Catatan Harian

Selamat Satu Tahun, Abang

lalu pecah tangis bayi seperti kata wiji
disebar biji-biji, disemai menjadi api
selamat datang di samudera, ombak-ombak menerpa
rekah-rekah dan berkahlah
(Putih, Efek Rumah Kaca, 2015)

 (Kebun Raya Bogor, Foto oleh Astuti Triyani, 2016)

18 April adalah salah satu bersejarah bagi keluarga kecil kami. Satu tahun yang lalu, Sabtu,pukul 14.10 WIB, disertai hujan rintik-rintik lahir putra kami tercinta. Kelahiran yang sangat kami nantikan.

Saya bersyukur mampu berdiri di samping istri ketika ia berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan putra mungil kami. Tak salah jika surga di bawah telapak kaki ibu. Perjuangan mengandung sampai melahirkan benar-benar luar biasa berat.

Saya beruntung bisa hadir tepat waktu dan mendampingi istri selama proses persalinan. Satu minggu sebelumnya saya harus tugas di Batam selama satu minggu. Saya berani berangkat karena dokter memperkirakan proses kelahiran terjadi di akhir April. Tapi ternyata Allah punya rencana lain, istri saya melahirkan dua minggu lebih cepat.

Jumat siang, setelah satu minggu menginap di Bogor, istri saya kembali ke Jakarta untuk cek ke dokter. Didampingi mama ia ke dokter, perkiraan lahir tetap akhir April. Ia menelpon dan mengajak saya ke rumah sakit besoknya agar kami mulai mengecek kamar dan membookingnya. Rencananya sabtu siang saya akan kembali ke Jakarta.

Jumat malam saya masih harus diskusi dengan beberapa informan. Selepas magrib ia kirim pesan, sakit perut. Saya khawatir. Tapi hape ternyata mati. Sehinga saya tak mendapat kabar apa-apa. Sudah mulai cemas. Jam sebelas kami baru pulang ke hotel. Saya mencoba menghubungi, tapi sulit sekali. Sampai mama saya yang mengangkat dan bilang mohon didoakan agar proses kelahiran lancar. Istri saya sudah di rumah sakit. Dan mulailah kepanikan menerpa. Saya langsung mencari-cari tiket ke Jakarta.

Setelah cari sana-sini dapatlah tiket pulang ke Jakarta. Dibantu oleh sahabat terbaik yang sudah kami anggap saudara, Astuti (semoga Allah selalu memberikan keberkahan. aamiin), saya pun akhirnya bisa dapat tiket. Saya pun langsung kontak resepsionis hotel agar dipesankan taksi ke bandara jam 5 pagi. Juga mengabari anggota tim, bahwa saya akan pulang lebih awal. Saya tidak bisa tidur.

Drama ternyata tak berhenti. Jam 5, supir taksi sudah menunggu. Dia memastikan nama saya. Saya menyebutkan nama, anggi, hendak ke bandara. Dia menimpali, oke pak, saya taksi yang bapak pesan. Dia pun mengangkut koper saya. Batam jam 5 pagi tidak seramai Jakarta. Jarak ke bandara memang tak jauh, tapi jalan masih gelap gulita dan sepi sekali. Arah ke bandara masih sangat sepi. Kendaraan masih sangat jarang bahkan tak ada. Kanan kiri tak ada pemukiman. Di tengah jalan, tiba-tiba supir taksi tersebut memberhentikan mobilnya. Gerak geriknya mencurigakan. Beberapa kali melirik ke hapenya. Kemudian ia mengangkat telponnya. Sesuatu yang bagi saya mencurigakan. Saya bersiaga, khawatir hal buruk terjadi. Imajinasi liar berkecamuk. Jangan-jangan nyawa saya habis di sini. Di saat anak saya akan lahir.

Taksi yang saya tumpangi merupakan taksi yang paling populer Di Indonesia sampai saat ini (sebut saja taksi burung b#ru). Tapi masalahnya selama seminggu saya tak pernah melihat taksi ini (ternyata ketika saya kembali ke Batam, taksi ini memang sudah ada, tapi harus pesan dan jarang lalu lalang sehingga saya tak pernah melihatnya). Mungkin tak terlalu memperhatikan. Yang mencurigakan adalah ketika dia menggunakan hape bukan HT yang menempel di taksi. Saya curiga dia menelpon teman lain yang bisa datang kapan saja datang untuk berbuat jahat (efek kebanyakan nonton film dan berita perampokan). Saya sudah siap berkelahi (hehehe).

Dia bilang, maaf pak, saya salah ambil penumpang. Penumpang yang memesan sudah menunggu di Lobby hotel. Ternyata nama penumpang yang sudah memesan taksinya Andri (salah sendiri, saya bialng Anggi, iya iya saja). Awalnya saya tak percaya. Saya belagak berani tentu sambil tetap waspada. Kalaupun kenapa-kenapa, saya harus berusaha mempertahankan diri. Saya bilang, pak, hari ini saya ditunggu istri di Jakarta, Bandara tinggal sedikit lagi (padahal saya tak yakin berapa lama lagi ke bandara), istri saya akan melahirkan anak pertama kami. Kalau saya tidak tepat waktu bisa ketinggalan pesawat dan kehilangan momen kelahiran anak pertama kami. Suara saya meninggi, agak marah (padahal dalam hati terus merapal doa keselamatan). Pada saat saya bicara, dia sudah siap belok kembali ke arah jalan hotel. Dia takut, dia bilang, saya bisa dimarahi kantor dan taksi yang harusnya jemput Bapak. Nadanya jujur. Dari sini saya baru yakin dia benar-benar salah angkut. Saya bilang, pak, kalau ada apa-apa biar saya yang jamin (padahal saya tidak tahu resepsionis pesankan taksi dari armada mana). Awalnya dia ragu, tapi saya memohon agar tetap diantar ke Bandara. Dia pun tak berkata apa-apa dan kemudian melanjutkan ke bandara.

