Hati yang Tertambat di Cibinong*

*(Catatan Diklat Fungsional Jabatan Peneliti Tingkat Pertama Gelombang VI)

1170859_10206324398409033_2244767978927164484_n

Catatan ini dibuat untuk mengingat dan tak melupakan…

Diklat Fungsional Jabatan Peneliti Tingkat Pertama Gelombang VI (DJF Tk. I Gel. VI) merupakan salah satu saat yang saya tunggu. Mengapa? Karena ini merupakan pintu masuk bagi seorang peneliti pemerintah. Mau tidak mau, suka tidak suka harus diikuti agar mendapat jenjang fungsional sebagai peneliti.

Selama tiga minggu (17 Maret-6 April 2016) tiga puluh peserta yang berasal dari LIPI, Kementan, Kemenkes, dan Kemdikbud diberikan beragam pembelajaran yang berkaitan dengan penelitian, mulai dari penulisan KTI, perancangan proposal, pengolahan data, dan beragam aspek yang berkaitan dengan hal-hal penelitian. Dikfung ini membuat saya memiliki energi baru untuk menulis dan berkarya. Juga membuka pelajaran, bahwa betapa sangat miskinnya pengetahuan saya di rimba dunia penulisan dan penelitian. Rasanya semakin haus untuk terus belajar. Bertemu dengan sosok-sosok hebat seperti Mas Obing, Mas Alie Humaedi, Bu Mita, Pak Max, Pak Karni, dan Pak Masyhuri juga pengajar lainnya tentu sangat menyenangkan. Sosok hebat yang mau berbagi inspirasi dan pengalaman hebat. Sebagai peneliti pemula saya banyak belajar. Saya banyak belajar khusunya kepada Mas Alie Humaedi, pembimbing penulisan KTI yang sangat telaten membimbing dan menginspirasi—semoga semakin produktif, Mas.

Rasanya ini pelatihan paling mengasyikan yang pernah saya ikuti sampai saat ini. Pembelajaran, diskusi-diskusi hangat dan menyenangankan, sampai praktek penelitian lapangan yang asik membuat diklat selama tiga minggu terasa cepat berakhir. Kata orang, sesuatu yang menyenangkan memang cepat berakhir. Walaupun di sela-sela tiga minggu itu rasa kangen anak-istri tetap saja datang setiap saat. Keceriaan teman-teman sedikit mengurangi rasa kangen.

Di Dikfung ini saya berjumpa orang-orang keren di bidang masing-masing. Sosok-sosok cerdik cendikia yang tak kehilangan rasa humor. Manusia biasa yang ternyata narsis (setiap moment, klik jepret), senang karaoke (suara-suara aduhai tak kalah dengan ajang pencarian bakat), pemain game yang baik (khusus untuk geng P#S) dan pencari kesenangan. Banyak pelajaran yang saya dapat dari pengalaman teman-teman sebagai peneliti dan penulis. Saya yang masih miskin pengalaman menjadi lebih bersemangat untuk mendapatkan banyak ilmu dan pembelajaran dari mereka-mereka. Senangnya, mereka tak segan-segan berbagi banyak hal. Nikmat yang patut terus disyukuri.

Banyak sisi lain yang saya temukan dari teman-teman saya yang keren-keren ini. Walaupun tentu saja, saya tak bisa berkomunikasi secara intens dengan semua teman-teman di dikfung ini. Tapi tiga minggu bersama mereka sangatlah menyenangkan. Moment menyenangkan yang sangat bisa diulang. Semoga bertemu di diklat lanjutan lagi teman-teman.

12592638_10209083449589532_8036801361032065247_n

Kegiatan outbond di awal juga menyenangkan. Tim kami akhirnya mendapatkan juara ketiga (dari tiga tim). Tim kami (tim oren–orang keren) memang tidak ambisius, kurang punya semangat berkompetisi, dan tak terlalu bagus psikomotoriknya. Akhirnya pada pengumuman kami menempati klasmen terbuncit. Tapi apalah artinya peringkat, yang penting kami bahagia, itu sudah sangat cukup.

