekolah sesungguhnya memiliki peran strategis yang sayangnya belum dioptimalkan dengan baik. Melalui sekolah sesungguhnya mitos-mitos, stereotip, stigma, prasangka dapat dibongkar. Dialog-dialog harus diperkuat.

Peserta didik harus dikenalkan kepada keragaman budaya, kondisi sosial budaya Indonesia. Agar mereka tidak terbelenggu pada nilai-nilai yang belum tentu kebenarannya. Agar mereka terbiasa pada perbedaan. Mencoba mengikis sejarah kelam kekerasan yang diakibatkan oleh perbedaan.

Namun seringkali konstruksi keberagaman tersebut tidak berjalan optimal di sekolah. Proses pendidikan menjadi sesuatu yang menakutkan bagi peserta didik. Mereka yang harunya menikmati setiap proses pendidikan memiliki beban tugas yang tidak ringan.

Peserta didik dibebani oleh banyak tugas harian yang berat maupun target nilai yang harus diselesaikan bukan dibangun jiwa dan raganya. Bukan dibangun kesadarannya sebagai manusia Indonesia yang beragam yang memahami kondisi sosial budayanya.

Doktrin-doktrin kekerasan tentu tidak akan masuk ke alam pikiran peserta didik jika fundamen penghargaan terhadap keberagaman sudah mengakar, tertancap dengan kuat di batin sanubari mereka.

Lembaga pendidikan baik milik pemerintah maupun swasta harus mampu memberikan pemahaman kepada para peserta didik bahwa penggunakan kekerasan fisik terhadap pihak yang bersebrangan pandangan  adalah hal yang tidak benar dari sudut pandang apapun.

Di era yang serbadigital di mana proses penyebaran pengetahuan tersebar dengan sangat cepat dan efisien tentu tugas dunia pendidikan semakin berat. Ideologi apapun secara mudah masuk ke gagdet yang dimiliki oleh para peserta didik.

Pengawasan pun menjadi tidak gampang dilakukan. Yang dapat dilakukan sekolah adalah konsistensi konstruksi pemahaman keberagaman kepada peserta didik.

Selain sekolah tentu saja pengawasan orang tua dalam hal ini memegang peran dominan. Sebab, di usia yang sangat muda, mereka sangat mudah dipengaruhi, dibujuk dan dikendalikan.

Orang tua harus menjadi partner diskusi yang asik dalam setiap tema agar mereka tidak mudah terjerumus ke dalam hal-hal negatif. Pendampingan orang tua menjadi sangat penting.

Indonesia bukan negara milik satu kelompok saja. Indonesia yang kita cintai dibangun oleh para founding fathers dan mothers di atas pengorbanan seluruh pihak. Bangunan tubuh yang harus terus kita jaga, kita pertahankan sampai kapan pun.

Anggi Afriansyah, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI
Dimuat di Jawa Pos, Selasa, 19 Januari 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s