Saya tiba lebih awal dari jadwal ke berangkatan (terima kasih mas supir taksi). Bandara masih sepi dan gelap. Gate pun baru mulai dibuka beberapa menit kemudian. Saya tetap gelisah. Terus mengontak keluarga mengenai kabar istri. Setelah terbang dengan gelisah. Jam sembilan pagi saya tiba di Rumah Sakit Islam di bilangan Cempaka Putih (sebut saja Rumah Sakit Islam Jakarta).

Istri saya ternyata masih belum juga melahirkan. Saya semakin cemas. Dia beberapa kali bilang ingin disesar saja. Saya bilang, pasti bisa melahirkan normal. Dokter pun bilang demikian. Bergantian dengan dua mama tangguh, saya menemani istri. Sampai jam satu, sang bayi masih belum mau keluar. Istri saya terus mengungkapkan rasa sakitnya. Saya hanya bisa mensupport dan mendoakan di sisinya. Jam dua kurang lima belas dokter sudah bersiap, saya sudah di samping istri. Sambil dipegang keraaaas sekali, sesekali mencakar, berteriak sambil berdzikir,  dan menarik baju (hehehe) saya berusaha tegar. Susah sekali tegar di saat tegang. Saya baru sadar. Betapa berat tugas ibu. Betapa malu kalau kita durhaka kepadanya.

Sambil terus bilang ayo semangat, pasti bisa, bismillah, ayo de, jangan menyerah, sedikit lagi, (diulang-ulang, bingung mau berkata apalagi, hehe) juga diiringi dengan rapalan beragam doa saya terus memegang tangan dan mengusap dahi. Adegan selama proses kelahiran ini sangat monumental bagi saya. Ketika saya mulai melihat bagian kepala (rambut) anak saya, teriakan penyemangat pun semakin kencang. Tak ada rasa malu, padahal ada dokter, dokter koas dan perawat,hehehe (pokoknya sangat ekspresif seperti menonton bola). Merekapun berteriak kencang menyemangati. Rasa haru mulai menyelimuti. Tak lama lahir lah anak kami. Ia menangis keras sekali. Oleh dokter langsung diberikan ke ibunya untuk diinisasi menyusui.

Seluruh rasa bergejolak, senang bercampur haru. Menyaksikan kelahiran anak adalah keharuan tersendiri. Saya menyaksikan ia dibersihkan, diberi pakaian, disisiri (ala-ala mohawk, hehe) dan dihangatkan (saya terus mengawal, karena parno inget sinetron-sinetron anak yang tertukar, naudzubillah, hehe). Kemudian saya mengadzani dan mengiqomatkan. Rasanya itu adzan dan iqomat paling mengharukan bagi saya. Adzan dan Iqomat di telinga mungilnya. Sama seperti orang tua lainnya, bagi kami, ia lelaki paling tampan sejagat raya.

 (RSIJ Cempaka Putih, Dokumentasi Pribadi, 2015)

Saya berterima kasih kepada Dokter Aranda. Dokter paling cool yang pernah saya temui. Sangat irit berbicara, memberikan rasa nyaman ketika konsultasi. Ia mengawal proses kehamilan anak pertama kami. Tak pernah menakut-nakuti, selalu mensugesti positif dan lahir normal, tak lebay melarang ini dan itu, partner diskusi yang hangat walaupun irit bicara. Sampai saat terakhir membantu proses kelahiran, ia memberikan ketenangan dan keteduhan. Dibalik kekalemannya, ternyata ia sangat tegas dan cepat saat memberikan instruksi ketika persalinan. Semoga Allah memberikan kebaikan dan keberkahan yang terus menerus Dok.

18 April ini anak kami berusia satu tahun. Hari lahirnya hanya selisih satu hari dengan hari lahir saya. Ibunya bilang, ini menyenangkan dan irit karena hanya butuh beli satu kue ulang tahun, hehehe. Yang jelas, usaha dan doa terbaiklah yang kami selalu tujukan untuknya. Perjuangan untuk jadi orang tua memang tak mudah. Salut saya untuk bapak mamah juga papa mama. Bagi kami berdua, mereka adalah role model terbaik. Cinta kasih yang mereka berikan tak pernah lekang oleh zaman, bahkan sampai saat ini. Cinta orang tua memang tak pernah kadaluarsa. Mereka merefleksikan cinta tersebut dengan caranya masing-masing. Cinta orang tua memang tak mudah dipahami oleh anaknya. Saya kadang baru memahami setelah menikah dan punya anak. Betapa terlambatnya saya.

Doa kami, semoga abang, selalu sehat dan bahagia. Mencapai apa yang dicita-citakan. Menjadi diri sendiri, menjadi sebaik-baiknya manusia, seperti pesan Rasulullah, khoirunnas anfauhum linnas. Juga seperti kata-kata Kartini, “nilai manusia tetap terletak pada amalnya, pada sesamanya” (Panggil Aku Kartini, Pramoedya Ananta Toer). Dan, Ananda dewasalah dengan cara yang kau percaya, sempurna hanya dipegang, peluk aku saat kau ragu, slama ku masih di dunia bernafas di dunia (Maliq & D’essentials). Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana dikasihi (Kahlil Gibran). Selamat satu tahun, Abang. Rekah-rekah dan berkahlah (Efek Rumah Kaca, 2015).

Cirangkong, Bogor Barat yang Hujan dan Damai, 17 April 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s