Sesi pembelajaran di tiap hari pun sangat menyenangkan. Diskusi-diskusi seru terjadi. Mimpi-mimpi rencana penelitian pun mengemuka selama diskusi. Imajinasi-imajinasi agar semua diskusi bisa direalisasikan menjadi penelitian pun menjadi penyemangat.

 Kegiatan selama di asrama pun sangat menyenangkan. Mulai dari belajar dan diskusi di Ruang Belajar (RB), diskusi kehidupan di kamar-kamar, nonton film sambil diskusi, sampai main (dan menonton) permainan sepakbola yang menyenangkan (permainan ini hanya mampu dideskripsikan oleh Kang Ucup, dan tim P#S lainnya). Tiap orang tentu punya preferensi mencari teman yang menyenangkan juga permainan yang menyenangkan. Juga kisah-kisah lain. Ada juga indikasi-indikasi mengarah pada kebahagiaan. Saya berdoa dengan keras agar hal tersebut tak hanya menjadi indikasi-indikasi saja tapi menjadi realisasi (nama tak bisa disebut karena berkaitan dengan kerahasiaan). Semoga kita mendapatkan kabar bahagia dari indikasi-indikasi itu.

12512682_10206508381768502_976601803212430763_n

Saya beruntung bertemu orang-orang hebat seperti mereka. Secara lancang saya berusaha menuliskan impresi saya setelah tiga minggu bersama. Tentu ini perspektif pribadi saja sehingga pendeskripsiannya belum tentu sesuai. (1) Pace Luis (sosok sahabat dari Papua yang sangat bersemangat menyelesaikan KTInya), (2) Anggy (hanya beda I dan Y saja namanya dengan saya, ahli bahasa, peneliti Bahasa yang hampir punah di Indonesia dari P2KK), (3) Mba Maulida (sedang menyelesaikan s2 Kenotariatan di UI tergabung di bidang Hukum Adat P2KK, sedang hamil—semoga sehat-sehat ibu dan bayinyaaa ya Mba Ida..aamiin),  (4) Ranny (biasa disebut Chibi, kakak baik hati, ‘pembaca’ yang keren, lucu, sahabat yang seru banget—mau nikah mei ini—semoga bahagia selalu Chibi sama Arie), (5) Mba Ima (penulis isu-isu minoritas agama, ahli komunikasi antar budaya, pecinta anak dari P2KK, temen satu prajab dari kelas B), (6) Retno (ekonom perbankan, perempuan shalehah dan disiplin, pacar dan calon istrinya bang arif), (7) Vandra (pengolah data keren, jago statistik dan software, pinter banget, murid Pak Max dan penerusnya, deadliner. hehe), (8) Mba Lengga (sahabat terbaik, teman susah, ah makasih atas segala kebaikannya mba, temen pensiun, jago nulis, suaranya ngalahin Lesti, pengalaman conferencenya banyak banget), (9) Mas Puguh (sahabat terbaik, motivator bagi saya untuk menulis KTI dan hal lain berbau akademik, pria baik hati yang akan jadi suami yang baik–suami dunia akhirat, teman berbagi, temen pensiun, skor IELTSnya bikin iri dunia akhirat), (10) Mario (anak pinter yang diem-diem, alumni Indonesia mengajar, sudah lulus LPDP, calon ayah, mindmapnya keren, pangkat IIIA dan notulen abadi di dunia P#S-maafken saya Om Mario), (11) Kang Ucup (ahli IT yang keren dan jago banget, sundanese, penerus bu Siti Zuhro, ahli peneliti utama di kancah P#S, motivator pendobrak untuk Mas Puguh), (12) Pakde Ridho (guru kehidupan, motivator bagi saya untuk terus menulis populer-terima kasih untuk motivasi dan cerita-ceritanya Mas, Tabik), (13) Mba Esty (temen naik Busway dan Commuter Line yang pelupa, ibu yang baik, analis parpol masa depan), (14) Fildzah (sosok cerdas pemberani, dan pinter banget, lucu, tegas dalam prinsip melawan semua opresi bagi rakyak miskin), (15) Agus (sosok pendiam misterius tapi menyenangkan untuk diajak ngobrol, terus semangat Agus, pasti bisa), (16) Fikri (pembawa kehangatan yang lucu, mantan jurnalis Jawa Pos, penggemar Maliq-aan mansyur, calon sastrawan, yang punya sisi lain yang menarik), (17) Angga (teman sekamar, baik, tukang bangunin kalau pagi, rajin banget, usil, mau nikah bulan ini—semoga selalu bahagia, Ga) (18) Firman (paling muda, pinter banget, jago teori, orang paling care bagi sahabat-sahabatnya, perencana hebat, jago Bahasa Jepang, penulis keren),  (19) Mba Elfira (Aktivis ASI, ahli komunikasi dari Pusinov, dan jago nyanyi), (20) Yovi (masih muda tapi PNSnya duluan, ahli hukum dari Pusinov, sosok ceria dan interaktif), (21) Mba Yanti (ramah dan suka tersenyum, baik hati, teman dari PSMTP), (22) Mba Rahmi (ahli power point utama–keren banget mba PPTnya, sosok ceria baik hati tapi mellow abis), (23) Maul (George) (Pemegang otoritas dari foto dan video keren selama dikfung, lucu banget, jatoh-jatohin nametag terbanyak, ahli statistik, mau nikah tahun ini—semoga bahagia maul), (24) Mba Dona (Psikolog masa depan, passionnya sebetulnya mengajar, baik hati dan ramah), (25) Mba Ria (sosok pendiam yang ahli banget rumus-rumus sulit, baik hati dan tidak sombong), (26) Kang Asep  (sosok someah dari Kemenkes, ahli hukum, baik hati dan ramah), (27) Pak Kun (sosok bapak yang baik hati dari Kementan, motivator bagi teman-teman jomblo agar berani mengungkapkan perasaan cinta, punya cerita lucu tentang proses pernikahan yang menginspirasi), dan  (28) Mba Eka (ahli Bahasa dari Balai Bahasa Banjarmasin, Sosok baik hati, pencinta anak, dan mellow karena kangen anak—akhirnya sekarang sudah ketemu anak dan keluarga ya Mba) dan (29) Bu Elya (teman dari Kementan, satu tim outbond, sayangnya sakit menyebabkan bu elya tak bisa mengikuti acara diklat sampai akhir—semoga sukses buuuu).

12928147_10207386605837231_4036634854126259568_n

Momen dikfung memang menyenangkan sekali untuk dialami dan dikenang. Tapi hidup harus terus berjalan, perubahan cepat tak tentu arah dan keajegan harus kita terus hadapi. Hidup yang baik adalah hidup yang memberi banyak pelajaran. Dan saya banyak belajar dari teman-teman sekalian. Saya ucapak terima kasih juga untuk Pusbindiklat LIPI penyelenggara kegiatan Dikfung, khususnya PIC Bu Yetvi dan Pak Alpha–semoga kebaikan selalu menyertai kita semua. Sampai jumpa di saat-saat lain, di waktu-waktu yang lebih membahagiakan. Pepatah arab mengungkap laisal firoq lil firoq walakinal firoq lissauq (perpisahan bukanlah untuk berpisah selamanya, perpisahan adalah untuk menambah rasa rindu di dada), walaupun untuk kami yang berasal dari kedeputian IPSK akan terus bertemu, minimal satu lift atau makan bareng di kantin.

Selamat bekerja kawan-kawan. Sukses selalu. Hati ini akan selalu tertambat pada semua kenangan di Cibinong.

Gatot Subroto yang tenang, 8 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s