Hidup dengan Kebencian

Tanpa sadar seringkali kita hidup dengan kebencian-kebencian yang mengakar pada hati maupun pikiran. Benci ketika orang lain lebih sukses. Benci ketika orang lain hidup lebih bahagia. Atau bahkan benci ketika segala sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan semua harapan dan cita-cita. Yang namanya kebencian hanya membuat hidup menjadi tidak menarik. Karena kita hanya menilai hidup dengan sudut pandang negatif.

Bisa juga kita membenci sesuatu pada diri orang lain yang sesungguhnya sudah tidak ada. Sifat buruk orang lain misalnya. Kita benci kepada mereka yang malas, menunda janji, berkata bohong dll. Ketika orang tersebut sudah berubah, kebencian tersebut masih tetap tertancam dan dijadikan patokan. Kita masih mencap perilaku yang sesungguhnya sudah ditinggalkan orang tersebut. Orang tersebut sudah jauh berubah, tapi kebencian kita masih mengakar. Stigma kepada orang tersebut tidak berubah. kita masih menjadikan masa lalu sebagai patokan. kita terjebak nostalgia (seperti kata Raisa).

Memang sulit menjadi orang pemaaf. Tapi percayalah maaf membuat hidup kita lebih lapang. Secara praktek memang sulit melakukan ini. Tapi sejarah mencatat orang-orang yang bisa memaafkan perilaku buruk orang lain pada dirinya adalah orang hebat. Memaafkan memang bukan melupakan. Kita bisa saja memaafkan setiap yang orang lakukan tapi tidak untuk melupakan.

Narasi kebencian ini berbahaya jika ada di tiap individu. Kita selalu diliputi rasa curiga, antipati. Pikiran kita tidak jernih melihat tindakan yang dilakukan kepada orang lain. Kita selalu menilai orang lain dari aspek negatif. Kita selalu mereka-reka, mengalisa yang sesungguhnya belum tentu dilakukan orang lain.

Suudzonisme (isme tentang rasa curiga, istilah ini sebetulnya hanya direka-reka saja) dikedepankan sehingga tidak ada ketenangan dalam hidup. Kewaspadaan tentu beda dengan suudzon. Kewaspadaan dibangun oleh kehati-hatian, sedang suudzon dibangun oleh kebencian.

Hidup yang kita jalani akan makin tidak menyenangkan jika pikiran-pikiran diwarnai oleh ketidaksukaan kepada orang lain. Bukankah hidup itu seperti drama. Di mana setiap orang menjalani peran masing-masing agar drama yang dijalani menjadi lebih menarik. Ada tokoh antagonis, protagonis, pemeran utama, dan pembagian peran lainnya. Jika semua memerankan tokoh protagonis drama akan kurang ramai. Anggap saja begitu.

Lelah? Tentu saja hidup itu melelahkan. Tapi bukankah itu yang seringkali menjadi proses pembelajaran? Kita dibenci orang, diolok-olok, direndahkan, dianggap tidak kompeten, dianggap pemalas. Banyak cap atau stigma yang bisa menempel kepada kita. Apa yang perlu kita lakukan? Pembuktian? Bisa saja. Diam saja? Juga bisa. Semua berserah kepada kita. Kita bisa pilih apa yang harus kita lakukan. Apa yang perlu kita sikapi ketika beragam cap hadir menyasar diri kita.

Ada juga kalanya kita menjadi pembenci orang lain. Sikap kita bisa jadi tepat, tapi juga tak tepat. Manusia punya keterbatasan dalam memprediksi apalagi menilai. Kita bisa salah menilai karena keterbatasan-keterbatasan. Makanya jika tak tahu apa-apa lebih baik tak menilai sesuatu, tapi rasa-rasanya sebagai manusia kita tak bisa. Kita cenderung ingin menilai segala sesuatu, bahkan yang belum kita tahu dengan pasti. Tinggal apakah penilaian itu pas atau tidak pas.

Saya masih mencoba menjadi orang yang tak diliputi kebencian akut. Memang berat. Apalagi saat ini sepertinya kecenderungan untuk saling membenci semakin kuat baik atas nama agama, suku bangsa, etnisitas, kelompok kepentingan, orientasi politik, beda pemikiran, beda tempat nongkrong, beda pengajian atau apapun itu. Berat memang. Apalagi setiap saat kebencian itu bisa disebarkan melalui media sosial. Rasa-rasanya hidup dengan banyak informasi tidak selalu menyenangkan. Limpahan informasi seringkali membuat saya limbung. Memilah informasi yang penting memang tak mudah. Apalagi membuang rasa benci kepada sesama. Tugas yang sangat berat.

Rawamangun, 22 Februari 2016

Published by anggiafriansyah

Terlahir dengan nama Anggi Afriansyah, biasa dipanggil Anggi. Sekolah Dasar di SDN Anggrek Cibitung lulus pada tahun 1999; SMP di SMP Negeri 1 Tambun, Bekasi lulus pada tahun 2002; nyantri di Ponpes Cipasung Tasikmalaya sambil Sekolah di MAN Cipasung lulus pada tahun 2005; S1 di Jurusan Ilmu Sosial Politik Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2009, setelah itu melanjutkan S2 di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia lulus pada tahun 2014. Sedikit punya pengalaman organisasi sebagi Bendahara Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Ranting MAN Cipasung, Tasikmalaya (Periode 2003-2004); Kepala Biro Rohani HMJ Ilmu Sosial Politik (Periode 2006-2007); Bergabung di HIMNAS PKn namun tidak terlalu aktif, Kemudian aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) FIS UNJ (2008-2011). Setelah lulus sambil kuliah S2 mendapat kesempatan menjadi Asisten Dosen di Prodi IPS FIS UNJ mengampu Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Politik (2010-2011), dan menjadi Pengajar di Akademi Kebidanan Prima Indonesia, Mengampu Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (2011). Pernah menjadi Tentor di Salemba Grup untuk Persiapan SIMAK UI, Mengajar Sosiologi (2012). Pada tahun 2012 mendapat kesempatan yang luar biasa, menjadi Guru PKn selama dua tahun di SMAI Al Izhar Pondok Labu (2012-2014). Tahun 2014 mengajar Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta, Psikologi Sosial di STKIP Kusuma Negara, dan HAM di Universitas Terbuka. Sesekali terlibat kegiatan penelitian di Kemendikbud mulai tahun 2009. Pada tahun 2014 selama beberapa bulan aktif membantu di Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud. Awal tahun 2015 diterima di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI sebagai peneliti bidang Sosiologi Pendidikan dan terlibat penelitian di bidang Ketenagakerjaan. Sampai saat ini masih berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingin jadi peneliti, penulis, dan pengajar sukses (aamiin). Di Blog ini menulis apapun secara random yang mudah-mudahan bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca. Selamat membaca, Salam Anggi Afriansyah

4 thoughts on “Hidup dengan Kebencian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: